Ilustrasi : Alfiardy/Ceknricek.com

Hendra Gunawan: Pelukis Pembela Rakyat Jelata

Ceknricek.com -- "Perjuangan dalam revolusi dan perjuangan dalam seni bagi saya geloranya sama saja. Lantaran yang dibela adalah rakyat jelata juga!"

Suatu ketika Presiden Sukarno ingin merayakan ulang tahun pertama kemerdekaan Indonesia dengan pesta seni lukis. Dia meminta pelukis Hendra Gunawan untuk melakukan pameran tunggal yang dihelat di gedung Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) Jl. Malioboro, Yogyakarta.

Namun, di luar protokoler, Hendra diam-diam mengumpulkan puluhan gelandangan dengan penampilan kere untuk menjadi tuan rumah (pager ayu) pameran. Protokol presiden sempat  menolak gagasan itu. Hendra pun bergeming. Saat pameran dibuka, Sukarno disambut para gelandangan. Sukarno terkejut, tetapi dia mengangguk dan memeluk Hendra.

Hendra Gunawan lahir pada tanggal hari ini, 11 Juni 1918 silam, di Bandung, Jawa Barat.  “Setiap orang berhak melihat lukisan saya. Dan saya berhak memperkenalkan karya-karya saya kepada siapa saja,” kata Hendra, dalam Bukit-bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Lukisan Palsu Sampai kosmologi Bung Karno karya Agus Dermawan T.

Sosok pelukis Pengantin Revolusi ini memang sangat dekat dengan komunitas akar rumput, kaum jelata alias kaum kere. Hampir dari seluruh karya lukisannya banyak mengambil objek pemandangan alam, perempuan berkebaya dengan kaki mekar, serta dibalut dengan warna-warna yang meriah dan cenderung ceria.

Namun sepertinya, karya-kaya lukisannya tersebut berbanding terbalik dengan kisah hidupnya, yang selama 13 tahun dipenjara tanpa pernah diadili di penjara Kebon Waru, dikarenakan ia aktif dan berasosiasi dengan LEKRA.

Sebelum namanya dijunjung tinggi sebagai salah satu maestro lukis Indonesia, ningrat Sunda kaya ini ternyata memanggul nasib begitu ganjil. Ia melakukan bunuh diri kelas dengan minggat dari rumah untuk membela ibundanya, dan bersahabat dengan seorang kere, bahkan ikut jadi "gelandangan".

Lain dari itu ketika revolusi berlangsung ia turut berlaga dalam perang revolusi dengan bergabung dengan Chaerul Shaleh, Adam Malik, dan sebagainya. Ia terus melukis meski perutnya keroncongan, sampai pernah semaput di pinggir jalan ketika sedang blusukan untuk mencari ispirasi lukisan bersama teman-temannya.

Hidup Untuk Melukis

Hendra lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 11 Juni 1918 dari pasangan Raden Prawiranegara dan Raden Odah Tejaningsih. Sejak di sekolah dasar, dia telah menunjukkan bakat lukis. Dia tekun menggambar segala macam yang ada di sekitarnya seperti buah-buahan, bunga, wayang (golek dan kulit), serta bintang film.

Hendra mulai serius belajar melukis setamat SMP Pasundan. Mula-mula belajar melukis pada  Wahdi Sumanta, seorang pelukis pemandangan. Selain itu, dia sempat menjadi murid Abdullah Suriosubroto, ayah pelukis Basuki Abdullah. Pertemuannya dengan pelukis Affandi menjadi titik kulminasi keseriusannya menekuni seni rupa.

Kuda Lumping Hendra Gunawan. Sumber: Dictio

Pada 1930-an, bersama Affandi, Barli, Sudarso, dan Wahdi, dia aktif di kelompok Lima Bandung, sebuah kelompok belajar bersama dan saling membantu sesama pelukis. Pada 1940, dia mendirikan Sanggar Pusaka Pasundan.

Foto bersama Trubus, Suromo, Sudarso dan Hendra Gunawan. dokumen [Misbach Tamrin]

Memasuki masa-masa perjuangan kemerdekaan, Hendra bersama Sudjojono dan Affandi terlibat dalam berbagai organisasi pemuda dan seniman. Mereka melahirkan dan menghidupkan tradisi sanggar yang jadi lembaga pendidikan alternatif di masa-masa sulit itu. Hendra aktif membimbing para pemuda yang berminat kepada seni lukis dan seni patung, di samping terjun mengorganisasi kegiatan seni dalam Pusat Tenaga Rakyat (Putera).

Ajip Rosidi dalam Yang Datang Telanjang mengenang sosok Hendra sebagai sosok yang gemar “meracuni” orang lain, terutama para pemuda, untuk melakukan kegiatan kesenian. “Jasanya barangkali bukan hanya, atau bukan terutama hanya, melalui karya-karyanya saja, melainkan pada kegemarannya mengajak dan menarik orang-orang lain, terutama yang muda untuk melakukan kegiatan kesenian,” tulis Ajip.

Pemandangan Karya Hendra gunawan. Sumber: Dictio

Setelah proklamasi kemerdekaan, Hendra membuat poster-poster perjuangan, yang konsep-konsepnya dikirim Angkatan Pemuda Indonesia. Pada 1945, bersama beberapa pelukis, dia mendirikan “Pelukis Front” yang aktif melukis di front pertempuran.

Masa perjuangan kemerdekaan tercermin pada karya-karyanya yang mengangkat realitas keseharian masyarakat Indonesia seperti panen padi, berjualan buah, dan suasana panggung tari-tarian. Selain juga mengangkat tema perjuangan seperti terciri pada karya ‘Pengantin Revolusi’.

Ciri khas karya Hendra terletak pada permainan warna yang terpengaruh warna-warna ikan yang dianggapnya begitu tajam. Karakter ikan yang tak bisa diam terimpilkasi pada deformasi sosok yang meliuk penuh gerak.

Sumber: serupa.id

Belajar Dari Kehidupan

Saat pemerintahan pusat pindah ke Yogyakarta, sejumlah seniman ikut hijrah, termasuk Hendra. Pada saat itu, Hendra bersama Sudjojono, Affandi, Rusli, dan Harijadi membentuk Perkumpulan Seni Rupa Masyarakat (PSM), yang berganti nama menjadi Seniman Indonesia Muda (SIM). Hendra tak bertahan lama di SIM yang menurut kabar ia tidak tahan dengan metode yang diterapkan Sudjojono yang terkesan kaku.

Pelukis-pelukis muda di SIM pada waktu itu mulai diajar melukis dengan pendekatan realisme-fotografis. Mereka juga diwajibkan untuk menyelesaikan lukisannya langsung on the spot. Itu menjadi kecakapan dasar yang mesti dimiliki anggota SIM.

Hendra menggugat metode ini, karena hanya memperkuat potensi mata sementara mengurangi potensi rasa. Hendra punya metode sendiri. Ia mengandalkan sketsa untuk menangkap momen. Sketsa itu lantas ia olah dengan imbuhan imajinasi dan fantasi. Karena metodenya ini, Hendra jadi berbeda dengan Sudjojono dan Affandi, mentornya sendiri. Meskipun sebenarnya dari segi pemikiran, mereka sama-sama menonjolkan ide-ide kerakyatan.

“Berlainan dengan ungkapan Sudjojono yang ironis atau Affandi yang muram, Hendra mengungkapkan kehidupan rakyat dengan semangat tetapi berisi kelembutan. Selain karya-karyanya penuh warna, Hendra yang memulai dengan impresionisme, akhirnya dikenal dengan ekspresionisme dengan deformasinya yang bebas seperti mengikuti bentuk-bentuk wayang,” tulis M. Agus Burhan dalam Seni Lukis Indonesia Masa Jepang Sampai Lekra (2013: 89).

Sumber: Dictio

Dia dan Affandi kemudian mendirikan organisasi “Pelukis Rakyat”. Agus Sachari dalam Budaya Visual Indonesia mencatat, para pelukis SIM dan Pelukis Rakyat setelah tahun 1950 cenderung terpengaruh paham komunisme. Keterlibatannya dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) membuat Hendra mendekam di penjara selama 13 tahun (1965-1978). Di penjara, dia terus melukis menggunakan kanvas berukuran besar dengan warna-warna natural.

Selepas penjara pada 1978, Hendra memilih menetap di Bali. Di sana dia berkawan karib dengan seorang penyair Sumba, Umbu Randu Paranggi. Dia mengembuskan nafas terakhirnya di RSU Sanglah Denpasar Bali pada 17 Juli 1983. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman muslimin Gang Kuburan Jalan A. Yani Purwakarta.



Berita Terkait