Sekeluarga Satu Rumah, 32 Hari Hidup Bersama Covid | Cek&Ricek
Sumber: Ceknricek.com

Sekeluarga Satu Rumah, 32 Hari Hidup Bersama Covid

Ceknricek.com -- “PETIR” itu menggelegar menyambar rumah kami pada hari Sabtu, 19 September 2020. Kami sekeluarga terpapar Covid-19. Tidak tanggung-tanggung, tujuh orang dalam satu rumah serentak mengidap virus ganas nan mematikan itu. Saya. Istri. Ibu. Dua adik perempuan. Termasuk anak saya yang baru berumur dua  tahun dan bapak kami yang sudah sepuh serta mempunyai penyakit bawaan. 

Semula jauh, kini di rumah

Panik. Galau. Khawatir. Sedih. Bingung. Pun bertumpuk hal lainnya berkecamuk mengaduk perasaan dan pikiran kami sekeluarga. Sungguh di luar perkiraan kami bahwa virus Corona yang tengah menjadi pandemi global dan perbincangan aktual di mana-mana itu bakal menyerang keluarga kami. Pemberitaan perihal Covid-19 beserta angka-angka statistik pengidapnya yang kian hari terus membengkak di Indonesia maupun di seluruh dunia, yang semula terasa begitu jauh, akhirnya menyergap langsung keluarga kami. Duh ……..  

Cerita bermula ketika ada anggota keluarga kami menderita demam. Beberapa hari kemudian, tepatnya Sabtu, tanggal 12 September 2020, saya mulai tidak enak badan. Gejala serupa dialami istri saya dan anggota keluarga yang lain.

Awalnya, kami mengira cuma sakit flu dan batuk biasa. Tak terpikir bahwa gejala seperti itu pertanda kami sudah terpapar Covid-19. Kami mulai curiga tatkala dalam  waktu beberapa hari hampir semua keluarga terserang demam.

Akhirnya, pada Jumat, 18 September, ibu dan adik memberanikan diri untuk melakukan tes usap (tes swab). Sore harinya, hasil laboratorium tes swab ke luar. Ibu dan adik positif Covid-19. Paniklah kami sekeluarga. 

Sekeluarga Satu Rumah, 32 hari Hidup Bersama Covid
Sumber: Istimewa

Kendati berbagai perasaan nelangsa menggelayuti pikiran, kami tetap berusaha berpikir, bersikap, dan bertindak jernih. Malam itu, kami mencari rumah sakit yang bisa melakukan tes swab.  Kebetulan ada rumah sakit yang bisa melaksanakan tes swab selama 24 jam. Dini hari Sabtu, tanggal 19 September, kami pergi ke rumah sakit tersebut untuk melakukan tes swab. Dan sore harinya hasil tes swab sudah bisa diketahui. Kami sekeluarga, tujuh orang dalam satu rumah positif terpapar Covid-19.

Tanpa berpikir panjang, kami melapor pada berbagai pihak ihwal kejadian yang menimpa kami sekeluarga ini. Alhamdullilah, semua men-support dengan cara yang terbilang luar biasa. Setelah berdiskusi, akhirnya diambil keputusan. Kami sekeluarga bakal dijemput ambulan untuk dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung yang menjadi rumah sakit rujukan Covid-19 di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Baca juga: Wawancara Khusus Dengan Jenderal Doni

Sabtu malam, 19 September 2020,  ambulan dan petugas paramedis dengan pakaian alat pelindung diri (APD) lengkap datang ke rumah menjemput kami. Kedatangan mereka membuat orang-orang yang tengah nongkrong di sekitar rumah berhamburan bubar. Suasana di depan rumah yang memang cukup ramai bertambah hiruk pikuk. 

Sekeluarga Satu Rumah, 32 hari Hidup Bersama Covid
Sumber: Istimewa

Malam Minggu itu, kami bertujuh masuk instalasi gawat darurat (IGD) RSHS. Setelah proses pengecekan kesehatan dan administrasi, kami ditempatkan di ruang perawatan khusus pasien Covid-19 di Gedung Kemuning RSHS. Lalu, dimulailah proses isolasi dan perawatan yang panjang itu.

Tidak kurang dari 25 hari kami dirawat di Ruang Kemuning. Suka, duka, sedih, dan gembira  kami lalui bersama para dokter, perawat, pasien dan petugas lain di sana. Ada satu hal yang amat membebani perasaan dan pikiran saya. Selama 13 hari pertama karantina, saya tidak bisa bertemu anak dan istri. Pasalnya, kami dirawat di ruang isolasi yang berbeda lantai. Istri, anak, dan dua adik perempuan kami dirawat di lantai dua, sementara saya diisolasi di lantai lainnya. 

Baru pada hari Jumat, tanggal 2 Oktober 2020, saya dipindahkan ke lantai dua, satu lantai dengan tempat perawatan anak, istri, dan adik-adik. Kendati berbeda kamar, situasi dan kondisi ini lumayan membuat saya lega. Malam itu, dari balik kaca jendela kamar, saya baru bisa melihat istri, anak, dan adik-adik langsung dengan mata kepala sendiri setelah terpisah selama tiga belas hari isolasi. Alhamdulillah, kondisi mereka sehat dan baik. 

Positif lagi, postif lagi

Selama 25 hari masa karantina, kami beberapa kali dites swab. Hasilnya ….. positif lagi …. lagi-lagi positif. Kami down dan sangat memukul perasaan kami yang ingin segera pulih dari terjangan penyakit Covid-19.

Masa isolasi dan perawatan Covid-19 sendiri sejatinya tidak semenggiriskan yang dibayangkan orang-orang di luar. Kami, para pasien yang terpapar virus ganas itu mendapatkan perawatan yang maksimal, menyenangkan dan manusiawi dari para dokter, perawat, serta petugas lainnya di RSHS. Dukungan keluarga dan petugas medis tersebut menguatkan kami untuk tetap bersemangat mendapatkan kesembuhan. 

Selama dirawat di RSHS, kami diberi obat-obatan, vitamin, suplemen, makanan, dan minuman yang optimal guna meningkatkan imun atau kekebalan tubuh demi membendung merajalelanya si Corona yang masih betah ngendon di dalam raga. Soal rasa makanan dan minuman hanya dua deskripsinya. Enak ….. dan uenak tenan…… 

Sementara untuk mengusir kejenuhan, kami melakukan banyak hal menyenangkan seperti membaca atau bermain dengan anak. Tentu saja, saya tak melewatkan momen bersejarah yang tidak mungkin terlupakan ini dengan menyalurkan hobi ….. jepret sana ….. jepret sini ..... Memfoto berbagai subjek dan objek yang ada di ruang perawatan dengan kamera alakadarnya di handphone. He…. he …. He…..

Sekeluarga Satu Rumah, 32 hari Hidup Bersama Covid
Sumber: Istimewa

Tanpa bermaksud sengaja melanggar peraturan yang tidak memperbolehkan pengambilan foto di lingkungan rumah sakit, saya hanya berangan-angan dokumentasi sederhana itu bisa menjadi informasi berharga menyangkut dedikasi yang sungguh  luar biasa dari tim medis dalam merawat pasien Covid-19. Sebuah hal yang terkadang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian orang di luaran sana. Pun terkait perjuangan pasien dalam meraih kesembuhan dari ganasnya penyakit Covid-19. 

Sekalipun serasa dimanjakan, kami tidak lantas bersenang hati. Lantaran ini adalah masa karantina. Masa perawatan dan pemulihan dari Covid-19 yang ganas dan mematikan. Di dalam kesendirian, kami dibayangi kecemasan. Di tengah penantian, kami ditelikung kekhawatiran. Akankah saya dan keluarga bakal segera kembali ke rumah tanpa kurang suatu apa? 

Akhirnya,  lorong panjang penantian yang menjenuhkan itu menemukan ujungnya pada hari Senin,12 Oktober 2020. Kami mendapat informasi bahwa hasil tes swab kami negatif. Kegembiraan kami membuncah keesokan harinya, Selasa, tanggal 13 Oktober 2020. Tes swab-nya negatif lagi. Alhamdullilah. Kami bisa pulang. Karena RSHS menerapkan aturan, pasien Covid-19 bisa ke luar dari karantina bila dua kali berturut-turut tes swab-nya memperlihatkan hasil negatif. 

Benar saja, hari Rabu, 14 Oktober 2020, saya, istri, dan anak bisa pulang dari RSHS. Kami menyusul ibu yang sudah pulang ke rumah dua minggu sebelumnya pada Rabu, 30 September 2020. Kegembiraan kami lantaran sudah pulih dari Covid-19 dan bisa kembali ke rumah dengan  perasaan sedih. Kami mesti meninggalkan bapak dan dua adik di RSHS untuk terus menjalani perawatan. Hasil tes swab mereka masih positif. Semoga bapak dan adik-adik juga segera sehat seperti sediakala.

Covid itu nyata, bukan rekayasa 

Atas kesembuhan dari Covid-19, ucapan syukur tak terhingga kami sekeluarga panjatkan kali pertama dan paling utama ke hadirat Illahi Rabbi, Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Ucapan terima kasih kami sampaikan pula buat keluarga, teman, dan saudara atas dukungan, doa, dan bantuannya. Terlebih bagi seluruh tim medis RSHS, mulai dokter, perawat, cleaning service, satpam dan petugas lainnya. Dedikasi dan perjuangan mereka luar biasa baiknya dalam merawat kami sejak kedatangan, karantina, hingga kepulangan. Semoga amal ibadah segenap tim medis RSHS diganjar pahala berlipat oleh Allah Azza Wajalla. Terima Kasih ..... Terima Kasih ..... Terima Kasih untuk semuanya.

Pengalaman saya dan keluarga kiranya bisa diambil hikmah dan dijadikan pelajaran. Bahwa virus Corona memang ada dan nyata benar ancamannya pada kesehatan maupun nyawa manusia. Bahwa Covid-19 bukan fiksi atau konspirasi.

Pandemi Corona Virus Diseases - 2019 atau Covid-19 yang melanda Indonesia sejak Senin, 2 Maret 2020, belum berakhir. Bahkan kasus positif virus Corona tidak memperlihatkan penurunan. Jumlahnya bertambah besar setiap hari. Dari semula hanya tiga pengidap pada awal penyebaran, Kementerian Kesehatan mencatat 344.749 kasus positif Covid-19 hingga Rabu, 14 Oktober 2020. Pada hari yang sama, penderita yang sembuh mencapai 267.851, dan meninggal dunia 12.156 orang.  

Sederetan angka statistik itu menunjukkan :  “perang melawan Covid – 19 belum dimenangkan”. Alhasil, kewaspadaan menekan penyebaran pandemi Covid – 19 tidak boleh dikendurkan di tengah upaya relaksasi berbagai sendi kehidupan sosial ekonomi agar Indonesia tak terjerembab ke dalam resesi. Maka, penerapan protokol kesehatan menjadi sebuah keniscayaan. Menggunakan masker dengan ingin. Mencuci tangan dengan rajin. Menjaga jarak dengan disiplin. Sebagaimana kepastian tagline atau slogan yang menyebutkan bahwa lebih baik mencegah ketimbang mengobati. 

Bandung, 15 Oktober 2020

Baca juga: Saya Positif Covid (1)

Baca juga: Saya Positif Covid (2)


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait