Lima Kawasan Hutan di Batam Terbakar dalam sebulan | Cek&Ricek
Foto: Kebakaran hutan di sekitar Bandara Hang Nadim Kota Batam Kepulauan Riau, Senin (22/2).

Lima Kawasan Hutan di Batam Terbakar dalam sebulan

Ceknricek.com -- Lima kawasan hutan di Kota Batam, Kepulauan Riau, terbakar sejak awal Februari 2021, berdasarkan catatan Mandala Agni setempat.

"Manggala Agni turun mulai 4 Februari 2021. Yang sudah selesai (padam) itu di Tembesi, Sagulung, Sei Beduk, Galang dan Nongsa," kata Kepala Daops Manggala Agni Sumatera VIII Batam, Patris Lulumba di Batam, Selasa (23/2/21) dikutip dari Antara.

Hingga saat ini, pihaknya masih berupaya memadamkan kebakaran lahan di Pulau Galang.

Pihaknya belum dapat memastikan luasan lahan yang terbakar sepanjang musim kemarau ini. Namun, ia memperkirakan seluas satu hingga 1,5 hektare di masing-masing lokasi yang terbakar. "Ini perkiraan," kata dia.

Menurut dia, kebakaran lahan di Batam masih relatif bisa ditangani pihaknya bersama dengan Dinas Pemadam Kebakaran setempat.

Hingga saat ini, belum dibutuhkan bantuan helikopter untuk memadamkan kebakaran lahan.

"Kalau pakai helikopter berarti apinya sangat besar dan tidak bisa ditangani dari darat. Kami menghindari penggunaan helikopter karena biayanya tinggi," kata dia.

Ia menyampaikan berdasarkan data BMKG, kondisi permukaan di wilayah Kepri masih merah yang berarti panas, sehingga kemungkinan terjadinya kebakaran masih tinggi.

Pihaknya terus melakukan patroli rutin ke hutan-hutan di Batam dan Bintan sebagai langkah antisipasi kebakaran meluas.

Dalam kesempatan itu, ia mengimbau masyarakat tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar untuk menghindari kebakaran.

"Jangan sampai merokok di dekat hutan apalagi di dalam hutan," kata dia.

Menurut dia, kondisi cuaca saat ini ekstrim, dengan tingkat bahan yang mudah terbakar relatif tinggi.

Baca juga: Jumlah Titik Panas Indikasi Karhutla Meningkat Drastis di Riau

Baca juga: BMKG Sebut Tujuh Daerah di Provinsi Riau Rawan Karhutla

Ia menjelaskan, terakhir kali pemadaman lahan dilakukan pada April 2020, sehingga bahan organik yang mudah terbakar kini jumlahnya sudah banyak.


Editor: Prasetyo Agung G


Berita Terkait