INDONESIA MOVIE REVIEW

PARASITE (2019)

IMR 088
Peraih Palm d’Or Festival Cannes 2019
PARASITE
Ulasan : Yan Widjaya
Nilai IMR & AMR : Oleh Komite IMR

IMR 088
Peraih Palm d’Or Festival Cannes 2019
PARASITE
Ulasan : Yan Widjaya
Nilai IMR & AMR : Oleh Komite IMR

9

IMR

9

IMR

9

AMR

9

AMR

Share on facebook
Share on google
Share on twitter

LSF : 17+

Durasi : 90 Menit

Tayang : 24 Juni 2019

Genre : Drama-Thriller

Para Pemain : Song Kang-ho, Lee Sun-kyun, Jo Yeo-jeong, Choi Woo-sik, Jang Hye-jin, Park So-dam, Jung Hyeon-jun, Lee Jeong-sun

DOP : Hong Kyung-pyo

Skenario : Jin Won-han

Cerita : Bong Joon-ho

Sutradara : Bong Joon-ho

Produser : Bong Joon-ho, Jang Young-Hwan, Moon Yang-kwon, Kwan Sin-ae

Produksi : CJ Entertainment

SEOUL, masa kini. Keluarga Kim terdiri atas ayah Kim Ki-taek, ibu Chung-sook, anak lelaki Kim Ki-woo, dan anak perempuan Kim Ki-jung. Semuanya pengangguran, tanpa pekerjaan tetap, paling magang menjadi pengantar pizza. Tinggal berdesakan di ruang bawah tanah yang pengap. Jelas miskin, toh tetap sombong…

Nasib baik tak terduga terjadi ketika Ki-woo diminta teman semasa kuliah, Min (ya, Ki-woo pernah juga jadi mahasiswa pintar kendati kemudian d-D.O) agar menggantikannya jadi guru les bahasa Inggris pada Park Da-hye, praremaja puteri keluarga kaya Mr. Park. Min harus melanjutkan kuliah ke luar negeri. Jujur Min mengatakan pada Ki-woo, “Aku ingin menikahi Da-hye, kelak setelah diad dewasa dan aku balik ke Korea.”

Ki-woo memang fasih berbahasa Inggris, ia menerima tugas ini, datang ke rumah besar Mr. Park yang luas halamannya. Ny. Park puas melihat caranya mengajar puterinya. Ki-woo melihat adik lelaki Da-hye, Da-song, yang masih bocah gemar mencorat-coret tembok, menawarkan kalau Da-song mau dididik kenalannya, Jessica, mahasiswi seni rupa. Bukan lain daripada adiknya sendiri, Ki-jung. Diterima juga dan mengajar dengan baik. Bahkan Mr. Park menugasi sopir pribadinya untuk mengantar Ki-jung pulang. Kesempatan ini digunakan si gadis yang duduk di bangku belakang untuk melorot celana dalamnya dan menyelipkannya ke balik jok.

Berikutnya giliran Ki-taek menggantikan sopir muda yang dipecat karena difitnah tak senonoh. Ki-taek memang sopir tua yang hati-hati dalam mengemudi. Tinggal si PRT setia Moon-gwang yang mesti disingkirkan. Difitnah mengidap TBC hingga berbahaya bagi Da-song. Masuklah sang ibu, Chung-sook, sebagai PRT baru yang melakukan semua tugas dengan sangat baik.

Dua keluarga; Kim dan Park, masing-masing terdiri dari empat orang, berbeda kelas. Yang pertama kelas bawah, melarat, tapi banyak akal-muslihat, yang kedua kelas atas, intelek, kaya-raya, tapi seperti gampang dikibuli. Dan ini baru setengah cerita film, karena banyak kejutan akan terjadi di paro akhir termasuk rahasia demi rahasia, kematian demi kematian, serta pembunuhan demi pembunuhan…

BAU                   

Beberapa tahun yang lalu terjadi kasus pembunuhan yang menggemparkan Jakarta. Terjadinya di kawasan rumah kos di Tebet. Korban seorang PSK muda dan tentu saja cantik. Pelaku seorang pelanggannya sendiri yang tega mencekiknya sampai tewas setelah menidurinya. Pelaku berhasil diringkus polisi dalam tempo relatif singkat. Apa motivasi pembunuhan? “Karena dia bilang badan saya bau, jadi saya sangat tersinggung,” aku pelaku.

Nah, inti film ini pun nyaris sama dengan kasus tersebut. Bau tubuh orang kaya yang berparfum wangi semerbak, tentu berbeda jauh dengan bau badan orang miskin yang mirip bau got, pecomberan. Sudah jarang mandi, pakaiannya pun tak dicuci dengan pelembut, disimpan dalam lemari apek. Petunjuk sudah diberikan saat si bocah Da-song mengendus bau yang sama antara pakaian guru lesnya dengan pakaian sopir ayahnya. Ditambah Ki-taek dan isterinya yang mengumpat di kolong sofa, sangat tersinggung mendengar obrolan antara Mr. Park dan isterinya tentang bau badan orang-orang rendahan.

Hakekatnya berdasarkan masalah inilah maka film yang semula bernuansa komedi getir (black comedy) mendadak berubah haluan menjadi thriller yang tegang dan bersimbah darah! Disinilah letak kelihaian sutradara Bong Joon-ho dalam membuat twist hingga meraih Palm d’Or, penghargaan tertinggi dalam Festival Film Cannes yang berlangsung bulan Mei 2019 kemarin,

Bong baru berusia 49, tapi sudah diakui punya reputasi internasional sebagai sutradara sekaligus penulis skenario handal dengan tujuh film garapannya, dari Barking Dogs Never Bite (2000), munculnya monster sensasionil di sungai Mekong, The Host (2006), Mother (2009), Snowpiercer (2013), sampai persahabatan seorang lelaki dengan binatang ajaib, Okja (2017). Walau filmnya terkadang terasa aneh, lain dari yang lain, fantasi, namun tetap manusiawi dan membumi. Semuanya merupakan film-film bermutu tinggi yang laris bukan hanya di Korea Selatan, tapi juga menembus pasar dunia.

Untuk mencegah ketelanjuran membocorkan (spoiler), sebaiknya memang Parasite disaksikan langsung di bioskop, hingga tidak mengurangi surprise, daya kejutan mengasyikkan pada adegan-adegan yang terpapar di paro film ke belakang…

Indonesia Movie Rating

4 : Terserah
5 : Biasa Saja
6 : Cukup
7 : Lumayan
8 : Menarik
9 : Bagus
10 : Luar Biasa

Anjuran Menonton Rating

4 : Membuang Waktu dan Uang
5 : Tunggu, tak Perlu Ditonton
6 : Boleh Nonton kalau ada Waktu
7 : Memenuhi Syarat Tontonan
8 : Asyik sebagai Hiburan
9 : Direkomendasikan untuk Ditonton
10 : Jangan Lewatkan!