Kasus Bayi Lahir Stunting Masih Tinggi, Prilly Latuconsina: Punya Anak itu Bukan Cuma Tren | Cek&Ricek astra-satu-untuk-indonesia
Foto: Istimewa

Kasus Bayi Lahir Stunting Masih Tinggi, Prilly Latuconsina: Punya Anak itu Bukan Cuma Tren

Ceknricek.com -- Persoalan kurang gizi berkepanjangan pada bayi atau stunting memang masih menjadi pekerjaan rumah bagi Indonesia. Data pada tahun 2019, jumlah kasus stunting di Indonesia mencapai 29,67 persen, dimana angka itu lebih tinggi dari dari angka standar World Health Organization (WHO), yaitu 20%.

Data terkini juga menunjukkan bahwa sekitar 9 juta balita di Indonesia saat ini mengalami stunting. Hal tersebut berarti, 1 dari 3 bayi yang dilahirkan terdiagnosa stunting. Terlebih, kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi sejak tahun lalu hingga kini diyakini memperburuk jumlah angka stunting, dimana seluruh aspek pasti terpengaruh terutama perekonomian, yang tentu saja berdampak pada tumbuh kembang anak.

Kondisi tersebut tentu membuat sebagian besar elemen masyarakat khawatir, salah satunya artis muda Prilly Latuconsina. Menurut Prilly, persoalan stunting tidak lepas dari kelalaian para orang tua, khususnya sang ibu dalam memperhatikan gizi bayi mereka. “Penting sekali untuk melakukan edukasi stunting, karena banyak sekali para ibu yang tidak tahu stunting itu apa,” ucap Prilly dalam acara webinar Indonesia Bebas Stunting 2030, Kamis (8/4/2021).

Menurut artis yang kini genap berumur 24 tahun itu mengatakan, bahwa menikah di usia belia adalah sepenuhnya pilihan para perempuan. Namun, keputusan tersebut harus dibarengi dengan tanggung jawab merawat bayi agar gizi mereka tetap terpenuhi.

“Punya anak itu bukan cuma karena tren demi bisa foto-foto lalu dimasukkan ke media sosial. Waktu yang tepat untuk punya anak itu harus dipikirkan sejak awal, karena ini berpengaruh ke gizi bayi,” ujarnya.

Meskipun statusnya belum menikah dan belum pernah merasakan menjadi seorang ibu, Prilly mengaku tidak takut untuk mengampanyekan pemberantasan stunting. “Memang bicara seperti ini jadi tantangan buat aku, karena aku belum menikah dan punya anak. Tapi, aku mau menunjukkan bahwa perempuan yang belum menikah sudah harus terbuka pikirannya soal ancaman stunting,” katanya.

Sementara itu di tempat yang sama, Dalam acara yang sama, Lead Strategist Yayasan Seribu Cita Bangsa, Zack Petersen mengatakan ada 9 juta anak balita di Indonesia yang mengalami stunting. “Mereka tumbuh dengan ancaman pneumonia dan diare, dan sering sakit, otak dan sistem imunitas mereka tidak tumbuh dengan seharusnya,” ungkap Zack.

Permasalahan terbesar dalam pengentasan stunting, katanya, adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat akan bahaya stunting. Hal tersebut menyebabkan masyarakat masih mengabaikan gizi yang seimbang dan kebersihan yang menjadi kontributor penyebab stunting. Hal ini ditunjukkan dengan tingginya jumlah ibu hamil yang menderita anemia, kondisi yang berisiko tinggi untuk melahirkan anak yang stunting. Oleh karenanya, program pendampingan stunting harus efektif di tingkat keluarga, khususnya ibu, agar bayi dapat selamat dari resiko stunting.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, SpOG(K) menambahkan, penurunan prevalensi stunting merupakan pilar utama bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas di masa depan, oleh karena itu, misi ini perlu melibatkan pihak-pihak di luar pemerintah.

“Untuk itu, BKKBN akan segera mewujudkan kemitraan dengan sebanyak-banyaknya pihak melalui wadah #1000MitraUntuk1000Hari, dan kami sangat menghargai organisasi-organisasi aktivis yang meluncurkan gerakan ini yang telah menjadi mitra BKKBN, karena kami selalu menjadi sahabat mitra dan sahabat keluarga,” pungkasnya.



Berita Terkait