Perjalanan ke Yogya dan Solo Menembus Pandemi | Cek&Ricek wardah-colorink-your-day
Foto: Istimewa

Perjalanan ke Yogya dan Solo Menembus Pandemi

Ceknricek.com -- Dua tahun di rumah saja, bisa membuat pikiran jadi melayang kemana-mana, atau tidak kemana-mana. Sebagai tombo ati, pekan lalu, saya dan Luluk Sumiarso, kawan sekelas di Syracuse University 44 tahun yang silam, melakukan perjalanan ke Yogya dan Solo.

Semasa di Syracuse kami pernah mengelilingi Kanada selama dua minggu. Di lain kesempatan kami kunjungi New York, Amsterdam, London, dan Roma. Jadi perjalanan kali ini kami anggap seperti meneruskan traveling yang dulu itu. Bedanya dulu masih muda dan bujangan, kini yang bepergian adalah dua kakek yang masing-masing sudah punya cucu. Tentu membuat gerakan kami tidak lagi selincah masa lalu.

Jakarta-Yogya ditempuh dengan pesawat, sedangkan Yogya- Solo dengan perjalanan darat. Ternyata Bandara Soetta cukup ramai. Di terminal 2 tak terasa aroma pandemi kecuali bila melihat semua orang memakai masker. Setelah melalui pemeriksaan bukti tes antigen, proses chek-in, lantas go!

Yogya: "Ngopi Bersama 7 Presiden" dan Gudeg Sagan

Yogya tampak banyak berubah dan tambah segar. Dari tempat kami menginap di belakang Mal Malioboro, kami susuri rute legendaris jalan Malioboro. Meski hujan rintik-rintik, ternyata sepanjang jalan tetap ramai. Para pengunjung umumnya berusia separo umur dan lebih. Tak begitu banyak remaja atau anak-anak. Tentu ini karena memang bukan masa liburan sekolah.

Trotoar sepanjang Malioboro telah dipercantik dengan bangku dan lampu taman, sehingga terasa nyaman. Tak jauh dari pintu pasar Bringhardjo, ada pasangan muda yang tengah photo-shooting. Prianya mengenakan beskap, bersarung batik dan berblangkon. Yang wanita, berkebaya lurik, dan berkain batik.

Ada adegan si pria menuntun sepeda ontel, dan wanitanya berjalan disampingnya. Rupanya sekarang ada layanan berfoto tradisional secara live dengan latar Malioboro. Fotografernya mengatakan, bahwa layanan ini dilakukan oleh komunitas fotografer yang siap menyediakan segala properties yang dibutuhkan untuk keperluan pemotretan. Cukup memikat untuk membuat terkenang kembali suasana Yogya tahun 60an.

Sesampainya di depan Grand Ina (dulu hotel Garuda) yang historis, kami menyeberang ke arah stasiun Tugu. Persis di pojok dekat rel kereta api yang melintasi Malioboro ada warung kopi yang menarik: Loko Coffee. Banyak kawula muda setempat sedang menikmati kopi hangat di sore yang bergerimis itu. Dikelola ala masa kini, di warung kopi ini pengunjung diladeni oleh beberapa barista yang ramah.

Di dinding bagian dalam ada karikatur sebesar dinding. Maklumlah, Yogya kan gudang seniman. Ide dan kreatifitas mereka pantas diacungi jempol. Karikatur ini menggambarkan komentar jenaka 7 presiden kita tentang kopi. Lucu. Membuat kopi yang terhidang terasa jadi lebih hangat. Dari situ, kami meneruskan langkah untuk menikmati makan malam di Gudeg Sagan.

Solo: Sate Presiden dan Heritage

Setibanya di Solo, kami langsung ke Jl.Arifin hendak menyantap sate Mbak Tug.Tapi harus gigit jari, karena hari itu Mbak Tug tidak berjualan, satenya telah diborong untuk sebuah acara. Ini bukan sate sembarang sate. Konon menurut yang empunya cerita, dulu disinilah tempat langganan walikota Jokowi. Berhubung  sang langganan sekarang jadi presiden, namanya pun naik pangkat menjadi Sate Presiden. Saya tak sempat menanyakan, apakah pada masa dulu itu, namanya Sate Walikota.

Hal lain yang menarik, kota Solo sekarang lebih sadar akan warisan budaya dan sejarah. Ada hotel heritage. Kampung batik Laweyan juga telah berdandan. Begitu juga stadion bersejarah, Manahan tampak bersih dan terawat. Stasiun Balapan nampak bergairah dengan neon-sign nya yang mencolok. Bagi para pencinta kopi, kota ini juga punya banyak warung kopi kekinian dengan tampilan yang cukup menawan.Besoknya, dari bandara Adisumarmo, saya pulang ke Jakarta.



Berita Terkait