Mitos-Mitos Seputar Covid-19 | Cek&Ricek astra-satu-untuk-indonesia
Sumber: Istimewa

Mitos-Mitos Seputar Covid-19

Ceknricek.com--Minimnya pengetahuan sebagian besar masyarakat mengenai virus SARS-COV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome – Corona Virus – 2) yang menyebabkan penyakit yang kita kenal sebagai COVID-19 (Corona Virus Disease-19) merupakan salah satu penyebab utama kasus COVID-19 positif masih terus meningkat di Indonesia. Meskipun sudah banyak informasi resmi dari WHO yang tersaji untuk masyarakat, masih ada saja mitos-mitos menyesatkan yang beredar luas dan dengan mudahnya membuat masyarakat mempertanyakan kembali bagaimana cara yang tepat dalam menghadapi pandemi ini.

Informasi yang tepat dan akurat mengenai COVID-19 tidak hanya penting bagi masyarakat awam, tetapi juga bagi para tenaga medis yang tidak berkaitan langsung dalam menangani pandemi ini di lapangan. Agar tidak salah kaprah, simak terlebih dahulu 10 mitos dan fakta COVID-19  dikutip dari tulisan  dokter Fahrani Imanina Putri Nurtyas, Sp.PK (Dokter Spesialis Patologi Klinis EMC Sentul).

1.Mitos: Hewan peliharaan bisa menularkan COVID-19

Fakta: Kekhawatiran berlebih bahwa COVID-19 bisa ditularkan oleh hewan peliharaan adalah salah satu mitos yang paling banyak beredar di masyarakat. Namun, CDC (Center for Disease and Prevention Control) menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada laporan mengenai orang yang terinfeksi COVID-19 akibat kontak dengan hewan peliharaan..

2.Mitos: Anak-anak tidak akan tertular virus COVID-19

Fakta: Mitos ini betul-betul keliru karena berdasarkan studi yang dilakukan oleh CDC pada lebih dari 1.3 juta kasus di Amerika, didapatkan prevalensi kasus COVID-19 pada anak-anak mencapai hingga 52 kasus per 100 ribu orang dan pada 52 ribu kasus kematian akibat COVID-19, 16 di antaranya adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun.

Infografis: Istimewa

3.Mitos: Orang yang sudah pernah positif COVID-19 tidak akan terjangkit lagi

Fakta: Meski kemungkinannya kecil, COVID-19 bisa menyerang orang yang sudah pernah positif sebelumnya. Antibodi yang terbentuk di dalam tubuh orang yang sudah sembuh dari COVID-19 hanya mampu mengurangi risiko terinfeksi kembali, sama halnya dengan pemberian vaksin. Ditambah lagi jika kondisi imun orang tersebut sedang turun, tidak menutup kemungkinan terinfeksi kembali.

4. Mitos: Mandi air panas bisa mencegah COVID-19

Fakta: WHO menegaskan bahwa mandi air panas tidak bisa mencegah Anda terkena COVID-19 dan bahwa cara terbaik untuk mencegah paparan virus tersebut adalah dengan menerapkan protokol kesehatan di manapun Anda berada.

5.Mitos: Infeksi COVID-19 pasti disertai dengan gejala berat

Fakta: Pengidap COVID-19 bisa saja merasa sehat dan tetap beraktivitas seperti biasa tanpa mengetahui ia sudah berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala).

6.Mitos: Semprotan disinfektan aman bagi tubuh

Fakta: Meski dianggap sebagai penangkal virus paling ampuh, menyemprotkan disinfektan secara langsung pada tubuh Anda dapat menyebabkan iritasi, alergi atau bahkan gangguan permanen yang berbahaya jika terlalu sering. WHO bahkan tidak menyarankan penyemprotan disinfektan terhadap tubuh manusia.

7.Mitos: Konsumsi alkohol mampu mencegah penularan COVID-19

Fakta: Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa mengonsumsi alkohol bisa mencegah COVID-19. Alkohol hanya disarankan sebagai bahan pencuci tangan (hand sanitizer) jika Anda tidak memiliki akses ke air mengalir dan sabun.

8.Mitos: Obat malaria terbukti efektif untuk menyembuhkan pasien COVID-19

Fakta: Obat dengan kandungan klorokuin baru terbukti sebagai obat anti-malaria dan belum ada penelitian lebih lanjut yang membuktikan bahwa klorokuin mampu menyembuhkan pasien COVID-19.

9.Mitos: Pasien COVID-19 yang meninggal sudah pasti akibat penyakit penyerta

Fakta: Tidak semua pasien COVID-19 meninggal akibat penyakit penyerta semata. Virus SARS-COV-2 sendiri menyerang sistem pernapasan yang bisa mengakibatkan penderitanya mengalami kegagalan pernapasan dan berujung pada kematian.

10.Mitos: Antibiotik adalah obat terbaik untuk mencegah COVID-19

Fakta: Antibiotik hanya terbukti efektif dalam melawan bakteri. Sedangkan, COVID-19 disebabkan oleh virus, sehingga penggunaan antibiotik untuk mencegah ataupun mengobati COVID-19 tidaklah tepat.


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait