Cerita Ipang Wahid Jadi Petani Dimasa Pandemi | Cek&Ricek
Sumber: Istimewa

Cerita Ipang Wahid Jadi Petani Dimasa Pandemi

Ceknricek.com--Irfan Asy'ari Sudirman Wahid (51) atau akrab disapa Ipang Wahid, putra almarhum KH. Salahuddin Wahid, memilih fokus jadi petani dimasa pandemi. Kini 2 kali seminggu ia meninjau lahannya di Desa Kopo, Cisarua, Bogor. Menikmati matahari. Melihat hijaunya sayuran dan ikan yang dipelihara. Ia semakin betah, karena di lahan itu dibuka fasilitas nursery udang galah.

”Saya ingin tunjukan juga kalau kita bisa ngurusi lobster. Siapa bilang kita nggak bisa budidaya lobster,”ujar Ipang.

Menariknya, ia banyak merekrut tenaga milenial untuk mengurusi pertanian dengan nama metode Aquagricultur itu. Ipang mengaku ingin membuktikan kalau anak muda sekarang juga mau jadi petani.

“Harus dirubah metodenya. Karena kalau mereka disuruh garap sawah, ya nggak bakal mau. Karena teknologinya sudah jadul,”katanya, saat dihubungi Jumat (27/11/20).

Pada Ceknricek.com, Ketua Kelompok Kerja Industri Kreatif KEIN ini banyak mengupas bisnis barunya, termasuk rencana ke depan ingin menjadikan pesantren sebagai basis Aquagricultur. Berikut petikan wawancaranya:

Apa beda Aquagriculture dengan Aquaponik dan Hidroponik?

Oke, kalau ini namanya Aquagriculture. Jadi bukan Aquaponik atau Hidroponik. Bedanya kalau Hidroponik masih pakai bahan kimia. Artinya, Kimia A dan Kimia B jadi satu, untuk nutrisi tanaman sayurnya. Kalau Aquaponik, ikan yang dipiara kotorannya dipakai sebagai pupuk.Jadi cuma ikan dan sayuran yang dipelihara.

Foto: Istimewa

Aquagriculture lebih komplek. Jadi dari ikan, kotorannya dipakai untuk sayur, di bawahnya untuk budidaya udang galah. Di bawah udang galah ada kerang mutiara air tawar. Metode ini  intinya adalah optimalisasi lahan dengan komoditas yang maksimal.

Apakah ada pengaturan jadwal panen?

Kalau soal panen,  tiap 27 hari bisa panen sayur,selada merah, selada hijau, bayam merah, dan bayam hijau. Pokoknya yang nilai jualnya tinggi. Kalau ikannya, yaitu ikan nila merah tiap 3 bulan sekali panen. Udang galah tiap 3,5 bulan sampai 4 bulan kita panen. Sementara kerang yang kita suntik mutiara air tawar, 14 bulan sekali.Tapi kerang itu utamanya bukan konsumsi ya? Cuma untuk diambil mutiaranya.

Alhamdulilah kemarin sudah panen sayur. Panen ikan mudah-mudahan tanggal 11 Desember. Kalau  sayur ini siklusnya kita atur supaya dua hari sekali panen. Karena itu ada di atas udang posisinya.Satu bak bisa menghasilkan 30 kg sayuran.

Ke mana biasanya hasil produksi  dipasarkan?

Jaringan pemasaran ada satu orang pengepul. Dia punya perusahaan juga. Distributor. Jadi setiap kali panen kirim ke dia, dia yang jualin. Kalau ikan dan udang ada juga satu orang pengepulnya. Karena orientasinya bisnis, saya maunya harga yang pasti saja. Nggak fluktuatif. Makanya ke satu orang.

Foto: Istimewa

Bagaimana ceritanya Anda bisa terjun ke pertanian?

Ceritanya, tadinya bidang saya khan industri kreatif. Konsultan komunikasi. Terus ditugasi pak presiden mengurus destinasi wisata. Cuma khan pariwisata ini sektor yang paling terkena imbas pandemi covid. Nah,  pertanian itu justru sektor yang paling menguntungkan. Data BPS-nya khan 16,2 % itu paling tinggi pertanian. Jadi saya ya langsung action saja. Daripada nunggu-nunggu pandemi khan nggak ketahuan kapan berakhirnya. Sekitar  5 bulan lalu saya putuskan untuk pindah ke pertanian.

Bermitra dengan siapa?

Awalnya ketemu kawan namanya Doktor Jo. Akhirnya kolaborasi sama dia buat Aquagricultur ini. Kita buka di lahan seluas 8000 meter. Kita bikin 200 bak ikan dan 100 bak udang dan sayur. Masalah teknis yang mengurus kawan saya. Karena memang dia Doktor bidang perikanan. Aspek bisnisnya saya yang mengurus.  Bagi tugasnya seperti itu. Untuk operasional, saya libatkan para milenial. Ada 20 orang anak muda, paling tinggi 25 tahun. Selain warga sekitar, yang expert ada anak-anak dari UI,ITB,ada dari STP.

Ini metode baru atau sudah banyak digunakan?

Kalau dirunut, metode ini sudah ada sejak 2 tahun lalu. Kebun saya sendiri sudah 1 tahun.  Setelah di sini (Cisarua –red), saya sedang membuat kebun baru di Ciapus Bogor. Karena orientasinya ini adalah industri atau food estate. Walaupun ya masih rumahanlah.

Berapa modal awal yang Anda tanam?

Bicara modal, ya lumayanlah hahaha….(tidak melanjutkan)

Menurut perhitungan berapa lama bakal balik modal?

BEP (break event point)  insyallah sekitar 2 tahun.

Nampaknya Anda sangat menikmati bisnis ini ya?

Sejauh ini bukan hanya enjoy tapi saya menikmati segala yang belum pernah saya temukan. Namun sebenarnya ada pesan utama dari situ. Artinya begini. Yang mau saya tunjukan adalah bahwa pertanian kalau digarap secara modern, itu akan bisa lebih produktif. Itu satu. Yang kedua, kita mau mengajak kaum milenial untuk mencintai dunia pertanian. Nah, milenial ini tidak bisa disuruh,tidak bisa dihimbau. Tapi harus dikasih contoh. Nih ada lahan asyik. Bidang ini menarik. Biar mereka terlibat.

Foto: Istimewa

Waktu itu Pak Pratikno  mensesneg pernah datang. Kemarin sore Pak Teten, menteri koperasi. Terus wakil menteri pertahanan. Ngomongin tentang ketahanan pangan. Intinya semua sama kita bicara tentang itu. Bahkan pak presiden sendiri bilang tentang pentingnya melibatkan milenial. Nah, saya sudah membuktikan bahwa siapa bilang milenial tidak mau bertani. Dibawah saya semua umurnya maksimal 25 tahun kok.

Jadi kalau disuruh bertani di sawah ya pasti nggak mau. Karena khan sudah jadul banget. Kita harus rangsang menjadi sesuatu yang menurut mereka menyenangkan. Makanya saya berani buka lahan kedua seluas 2 hektar. Ada 4 greenhouse. Bulan ini sudah masuk pembangunan greenhouse ke empat. Dalam dua bulan lagi selesai. Running kita.Di sini kita punya slogan, yaitu petani keren,bangsa paten,hehehe.

Apakah akan terus berkiprah dibidang pertanian?

Sekarang usaha saya di dunia kreatif masih ada dan masih jalan.Walaupun tidak kenceng banget. Tapi khan pertanian ini yang lagi in. Jadi untuk sementara saya fokus di sini. Karena menurut saya ini kunci jawaban dari sebagian permasalahan pertanian dan ketahanan pangan.

Bagaimana dukungan keluarga?

Justru ini adalah cikal bakal untuk saya turunkan ke level pesantren. Jujur  ini  bagian dari mimpi besarnya Gus Sholah. Sayang beliau keburu kepundut. Tapi yang penting saya bikin ini dulu, nanti saya akan taruh di pesantren. Rencananya ke Pesantren Tebu Ireng. Termasuk salah satu yang sedang kami bicarakan dengan kawan-kawan  dompet dhuafa adalah mau mengawinkan ini dengan rencana yang namanya pesantren coding.

Jadi pesantren basisnya teknologi informasi. Nanti semua teknologi akan kita transfer ke pesantren.Tahapannya seperti itu. Karena nanti khan harus ada SDM-nya. Kita ajak santri maupun pembina Tebu Ireng untuk mulai disekolahkan di kebun. Mereka mondok di kebun. Semacam transfer knowledge-lah. Untuk Tebu ireng nunggu skedul. Karena ada beberapa yang ingin membuat juga.Mudah-mudahan awal tahun depan progresnya sudah berjalan.

Foto: Istimewa

Bicara persaingan, apakah metode ini ada juga yang sudah menerapkan di Indonesia?

Kalau di Indonesia belum ada. Makanya banyak menteri yang datang untuk melihat.Teknologinya sebetulnya simple. Mungkin belum ada yang menjalankan saja. Karena khan agak komplek sistem pengairannya.Nah kalau diluar negeri yang lebih canggih ada. Tapi yang persis seperti saya bikin nggak ada.

Kami memang belum mengoptimalkan sisi komputerisasinya. Karena kita masih menggunakan tenaga manusia. Kita ingin padat karya dululah. Walaupn nanti untuk skala food estate harusnya sudah mulai dipakai komputer. Padat modal. Memang di plan berikutnya kalau kerjasama dengan pihak lain saya mau masuk ke ranah itu. Tapi untuk sekarang apa yang ada di depan mata dulu.

Baca Juga : Bantu Petani Sayur, Yenny Wahid Bikin Wadah Pangan

Baca Juga : Bamsoet Dorong Kaum Milenial Majukan Bidang Pertanian


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait