Benarkah Anak yang Lahir Caesar Berisiko Lebih Tinggi Terkena Alergi? | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Benarkah Anak yang Lahir Caesar Berisiko Lebih Tinggi Terkena Alergi?

Ceknricek.com -- Anak yang lahir dengan Sectio Caesaria (SC) atau Operasi Caesar memiliki risiko penyakit alergi. Benarkah anggapan tersebut?

Konsultan Alergi dan Imunologi Anak, Prof. Budi Setiabudiawan menjelaskan bahwa anak yang lahir dengan Operasi Caesar (SC) memang berisiko lebih tinggi terkena alergi dibandingkan  mereka yang lahir secara normal.

"Karena kalau dia lahir secara caesar, perkembangan mikrobiota normal di usus akan terlambat, tidak akan optimal sehingga terjadi perubahan pada sistem imun anak dan berisiko timbul di kemudian hari," kata dia dalam virtual gathering, dilansir dari Antara.

Sementara jika anak lahir melalui proses normal atau melalui vaginal, saluran cernanya lebih optimal sehingga risiko terkena alergi lebih rendah.

"Jadi kalau lahir secara normal lewat vaginal akan terjadi mikrobiotik dalam saluran cerna anak akan lebih optimal sehingga risiko alergi akan lebih rendah," tutur Budi.

Risiko anak terkena alergi juga bisa karena sebab lain, salah satunya riwayat alergi satu atau kedua orang tua. Jika kedua orang tua memiliki riwayat alergi maka berisiko membuat anak mereka 40-60 persen terkena alergi.

Baca juga: Studi Sebut Vitamin K dalam Bayam, Telur dan Keju Bantu Cegah Covid-19

Risiko akan meningkat menjadi 60-80 persen jika orang tua memiliki manifestasi yang sama. Bila hanya salah satu orang tua yang memiliki riwayat alergi, maka risiko anak terkena alergi sekitar 20-40 persen.

Risiko anak terkena alergi masih tetap ada yakni 5-15 persen bahkan jika orang tua tak memiliki riwayat alergi.

"Apabila dikenali dini, ditangani dini akan optimal tata laksana, sehingga tidak berlanjut ke penyakit seperti eksim, asma, rhinitis alergi. Kalau terlambat diagnosa, akan muncul dampak-dampak disebabkan penyakit alergi, dari sisi kesehatan misalnya meningkatkan risiko penyakit degeneratif seperti obesitas, hipertensi dan sakit jantung," papar Budi.

Faktor risiko lainnya paparan asap rokok, polutan lingkungan, kurangnya paparan sinar matahari, pengenalan makanan padat yang tertunda, defisiensi vitamin D hingga diet rendah n-3 PUFA, antioksidan dan serat.

BACA JUGA: Cek FILM & MUSIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait