Foto: Setkab

Presiden Minta Rivalitas Diubah Jadi Kerja Sama di Kawasan Indo-Pasifik

Ceknricek.com -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, kerja sama yang selama ini dilakukan kawasan Asia Tenggara (ASEAN) dengan Republik Rakyat China (RRC) merupakan lokomotif bagi terciptanya perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan kawasan.

“Dalam kaitan ini, Presiden mengatakan bahwa melalui outlook ASEAN mengenai Indo-Pasifik maka Indonesia ingin mendorong kolaborasi menjadikan rivalitas, menjadi kerja sama. Kita juga ingin menyebarkan perdamaian dan stabilitas di dalam konteks yang lebih besar, di dalam kawasan yang lebih besar yaitu kawasan Indo-Pasifik,” kata Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mengutip pidato Presiden Jokowi dalam KTT ASEAN-RRC, di Bangkok, Thailand, Minggu (3/11).

Presiden, lanjut Menlu, sekali lagi menyampaikan mengenai rencana Indonesia untuk menjadi tuan rumah Indo-Pacific Infrastructure Connectivity Forum, tahun depan, yang tentunya ini terbuka bagi kerja sama dengan China. “Presiden juga mengatakan bahwa sinergi antara Master Plan of ASEAN on Connectivity tahun 2025, dan Belt and Road Initiative adalah merupakan suatu keniscayaan,” jelas Menlu.

Dalam KTT ASEAN--RRT itu, menurut Menlu, Presiden juga menyoroti mengenai masalah pentingnya strategic trust. “Presiden mengatakan bahwa strategic trust ini sangat penting untuk menjaga stabilitas dan perdamaian, termasuk di dalamnya adalah di Laut Cina Selatan,” kata Menlu.

Baca Juga: Bertemu Presiden Jokowi, PM India Janji Berlaku Adil untuk Sawit Indonesia

Menurut Menlu Retno Marsudi, Presiden menekankan mengenai pentingnya dihormati hukum internasional termasuk UNCLOS 1982 dan juga memperhatikan adanya kemajuan yang ada di dalam negosiasi code of conduct. “Presiden ingin agar sentimen positif yang tercipta di dalam meja perundingan melalui first reading negosiasi untuk Code Of Conduct (COC) ini juga tercermin di situasi lapangan berarti situasi di Laut Cina Selatan,” terang Menlu.

Mitra Besar

Mengenai suara negara-negara ASEAN lainnya, Menlu menjelaskan, beberapa isu yang disampaikan antara lain tentunya Laut Cina Selatan dengan tekanan bahwa ada COC yang sedang dinegosiasikan dan hampir semua negara menyampaikan mengenai pentingnya untuk menghormati hukum internasional termasuk untuk United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS).

Kemudian, negara anggota juga menyadari dan menyampaikan bahwa China merupakan mitra besar perdagangan ASEAN, dan dari pihak China juga menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat perdagangan yang terbuka dengan ASEAN. Selain itu, negara-negara anggota ASEAN juga menyampaikan mengenai keamanan maritim dan juga ancaman kejahatan lintas batas.

“Jadi, dari China menyoroti tiga hal. Di pilar politik, sorotannya adalah mengenai proses negosiasi di dalam konteks COC yang sedang dilakukan. Di pilar ekonomi menyoroti mengenai masalah kemitraan perdagangan, kemitraan ekonomi dan mengenai pasar yang terbuka,” kata Retno Marsudi.

"Sementara di pilar ketiga mengenai people to people contact, menyebutkan mengenai bagaimana upaya kedua belah pihak untuk mendekatkan hubungan antara manusia, termasuk di antaranya adalah mengenai masalah pertukaran pelajar melalui beasiswa," tambah Menlu.

Menurut catatan Menlu, pada tahun lalu, misalnya, terdapat 57 juta manusia yang saling berkunjung antara ASEAN dengan China Dalam KTT ASEAN RRC itu. 

BACA JUGA: Cek POLITIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: ThomasRizal


Berita Terkait