Bersiap Memasuki The New Normal | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Bersiap Memasuki The New Normal

Ceknricek.com -- Memang sepertinya, ke sini arahnya. Menolak lockdown, menolak herd immunity tapi menawarkan new normal. Ini bukan menyerah apalagi mengaku kalah dalam perang melawan COVID-19, saya menyebutnya beradaptasi dengan perubahan karena COVID-19. Istilahnya lebih halus, agar tetap terlihat mempunyai kekuatan strategi dalam mensikapi pandemi.

Memang:

- Selama belum ditemukan vaksin untuk melawan COVID-19.

- Selama karakteristik COVID-19 dan penyebarannya tidak berubah atau berubah tapi lebih berbahaya.

- Selama COVID-19 belum enyah karena faktor alamiah.

Maka:

Masyarakat dunia akan masuk pada satu era relasi tatanan baru sesuai protokol COVID-19:

- Jaga jarak

- Gunakan masker

- Cuci tangan 

Sehingga yang terpenting saat ini adalah mempersiapkan diri memasuki era normal baru. Jika demikian, harusnya komunikasi kebijakan publik pemerintah ke arah sini diarahkan. Jujur saja, memang ke arah sini rakyat akan diajak selamat. Ini penting agar rakyat siap dan tumbuh kepercayaan dirinya hidup damai bersama Covid-19.

Baca juga: Akhirnya Sepak Bola Kembali Merumput

Kejujuran dan keterbukaan menjadi sangat penting dalam komunikasi krisis. Ini adalah fase ketiga dalam komunikasi krisis yang sebaiknya tidak diabaikan. 

Fase pertama, saat Indonesia belum terjangkit COVID-19, dengan penuh percaya diri pemerintah justru menyiapkan strategi meningkatkan kunjungan wisatawan asing, menggunakan buzzer dan influencer. Strategi ini sebenarnya bisa dipatahkan dengan logika sederhana, kalau seluruh transportasi dunia dibatasi, bagaimana  dapat meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia?

Fase kedua, saat Indonesia sudah mulai terjangkit COVID-19, pemerintah dihadapkan pada kebijakan lockdown (karantina) atau tidak. Keputusannya cukup moderat, PSBB. Kebijakan ini tidak mematikan sektor ekonomi, transportasi dll tapi menyelamatkan (melindungi) rakyat. Praktiknya di lapangan mulai efektif, tapi kembali melonggar karena polemik Mudik vs Pulang Kampung, kerumunan McD Sarinah dan kerumunan penumpang bandara. Pada kasus pertama pengawasannya cukup baik, rakyat mulai patuh. Namun pada kasus kedua dan ketiga, ini membongkar kembali kepatuhan rakyat untuk mematuhi protokol COVID-19:

- Jaga jarak

- Gunakan masker

- Cuci tangan

Kemudian rakyat bertanya-tanya, kemana sebenarnya arah kebijakan pemerintah dalam menangani COVID-19? Jawabannya ada di fase ketiga

Fase ketiga,  The new normal. Jika ke sini arahnya, sebaiknya pemerintah jangan kehilangan momentum lagi seperti pada fase pertama dan fase kedua. Susunlah strategi komunikasi publik yang baik untuk mengajak dan mempersuasi masyarakat agar bersiap memasuki era normal baru.

Misalnya:

- Lomba poster, bikin artikel, film pendek, iklan dll.

-  Kampanye ke kelompok rentan atau komunitas kerumunan seperti pasar, mall, tempat ibadah atau sekolah.

- Memasukkan cara hidup sehat pada masa pandemi COVID-19 dalam kurikulum pembelajaran, dll. 

Baca juga: Tuntutlah Ilmu Meski di Masa Pandemi

Dalam konteks ini, menyelenggarakan konser itu sebenarnya bagus. Tapi karena pesannya tidak tersampaikan dengan tepat, pemilihan timing serta pemilihan strategi komunikasinya kurang pas, muncullah semacam sinisme publik. Rakyat lagi susah kok bikin konser. 

Buat kampanye The New Normal seramai, semeriah, seluas dan semasif mungkin seperti pada saat kampanye Pilpres itu.  Libatsertakan semua tokoh dan pemuka, musisi/seniman termasuk buzzer dan influencer. Misalnya, saya membayangkan Mas Mustafa Nahra dan Mas Deni Siregar sebagai influencer di media sosial atau Ahmad Dani dan Jerinx sebagai musisi bersatu dalam kampanye ini.

Kita siap masuk new normal, kita siap berdamai dengan Covid-19. New normal dan hidup berdamai tersebut dimulai dari merekatkan elemen bangsa dari sisa polarisasi politik yang ada. Dimulai dari normalisasi dan perdamaian para netizen, buzzer dan influencer di media sosial.

Siap?

BACA JUGA: Cek INTERNASIONAL, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait