Reinfections are real and dangerous! | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Reinfections are real and dangerous!

Ceknricek.com -- Wartawati senior, Dian Islamiati Fatwa, kembali terinfeksi Covid-19. Bagaimana ceritanya? Berikut penuturan Dian, yang ditulisnya sendiri di laman sosial medianya:

Saya menulis tulisan ini dengan tangan gemetar dan badan menggigil. Saya memaksakan menulis agar pikiran saya terdistraksi soal virus covid yang sepertinya masih mempunyai kekuatan besar menghajar tubuh saya yang ringkih.

Tubuh rasanya tidak mempunyai tulang penyangga, inginnya klesotan, berbaring saja.

Semalam saya juga menggigil, badan hangat sejak sore. Padahal beberapa jam sebelumnya saya merasa enakan. Sy mungkin kecapean menggigil dan kemudian tertidur.

Saya harus  melawannya. Saya berzikir. Dengan doa dan kekuatan dukungan moral sedulur, kawan kerabat, haqul yakin akan membuat saya kuat.

Reinfections covid are real, serious and growing!

Berita dari Brazil, dengan munculnya reinfection varian P.1 adalah warning, kasus ini tidak bisa diremehkan.

Dari hasil penelitian Dr. Nuno Faria dari Imperial College of London bulan January lalu, kenaikan angka transmisi pada kasus reinfeksi mencapai 1,4 hingga 2,2 kali dibandingkan dengan dg virus Covid strain yang terdahulu.

Dari kasus reinfection yang diteliti, 25-61% penyintas covid, sangat rentan menghadapi varian P.1 Brazil. Antibody dari infeksi sebelumnya tidak cukup melindungi dari serangan virus. Aih ngeri je.

Akan tetapi Faria melihat harapan vaksin  bisa menjadi pilihan dari altrenatif yang tersedia   menahan serbuan P.1. Lagi-lagi masih sedikit data yang mengungkap reinfection setelah penyuntikan vaksin, karena kasusnya masih baru.

Menurut Faria, pandangan bahwa antibody bisa melindungi penyintas covid, ternyata memberikan data sebaliknya. Karena setelah 6 bulan antibody semakin melemah, dan sesungguhnya tidak berdaya.

Laporan terbaru dari the Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di rumah jompo Kentucky, Amerika, memberikan data yg lebih detail terhadap 100 penghuni yg terkena covid.

Dari lima pasien penyintas OTG maupun dengan gejala ringan, imun dalam tubuh tidak cukup sufficient mencegah reinfeksi. In this case, biasanya second reinfection bisa sangat severe. Ini sepertinya yang saya alami.

Data yg tersedia memang masih terbatas, namun apapun, harus diwaspadai jutaan penyintas OTG akan menghadapi serangan reinfeksi yang cukup agresif.

Saya sepakat agar sebanyak mungkin masyarakat luas segera mendapat vaksin. Vaksin generasi terbaru akan melindungi, at least in the sort run.

Di belahan bumi lain, di Afrika Selatan, 4.000 kasus reinfection ditemukan awal tahun ini. Mutasi dengan varian B.1.351 menjadi strain dominan di negeri itu. Dari kasus reinfection tersebut, umumnya lebih parah dari infeksi yang pertama.

Tampaknya herd immunity memang menjadi satu-satunya jalan keluar dari prahara pandemi covid. Akan tetapi kekuatan antibody dan durasi imunitas masih belum banyak diketahui dan belum pasti.

Masalah kemudian muncul dengan naiknya jumlah kasus covid awal bulan April di India, penghasil  60 persen vaksin  dunia agar herd immunity bisa dipenuhi.

Klik video untuk tahu lebih banyak - SOSIALISASI 3M DARI TANTOWI YAHYA

Rasa-rasanya India dengan jumlah penduduk 1,3 Milyar, terbesar ke dua di dunia, jelas akan memprioritaskan memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri melindungi rakyatnya.

Dunia layak khawatir dengan perkembangan ini, it become everyone's problem. 92 negara berkembang sangat tergantung dengan  produksi vaksin India. Pada saat yang sama virus covid terus bermutasi.

Untuk varian B.1.617 mutasi ini terjadi hingga 2-3 kali  maka hal ini yang menyebabkan kasus covid di India meledak.

Mutasi memang bagian dari evolusi biologi. Ada mutasi yg melemahkan virus namun juga justru ada yang membuat semakin agresif.

Setiap hari di India infeksi covid mencapai lebih dari 400 ribu orang dengan kasus 2 kematian setiap menit dan 4 kasus baru muncul perdetik! Ya saudara-saudara, perdetik!

Bencana covid di India, menjadi pengingat bagi kita semua, khususnya pemegang keputusan, jalan panjang di depan yang harus kita lalui menurunkan kasus covid.

Dunia akan mencatat angka kematian covid yang lebih besar di bandingkan tahun 2020. Embargo vaksin AstraZenega  yang dilakukan India jelas berdampak terhadap penurunan kasus covid di negara-negara lain termasuk Indonesia.

Harus ada kontigensi plan dan mitigasi memenuhi supply vaksin dari produsen lain dengan menjalin lobby dengan negara lain agar mendapat akses vaksin. Namun juga penting meningkat riset vaksin guna mengurangi ketergantungan supply vaksin dari luar negeri.

Saya berharap tulisan ini mengalir dengan baik meskipun saya masih menggigil menyelesaikan tulisan ini.

Saya hanya ingin melatih fungsi luhur otak karena serangan covid pertama membuat memory di otak berantakan. Kadang bicara agak sedikit out of context, tapi saya bisa menata logika tulisan saya dengan rapi. Dan saya akan terus menulis...

Baca juga: Saya Positif (lagi) Covid-19


Editor: Prasetyo Agung G


Berita Terkait