Bom Bunuh Diri: Dilarang Allah SWT, Bukan Jihad | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Bom Bunuh Diri: Dilarang Allah SWT, Bukan Jihad

Ceknricek.com -- Bila ada pihak tertentu yang menyatakan pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, Minggu, 28 Maret 2021, adalah "orang yang melaksanakan jihad", maka itu salah besar. Allah SWT secara tegas melarang tindakan bunuh diri.

Larangan itu disebutkan, "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS An Nisa: 29-30).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Ad-Dahak disebutkan, “Barangsiapa terjun dari sebuah bukit untuk menewaskan dirinya maka kelak ia akan masuk neraka dalam keadaan terlempar jasadnya. Ia kekal dalam neraka selama-lamanya.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan, “Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan diadzab dengan itu di neraka Jahannam. Artinya seseorang yang bunuh diri pasti akan masuk neraka Jahannam.”

Allah Ta'ala berfirman, "Barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) org lain, atau bukan karena membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya." (QS Al-Maidah: 32).

Dengan demikian sangat jelas bahwa bunuh diri dilarang dan bertentangan dengan ajaran agama islam. "Tidak ada satu pun perintah" untuk jihad dengan bom bunuh diri atau mendirikan sebuah negara dengan kekerasan, pembunuhan dan teror.

Karena itu, benar-benar sesat jika pelaku bom bunuh diri dianggap sebagai orang yang berjihad di jalan Allah dan akan masuk surga. Ajaran sesat itu sering meracuni kaum muda yang sangat sedikit memahami ilmu dan amalan agamanya. Talha Asmal, remaja anak imigran berumur 17 tahun, adalah salah satunya. Dia remaja Inggris paling muda yang menjadi pelaku bom bunuh diri.

Pada peristiwa bom bunuh diri di Makassar itu, dua pelaku (pria dan perempuan) tewas dan 20 orang luka-luka, yang kemudian dirawat di sejumlah rumah sakit. Sepeda motor yang digunakan pelaku rusak berat. Dua pelaku adalah suami isteri, L (26 th) dan YSF. Keduanya berjualan makanan.

Yang perlu diwaspadai adalah kemungkinan kejadian di Makassar itu "dipelintir dan menjadi amunisi baru" untuk kembali "membidik" dan menyudutkan umat Islam. Mereka yang tidak ingin umat Islam terlibat lebih intens dalam mengurus negeri ini, bukan mustahil, akan "menggoreng" peristiwa tersebut untuk menghangatkan lagi Islamophobia.

Gangguan Jiwa

Ketika seseorang menghadapi suatu masalah, pemilik akal sehat tentu akan setuju bahwa bunuh diri bukanlah solusinya. Bunuh diri hanyalah bentuk lari dari permasalahan. Bahkan justru ia akan menambah permasalahan baru bagi orang yang ditinggalkannya.

Sudah terbukti bahwa mood atau suasana hati seseorang berpengaruh besar pada tindakan bunuh diri. Studi yang dilakukan oleh Dr. Ganshiyam Pande dan timnya dari Universitas Illinois, AS, menunjukkan aktivitas enzim di dalam pikiran seseorang bisa mempengaruhi mood yang memicu keinginan untuk bunuh diri. Ditemukan bahwa aktivitas protein kinase C pada otak pelaku bunuh diri lebih rendah dibanding mereka yang meninggal bukan karena bunuh diri.

Hampir 90% individu yang bunuh diri dan usaha bunuh diri berkemungkinan mengalami gangguan jiwa. Gangguan mental yang sering mereka alami adalah depresi. Separuh penderita bipolar mencoba bunuh diri dan satu dari 5 "sukses" bunuh diri.

Pecandu alkohol dan narkoba juga berpotensi untuk bunuh diri. Penyebab lainnya adalah kesulitan ekonomi yang berat, sakit yang tak kunjung sembuh, keluarga broken home dan perasaan sebagai orang yang tak berharga dan tidak berguna.

Sebenarnya tidak gampang bagi seseorang untuk bunuh diri. Ini terbukti dengan munculnya gejala ambivalensi dalam bunuh diri: selalu terjadi keraguan antara melaksanakan atau membatalkan niat bunuh diri. Niat untuk bunuh diri lebih banyak pada laki-laki tetapi justru perempuanlah yang lebih banyak melakukannya. Di negara maju seperti AS, puncak rawan bunuh terjadi pada umur 24 dan 44 tahun. 


Editor: Prasetyo Agung G


Berita Terkait