Foto : badanbahasa.kemdikbud.co.id

Mengenang Usmar Ismail, Bapak Perfilman Nasional

Ceknricek.com - Bukit Tinggi, Sumatera Barat, 20 Maret 1921, tepat tanggal hari ini 98 tahun silam, Usmar Ismail lahir. Ia sutradara besar yang dipandang telah meletakkan dasar kuat bagi kelahiran dan perkembangan perfilman Indonesia. Namanya ditahbiskan sebagai Bapak Film Nasional. Dia juga tercatat sebagai pendiri Perfini (Pusat Film Nasional Indonesia).

Sumber : Kincir.com

Pada 30 Maret 1950, Usmar Ismail memulai pengambilan film pertamanya, "Darah dan Doa", di Purwakarta, Jawa Barat.  Kelak tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Film Nasional.


Sandiwara Maya

Setelah menamatkan pendidikan dasarnya di HIS Batusangkar, Sumatera Barat, bungsu dari enam bersaudara pasangan Ismail Gelar Datuk Manggung dan Siti Fatimah itu melanjutkan belajar ke MULO-B (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang pada 1935-1939.

Di sinilah Usmar Ismail berkenalan dengan Rosihan Anwar yang kemudian menjadi sahabat karibnya. Dalam tahap ini ia juga berkenalan dengan film bahkan menjadi pecandu film-film yang diputar di bioskop Pondok, Padang. Setelah lulus dari MULO tahun 1941, ia kemudian melanjutkan sekolah ke Yogyakarta dan masuk AMS-A II (Algemene Middelbare School) bagian A jurusan Klasik Barat.

Masa pendudukan Jepang (1942-1945) mengubah jalan hidup Usmar. Ia pindah ke Jakarta dan menamatkan pendidikan di Sekolah Menengah Tinggi pada 1943. Seusai dari pendidikan terakhirnya, Usmar bekerja di kantor Pusat Kebudayaan ‟Keimin Bunka Shidoso‟, sebuah wadah bentukan Jepang untuk menghimpun seniman-seniman dari berbagai cabang dan mendukung kepentingan propaganda mereka.

Di tahun yang sama bakat menulis Usmar semakin berkembang. Ia menulis banyak cerpen dan mulai menekuni sandiwara secara serius bersama Sanusi Pane. Di luar pekerjaannya di pusat kebudayaan Jepang, ia mendirikan kelompok sandiwara bernama perkumpulan sandiwara penggemar (amatir) Maya, pada 1943.

Penyebutan kata penggemar dan amatir itu bertujuan untuk membedakannnya dengan berbagai kelompok sandiwara profesional yang telah lama berkembang sejak zaman Hindia Belanda. Kelompok ini secara teratur mementaskan lakon di Gedung Komidi (sekarang Gedung Kesenian Jakarta). Beberapa karya Usmar yang dipentaskan Maya antara lain "Insan Kamil", "Liburan Seniman", dan "Api". Sandiwara Maya juga mementaskan beberapa karya penulis lain selain Usmar. Kelak kelompok ini menjadi cikal bakal teater modern di Indonesia.


Mulai Membuat Film

Perkenalan Usmar Ismail dengan Anjar Asmara pada 1949--ketika didampuk  tokoh teater Dardanella itu untuk membantunya dalam membuat film "Gadis Desa"--membuat gairah Usmar terhadap media film makin membuncah. Kegairahan Usmar juga didasari ketidaksengajaannya ketika ia menemukan sebuah lemari berisi banyak buku tentang film milik Anjar. Buku-buku tersebut membahas aspek teknis maupun artistik, yang semakin mempengaruhi pemahamannya terhadap studi film.

Usmar Ismail sedang membuat film Sumber : Parfi.or.id

Sebagai upaya pertamanya, Usmar memproduksi film perdana Perfini  yang berjudul  "Darah dan Doa". Film tersebut mengisahkan hijrahnya prajurit Siliwangi dari Yogyakarta menuju Jawa Barat pada masa revolusi fisik paska agresi militer pertama Belanda 1948. Film tersebut mendapat beragam reaksi dari berbagai kalangan. Selain pujian dari pengamat film dan seniman, tak sedikit pula yang kritik terhadapnya.

Belajar dari pengalaman film pertamanya, ia membuat film keduanya "Enam Djam di Jogja" (1951). Film ini mencoba merekonstruksi peristiwa bersejarah yang baru dua tahun sebelumnya terjadi, Serangan Umum 1 Maret 1949. Usmar tidak terlalu menonjolkan pandangan subjektifnya, melainkan mengikuti pendapat yang umum berkembang mengenai peristiwa itu.

Pembuatan film tersebut sengaja menggunakan lokasi sesungguhnya dimana peristiwa terjadi. Film ini pun mendapat kritik yang cukup tajam dari sejumlah kritisi, termasuk lembaga sensor. Setelah mengalami pemotongan di banyak bagian, akhirnya film tersebut dapat diedarkan.

Tahun 1953 Usmar Ismail mendapatkan beasiswa dari Rockfeller Foundation untuk mendalami sinematografi di Universitas California Los Angles (UCLA). Pulang dari Amerika, ia membuat film "Krisis" (1953), "Lewat Djam Malam" (1954), "Tamu Agung" (1955) dan "Tiga Dara" (1956) yang mendapat sambutan besar di kalangan penonton.

Film "Tiga Dara" pada tahun 2016 direstorasi dan kembali dipertontonkan di bioskop Indonesia. Film ini menceritakan kehidupan tiga saudara perempuan, Nunung (Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), dan Neni (Indriati Iskak) yang hidup bersama nenek (Fifi Young) dan ayah mereka, Sukandar (Hassan Sanusi).

Sumber : Pinterest

Selama hidupnya, antara tahun 1950-1970, Usmar Ismail membuat 33 film layar lebar, drama (13 judul), komedi atau satire (9 judul), aksi (7 judul), musical/entertainment (4 judul).

Tahun 1962 ia mendapatkan Piagam Wijayakusuma dari Presiden Soekarno. Pada tahun 1969 ia menerima Anugerah Seni dari Pemerintah RI.

Usmar Ismail wafat di Jakarta, 2 Januari 1971. Almarhum diangkat menjadi Warga Teladan DKI. Namanya kemudian diabadikan sebagai pusat perfilman Jakarta, Pusat Perfilman H. Usmar Ismail.



Berita Terkait