Sumber: AFP

Benang Kusut Brexit yang Tak Kunjung Terurai

Ceknricek.com -- Inggris memasuki hari negosiasi penting lain, Selasa (8/10), untuk mencapai kesepakatan dengan Uni Eropa (UE) tiga minggu sebelum 31 Oktober. Tanggal tersebut merupakan batas waktu dimana Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, telah berjanji untuk menarik Inggris keluar dari UE (British Exit atau Brexit) dengan atau tanpa kesepakatan.

Sebelumnya, Senin (7/10), kepala pejabat Brexit dari Inggris, David Frost berada di Brussels sedangkan menteri Brexit, Steve Barclay mengunjungi Belanda dalam upaya menggalang dukungan untuk proposal Johnson. Dalam proposal yang diajukan ke Uni Eropa pekan lalu, Johnson mengajukan cara bagaimana mengelola perbatasan Irlandia Utara dan Irlandia pasca-Brexit.

Sumber: AFP

Dalam proposal teranyar, Johnson menginginkan majelis yang didelegasikan Irlandia Utara yang telah ditangguhkan selama hampir tiga tahun, untuk memberikan suara setiap empat tahun tentang apakah akan mempertahankan Uni Eropa daripada peraturan Inggris di sana. Dia juga mengusulkan provinsi itu meninggalkan serikat pabean Uni Eropa bersama dengan seluruh Inggris, tetapi tetap menjadi pasar tunggal untuk barang.

Irlandia Utara

Masalah Irlandia Utara memang menjadi benang kusut dalam perjanjian ini. Jalan buntu terkait Irlandia Utara ini juga yang membuat Perdana Menteri Inggris sebelumnya, Theresa May mengundurkan diri pada Mei lalu.

Terkait proposal teranyar ini, Menteri Keuangan Irlandia, Paschal Donohoe bersiap untuk menyatakan ketidaksepakatan dengan rencana tersebut. Seperti dilansir dari Euronews, proposal tersebut dianggap akan mengisolasi negara jika Inggris meninggalkan Uni Eropa. Sebanyak 80.000 pekerja di Irlandia terancam jika Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan. Para pelaku bisnis berharap akan intervensi pemerintah agar mencegah ekonomi ke pusaran krisis.

Sumber: AFP

Pada hari Minggu (6/10), Presiden Perancis, Emmanuel Macron telah bertelepon dengan Johnson dan menyatakan bahwa UE ingin segera menentukan apakah kesepakatan Inggris dengan Uni Eropa bisa diwujudkan. UE rencananya akan membahas hal tersebut jelang pertemuan penting Dewan Eropa, 17-18 Oktober mendatang.

Johnson sendiri disebut-sebut masih kukuh dengan tenggat waktu Brexit, yakni 31 Oktober, baik dengan kesepakatan maupun tidak dengan Uni Eropa. "Jangan berharap Inggris akan tetap berada di Uni Eropa setelah 31 Oktober," kata Johnson kepada Macron seperti diakui juru bicara Downing Street.

Baca Juga: Boris Johnson Desak Uni Eropa Rundingkan Kembali Kesepakatan Brexit

Perdana menteri dan pemimpin dari Partai Konservatif itu menyatakan tidak akan ada penundaan Brexit, meskipun parlemen Inggris telah membuat undang-undang yang secara efektif mewajibkan perdana menteri memperpanjang tenggat waktu jika tidak ada kesepakatan yang disepakati dengan UE.

Sama-sama Keras

Baik Johnson dan kepala negosiator Uni Eropa, Michel Barnier sama-sama keras dalam mempertahankan posisi negosiasinya. Barnier menyebut tidak akan ada jalan keluar yang bisa tercapai kecuali Inggris mengubah posisi mereka terkait Irlandia Utara.

“Brexit tanpa kesepakatan (No Deal) akan selalu menjadi pilihan Inggris, bukan pilihan kita," katanya seperti dilansir Euronews, Selasa (8/10). Kedua tokoh sentral ini dianggap saling menyalahkan, dimana Inggris menuding UE kurang fleksibel, begitu pula dengan sebaliknya.

Johnson menilai bahwa pemeriksaan perbatasan pabean perlu dilakukan di wilayah Irlandia, sementara Irlandia yang didukung oleh UE menginginkan hal sebaliknya. Uni Eropa meyakini pemeriksaan perbatasan yang ketat justru berisiko besar untuk kelancaran ekonomi Irlandia.

Sementara itu, Brussel menegaskan rencana alternatif apa pun yang ditawarkan harus sama kredibel dan dapat ditegakkan secara hukum. Dalam perjanjian penarikan diri dari Uni Eropa yang dinegosiasikan, Inggris tetap berada dalam serikat pabean dengan UE jika solusi alternatif tidak ditemukan.

Perdana Menteri Johnson telah mengklaim bahwa rencananya akan mendapat dukungan dari parlemen, meski faktanya parlemen juga sempat menolak paket kesepakatan sebanyak tiga kali. Hal ini yang membuat posisi daya tawar Inggris disebu-sebut lemah, lantaran Inggris dianggap lebih banyak bernegosiasi dengan dirinya sendiri daripada dengan Uni Eropa.

BACA JUGA: Cek FILM & MUSIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait