Gambaran Tsunami dalam The Great Wave off Kanagawa karya Katsushika Hokusai

Gelombang Besar Masa Yunani Klasik dan Sejarah Nama Tsunami

Ceknricek.com - Hampir 2.500 tahun yang lalu, tepatnya pada tahun 479 Sebelum Masehi, pasukan Persia mengepung kota Potidaea di Yunani. Kala itu, terjadi fenomena alam yang agak aneh, air laut surut lebih jauh dibandingkan biasanya.

Dilansir dari ed.ted.com (24/4/2014), pasukan Persia ketika itu berpikir bahwa itu merupakan keuntungan bagi mereka. Pasalnya, surutnya air laut membuat rute yang lebih mudah untuk mereka melakukan invasi.

Sayangnya, apa yang pasukan Persia kira sebuah keberuntungan, nyatanya adalah bencana. Di tengah perjalanan menuju Potidaea, air laut kembali datang. Namun, kali ini dengan gelombang yang sangat tinggi, lebih tinggi dari gelobang air apapun yang pernah mereka lihat. Pasukan Persia berlarian, tetapi gelombang yang sangat tinggi dengan cepat menyapu dan menenggelamkan mereka.

Di sisi lain, masyarakat Potidaea merasa bahwa kejadian itu merupakan sebuah anugerah. Mereka yakin bahwa Dewa Poseidon, penguasa laut dan dewa gempa bumi, telah menolong Potidaea dengan gelombang tinggi itu. Rakyat Potidaea sangat bersyukur bahwa gelombang besar telah memusnahkan musuhnya dan menyelamatkan mereka. Padahal, yang sebenarnya menyelamatkan mereka adalah bisa jadi sebuah fenomena alam yang mengancurkan banyak hal lainnya, tsunami.


Sejarah Nama Tsunami

Dilansir dari Harian Kompas, Rabu (24/12/2014), pada 2 Desember 1611 terjadi gempa di Sanriku, pantai timur Jepang. Dua jam berselang, air laut tiba-tiba naik menerkam daratan. Gempa memang tidak membuat kerusakan besar, tetapi ombak yang tinggi itu meluluhlantakkan pesisir Sendai dan menewaskan ribuan warga.

Bencana tersebut tertulis dalam catatan resmi pemerintah pada Januari 1612. Tidak seperti biasanya, Daimyo (kepala keluarga terhormat) Sendai masa itu, Date Masamune (1566-1636) tidak memberikan upeti kepada Shogun (panglima tertinggi) Tokugawa Ieyasu (1542-1616). Padahal, biasanya Masamune mengirimkan ikan kod terbaik di awal musim.

Alih-alih upeti, Masamune hanya mengirimkan utusan kepada Shogun yang menyampaikan bahwa bencana telah melanda Sendai. Sebanyak 5.000 orang tewas di wilayah kekuasaan Masamune. Utusan menyampaikan bahwa bencana itu sebagai tsunami. Kata tsunami terdiri dari 2 kata, tsu berarti ‘pelabuhan’ dan nami berarti ‘gelombang’.

Sebutan tsunami mulai dikenal di dunia hampir 3 abad kemudian. Kembali Sanriku menjadi lokasi yang terdampak tsunami pada 15 Juni 1896. Dua orang penulis Barat menjadi orang yang memperkenalkan sebutan tsunami ke seluruh dunia.

Eliza Ruhaman Scidmore melaporkan peristiwa naiknya air laut ke daratan tak lama setelah terjadinya gempa. Dalam National Geographic Magazine edisi September 1896, Eliza menuliskan:

“Pada sore 15 Juni 1896, pantai timur laut Hondo, pulau utama di Jepang, dilanda gelombang raksasa yang dipicu gempa (tsunami)...tsunami menewaskan 26.975 orang dan menyebabkan korban luka 5.390 orang.”

Lafcadio Hearn mewartakan tragedi tersebut untuk The Atlantic Monthly edisi Desember 1896. “Gelombang laut yang mengerikan naik tiba-tiba dan ini oleh orang-orang Jepang disebut sebagai tsunami,” lapor Lafcadio.

Sebelumnya, istilah bahasa Inggris menyebut fenomena tsunami sebagai tidal wave (gelombang pasang). Akan tetapi, istilah ini kurang tepat karena tidal merupakan gelombang akibat pengaruh gaya gravitas Bulan dan Matahari. Kenyataannya, pemicu tsunami adalah gempa bumi, longsor bawah laut, dan letusan gunung berapi.

Sebutan lain dalam bahasa Inggris yakni seismic sea waves (gelombang tinggi akibat gempa) juga dinilai tidak tepat. Hal itu mengingat tsunami tidak hanya disebabkan oleh gempa bumi saja.

Istilah tsunami semakin mendunia saat Hawaii ditimpa gelombang itu pada 1 April 1946. Melansir Hawaiinewsnow, pada hari yang disebut dengan “April Fools Day Tsunami” itu, tercatat 159 warga tewas. Rumah, jalan, dan bisnis hancur berantakan akibat gelombang yang diperkirakan penyintas setinggi 50 kaki (15,2 meter). Tsunami dipicu oleh gempa 8,6 SR yang mengguncang Kepulauan Aleutian. Tiga tahun kemudian, di Hawaii dibangun Pacific Tsunami Warning Center.



Berita Terkait