Yenny Wahid: Covid Bisa Menyerang Siapa Saja dan Fatal Akibatnya | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Yenny Wahid: Covid Bisa Menyerang Siapa Saja dan Fatal Akibatnya

Ceknricek.com -- Putri Mantan Presiden Gus Dur, Yenny Wahid, memilih untuk lebih banyak berkegiatan di Jogjakarta, sejak pandemik Covid melanda. Direktur Wahid Institut ini mengaku mertuanya pernah terinfeksi Covid. Yenny pun berpesan, agar publik tidak menyepelekan ancaman virus ini.

"Kematian adalah takdir yang tak bisa dihindari. Namun berikhtiar agar terhindar dari bahaya merupakan kewajiban setiap makhluk,"kata Komisaris Independen Garuda Indonesia ini. 

Berikut wawancara Ceknricek.com dengan Yenny Wahid, Jum'at (23/11/20) ditengah kesibukannya mengikuti beragam webinar:

Sekarang kabarnya boyongan ke Jogja ya? Apakah ini untuk menghindari pandemik Covid karena Jakarta zona merah atau ingin cari suasana baru? 

Kebetulan kami di Jogja ada rumah mewah atau mepet sawah, hahaha. Sejak anak-anak kecil setiap liburan kami ke sana untuk mengenalkan suasana alam di desa pada anak-anak. Mereka bisa lihat sapi, kambing, beternak ayam, menanam sayur dan berbagai kegiatan lainnya.

Sejak tahun lalu area sekitar rumah kami kembangkan menjadi sarana edukasi dan pelatihan untuk warga desa. Ada taman berbasis teknologi canggih dimana anak-anak bisa belajar tentang binatang dengan menggunakan teknologi augmented reality. Ada juga tempat pelatihan untuk ibu-ibu, mulai dari menjahit sampai membuat keju. Juga ada wall panjat tebing kecil untuk anak-anak. Karena kebetulan saya juga ketua Federasi Panjat Tebing Indonesia.

Yenny Wahid: Covid Bisa Menyerang Siapa Saja dan Fatal Akibatnya
Sumber: Istimewa

Namun sejak covid semua aktivitas ini kami setop dahulu untuk umum agar tidak menjadi klaster penularan baru. Nah, anak-anak kami senang sekali karena mereka tetap bisa main sepeda di wilayah yang luas, kadang main layangan, atau menyusuri pinggir sawah mencari pohon putri malu. Semua hal yang tidak bisa mereka lakukan di kota karena keterbatasan lahan didaerah rumah kami di Jakarta. 

Akhirnya dengan pertimbangan itu kami kemudian memilih untuk lebih sering di Jogja selama pandemik, karena anak-anak toh masih sekolah online. Walaupun saya dan ayahnya masih gantian bolak balik ke Jakarta atau kota lain karena tuntutan pekerjaan kami. 

Apa kegiatan selama tinggal di Jogja?

Bangun tidur ke kandang ayam, ambil telur untuk sarapan. Olahraga ringan. Lalu online meeting atau mengawasi anak-anak sekolah online sambil berjemur matahari. Kebetulan anak-anak belajarnya di teras rumah. Habis makan siang mengumpulkan sisa makanan untuk dikasih keayam, hahaha. Setelah itu biasanya jadi pembicara di webinar atau meeting online lagi.

Yenny Wahid: Covid Bisa Menyerang Siapa Saja dan Fatal Akibatnya
Sumber: Istimewa

Sore main sepeda dengan anak-anak, memasak kue bareng, bercocok tanam, mengurus sayur, malam ngaji di musholla kecil, lalu makan malam dihalaman di bawah sinar bulan dan bintang. Setelah itu membaca buku atau webinar lagi. Atau ngobrol-ngobrol dengan kawan atau tamu di kawasan outdoor. Setelah itu mendongeng dan ngeloni anak-anak tidur.

Apakah anda masih aktif memantau issue pandemik covid?

Pasti terus memantau karena berhubung dengan kepentingan masyarakat banyak.

Di jogja sendiri bagaimana? Apakah cukup mengkhawatirkan atau biasa-biasa saja?

Di Jogja lebih tenang dibanding kota besar seperti Jakarta. Masyarakat banyak membuat sistem lock down atau karantina mandiri. Ada kesadaran tinggi di masyarakat untuk saling menjaga. Kalau kami, kebetulan karena di desa, jadi lebih nyaman dan tidak was-was karena exposure dengan orang ramai lebih terjaga.

Bagaimana cara anda berikhtiar agar tidak tertular Covid?

Selalu menggunakan protokol kesehatan dalam beraktivitas. Dibanyak sudut rumah kami sediakan desinfektan dan sabun cuci tangan. Juga box masker dibeberapa tempat agar sebelum keluar kita selalu memakai masker. Selain itu kami rajin pakai minyak kayu putih, minum jamu-jamuan dan bawang putih untuk menguatkan imunitas tubuh. Juga konsumsi jus sayur segar, serta tidur cukup dan kena sinar matahari. Kami juga membeli sinar UV kecil yang kami letakkan dalam box tertutup rapat- untuk menghindari kena mata dan kulit- yang kami design sendiri, untuk mensterilkan berbagai barang yang kami pesan secara online sebelum kami pakai.

Bagaimana cara memberi pemahaman pada anak anak agar mereka sadar protokol kesehatan?

Dimulai dari kebiasaan dan meniru orang tua. Anak harus selalu diingatkan karena mereka pasti lupa. Tapi lama-lama pasti terbiasa. Support juga dengan membelikan masker yang lucu atau membuat ritual menyenangkan ketika cuci tangan.

Banyak kyai sepuh NU yang wafat karena Covid. Apakah anda punya semacam gerakan kampanye ke ponpes untuk menerapkan protokol kesehatan secara lebih ketat?

Ya, saya kebetulan bergabung dalam Gerakan Pakai Masker yang aktif melakukan penyuluhan di berbagai pesantren. Pendirinya adalah banyak tokoh, termasuk Gus Mus, dll.  Pesantren perlu diaktifkan untuk memberi pemahaman kepada seluruh pemangku kepentingan, karena pesantren rawan menjadi klaster penularan.

Apa pernah punya pengalaman mengurus saudara atau teman yang positif Covid?

Mertua kebetulan sempat kena covid dan harus masuk RS. Kebetulan memang beliau aktif dan masih sering menghadiri acara pengajian, walaupun sudah dilarang. Alhamdulillah dengan dibantu beberapa supplemen, dalam waktu beberapa minggu beliau sudah sehat dan kembali ke rumah. Sekarang beliau lebih menahan diri dan tidak lagi keluar rumah.

Ada pesan-pesan kepada masyarakat, agar mereka patuh dan taat pada himbauan pemerintah untuk secara ketat menerapkan protokol kesehatan?

Ditengah masyarakat berkembang teori konspirasi bahwa covid ini adalah rekayasa. Saya tidak ingin mengiyakan atau membantah teori tersebut karena itu membutuhkan investigasi menyeluruh untuk pembuktiannya. Yang jelas, konspirasi atau tidak, covid itu ada dan bisa menyerang siapa saja dan akibatnya bisa fatal. Jangan sepelekan covid karena kalau sudah terkena, secara statistik, 1-3% penderita bisa meninggal. Jangan sampai itu menimpa kita dan keluarga. Kematian adalah takdir yang tak bisa dihindari, namun berikhtiar agar terhindar dari bahaya merupakan kewajiban setiap makhluk.

Sudah pernah di rapid test atau swab? Berapa kali dan bagaimana hasilnya?

Sudah sering banget hehehe, baik swab maupun rapid. Swab sudah dua kali, rapid sudah berkali-kali terutama kalau kami akan naik pesawat. Bahkan kami juga punya stock alat rapid di rumah untuk para staf yang baru kembali dari pulang kampung misalnya.

Ohya, saya juga ingin memberi tahu bahwa naik pesawat itu cukup aman karena udara dalam pesawat, setiap 3-4 menit akan ditarik keluar dan digantikan udara bersih dari luar, serta disaring dengan menggunakan hepa filter atau filter penyaring udara yang bisa membunuh kuman dan patogen sampai 99%. Sehingga banyak ahli bahkan menyimpulkan bahwa udara di dalam pesawat lebih bersih dibanding udara di perkantoran. 

Baca juga: Jadwal Vaksin COVID-19 Kemungkinan Besar Molor

Baca juga: Dihadapan Calon Anggota HMI, Bamsoet Ajak Pemuda Terlibat Aktif Penanganan Covid-19


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait