Dr Terawan dan Korban Covid-19, Riwayatmu Kini | Cek&Ricek
Sumber: Istimewa

Dr Terawan dan Korban Covid-19, Riwayatmu Kini

Ceknricek.com -- Sukar  melupakan pernyataan Menkes Terawan di awal-awal covid merebak di Tanah Air. Ingat, ketika Presiden RI mengumumkan pasien covid #1 dan #2, waktu itu Terawan baru saja bicara seperti ini. “Tidak diobatin pun ( yang tertular virus ) akan sembuh sendiri”.

Apa yang terjadi? Pasien 1 dan 2 lebih tiga minggu jalani pengobatan di RS. Sebagai dokter, Terawan pasti tahu persis, flu seringan apapun mesti diobati. Minimal dokter akan minta pasien selain minum obat juga harus istirahat di rumah ( supaya tidak menularkan flunya ke orang lain).

Terawan juga tahu persis, warga kita yang dievakuasi dari Wuhan pun perlu karantina selama dua minggu di pulau. Di sana juga dikasih obat-obatan dan vitamin. Begitu juga dengan ABK yang dievakuasi dari kapal pesiar : dua minggu lamanya jalani karantina di Pulau Seribu. Dua peristiwa itu cukup menjelaskan betapa berbahanya virus covid-19. Beruntung dengan isolasi, semua selamat.  Pelajaran berharga dari dua kamp karantina itu: kita bisa selamat dengan protokol kesehatan sederhana, ya itu tadi : mengisolasi diri.

Diborgol

Pada awalnya, ketika nitizen heboh, diikuti media mainstream, saya meragukan Terawan bicara begitu. Saya coba riset beberapa media terpercaya, termasuk memutar kembali video yang memuat pernyataan Terawan secara langsung. Audio visual kecil kemungkinannya bisa diplintir. Hasil penelusuran : terbukti Terawan memang bicara begitu.  Seminggu lalu viral lagi pernyataan lama Terawan soal masker. Yang beredar, video klip pernyataannya di Kompas TV. Ia mengatakan, masker hanya dipakai orang yang sakit. Supaya tidak menularkan penyakitnya pada lain orang. Yang tidak merasa sakit tidak perlu pakai masker.

Dari data BPS masker paling banyak dipakai warga sekarang : 92 % warga Indonesia menggunakan masker. Memang itulah  sebaik-baik “ obat” untuk sementara ini. Sebelum vaksin dan obat-obatan lainnya diizinkan beredar.

Sejak tiga bulan terakhir petugas merazia warga yang tidak memakai masker. Ada yang dapat sanksi “push up”, menyapu, sampai denda uang. Di Singapura lebih ketat lagi. Ada video beredar yang memperlihatkan warga yang tidak bermasker marah ditegur langsung diringkus dan diborgol tangannya oleh petugas.Masker saja pun sampai dirinci jenisnya : mana yang efektif mana yang tidak.

Beberapa hari ini saya berdiskusi dengan beberapa teman yang terpapar covid- 19. Ada teman, tetangga. Seisi rumah terpapar covid. Dimulai oleh orang tua mereka, menyusul kemudian kawan itu dan isterinya, lalu anaknya. Semua dirawat di RS. Kawan inilah dulu sempat diberitakan media karena diharuskan membayar Rp. 700 juta biaya dua minggu pertama perawatan di RS. Padahal, pemerintah menjamin biaya pasien covid dipikul negara.

Kini, kawan itu sudah sembuh setelah lebih sebulan di RS. Kecuali orang tuanya, yang wafat setelah dirawat dua minggu. Yang saya mau ungkap, orang tua mereka tidak pernah keluar rumah. Tidak ada yang sakit di rumah itu sebelumnya. Hasil penelusuran, penularan muncul dari kunjungan anak cucunya yang datang menengok sang orang tua.  Kesimpulan sementara, ada di antara keluarganya yang carrier tak sadar membawa virus ke orang tuanya. Tidak ada gejala sakit sama sekali. Sampai di sini, penulis ingat lagi pernyataan Terawan soal masker dan orang sakit.

Dua minggu terakhir saya terlibat percakapan dengan beberapa sahabat yang saat ini menjadi pasien covid. Kisah ini mendukung pula kisah tetangga di atas. Seperti yang dialami pasangan Raja Sinetron Raam Punjabi dan Raakhee, isterinya.  Saya sangat mengenal keluarga ini sangat peduli pada kesehatan, kontrol teratur karena ia memang pekerja keras. Gaya hidupnya higienis. Rumah, kantor, dan rumahnya resik. Menerima tamu sangat selektif. Toh terpapar juga. Kabarnya, tertular dari pembantu di rumah.

Minggu (18/10/20) pagi tadi Raakhee mengirim salam, minta didoakan, sambil menginformasikan kondisinya hari ini. Mereka sudah 17 hari dirawat di RS. Rencananya, hari ini lepas infus. Tapi mereka tetap masih akan dirawat di kamar pasien covid entah sampai kapan. Betapa panjang urusan jika seseorang positif covid19.

Semalam, saya berbicara via WA dengan wartawati senior Dian Islamiati Fatwa. Sudah memasuki hari ketiga  dirawat RS karena positif covid. Beruntung Dian masih bisa menulis menuangkan kisahnya secara runut. Dari pengalamannya sejak diswab, divonis positif covid, dijemput ambulance dari rumah, hingga apa yang dia rasakan dalam masa perawatan.

Tahu sumber yang menulari Anda?

“Nggak tahu lah Bang, kita kan bisa saja berinteraksi dengan teman yang mungkin OTG,” katanya. Virus covid, seperti julukan Dian dalam tulisannya di laman FB adalah “ invisible enemy” ( musuh yang tak terlihat). 

 Virus sepermilyar meter

“Masalahnya memang virus ini tidak nampak, “ kata dia. Ukurannya 60-120 nanometer (NM) kira-kira setara dengan sepermiliar meter. Perbandingan dengan diameter sel tubuh, 0,1 milimeter. Artinya, virus 1000 kali lebih kecil dari itu.

“Sebagai bayangan, lebar sehelai rambut bisa menampung sekitar 400 virus. Sangking kecilnya, virus tidak bisa dilihat dengan mikroskop biasa, nah apalagi kasat mata. Jereng kali mata kalau pengen ngliat. Makanya banyak jurnal kesehatan menyebut Corono virus sebagai ' the invisible enemy'” paparnya. 

Saya ingat Menkes Terawan lagi. Tapi memang bukan hanya Terawan yang terkesan meremehkan covid ini.  Banyak menteri lain bahkan Presiden dan Wapres pun pada awalnya demikian. Sebut antara lain, Mahfud, Luhut Binsar Panjaitan, Budi Karya Sumadi.

Perkara virus covid siapa saja pun bisa salah, manusiawi. WHO sendiri pun suka mengubah-ubah fatwanya.  Menkes Terawan dan pejabat tinggi kita lainnya pun demikian. Yang soal,  sejauh catatan, rasanya tidak pernah terucap permohonan ralat lebih-lebih minta maaf  para pejabat kita kepada rakyat atas kekeliruan pernyataan sebelumnya. Berapa pun kecilnya, niscaya ada kontribusi para pejabat itu mengapa  masih ada 45 juta rakyat yang tidak percaya covid /bahayanya. Begitu data BPS yang dikutip Ketua Satgas Penanganan Covid 19, Doni Mordano, minggu lalu.

Jumlah  yang tertular covid kini sudah mencapai 350 ribu jiwa, dan meninggal belasan ribu. Menempatkan Indonesia di rangking pertama di Asia Tenggara paling banyak korban covid19.

Saya juga sedih pada nasib Terawan. Namanya tentu akan terus disebut rakyat dalam pembicaraan mengenai covid-19.  Pada ghalibnya, dalam UU Karantina, tanggung jawab urusan bencana kesehatan ini memang berada di pundak Menteri Kesehatan. Meskipun “ disembunyikan “ Presiden ( dengan tidak menunjuk dia sebagai komando tertinggi penanganan covid19), tetapi secara konstitusi Menkes penanggungjawabnya setelah Presiden.

Itu duduk perkaranya mengapa saya membenarkan Najwa Shihab “ menghukumnya” lewat “wawancara kursi kosong”. Bicara secara legalistik formal, memang hak rakyat “ menghukumnya” karena sekian lama bersembunyi. Menkes adalah pejabat publik yang telah menikmati berbagai fasilitas negara, kekuasaan, gaji, perangkat kerja, perangkat pengamanan, namun  perlindungannya  tak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ada yang bilang hanya Presiden yang berhak menilai dan memberhentikan Terawan. Saya bilang,  rakyat semuanya pun berhak menilai. Menindak  dan memberhentikannya baru hak prerogatif Presiden. Jokowi sendiri pun tak bisa menyembunyikan kegeramannya kepada banyak menteri terkait penanganan covid. Tentu termasuk dan terutama sekali Menkes Terawan. Presiden bahkan sempat mengancam akan mereshuffle kabinetnya.

Sebagian masyarakat memuji sikap tegas Presiden. Menandakan Presiden lebih menyayangi rakyat.  Sekian bulan peristiwa telah lewat, jumlah rakyat terpapar covid kini berlipat -lipat kenaikannya, demikian pun yang wafat. Namun,  tidak satu pun menteri yang diganti. Bisakah kita mengatakan yang terjadi adalah hal sebaliknya ?

Baca juga: Update Korona 17 Oktober, Daftar 5 Sebaran Klaster Tertinggi Daerah

Baca juga: Update Korona 17 Oktober, Bertambah 4.301, Total Positif 357.762 Kasus


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait