Doctor Sleep, Titik Temu Sudut Pandang Kubrick dan King | Cek&Ricek
Foto: The New York Times

Doctor Sleep, Titik Temu Sudut Pandang Kubrick dan King

Ceknricek.com -- Salah satu novel horor karya novelis legendaris Amerika, Stephen King, kembali diangkat ke layar lebar. Ialah Doctor Sleep (2019) yang saat ini sudah tayang di bioskop-bioskop tanah air. Film ini merupakan sekuel dari The Shining (1980) yang juga merupakan adaptasi dari novel Stephen King dengan judul yang sama (1977).

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Stephen King tidak menyukai adaptasi dari The Shining garapan Stanley Kubrick. Ia menyoroti sosok Jack Torrance yang diperankan Jack Nicholson yang dianggap justru memiliki kegilaan dari dalam diri ketimbang karakter aslinya, yang merupakan korban dari roh jahat. King juga menyoroti karakter Wendy Torrance, yang diperankan oleh Shelley Duvall lantaran dianggap hanya sebagai wanita yang berteriak-teriak semata.

Meski demikian, film The Shining justru dianggap sebagai salah satu film terbaik versi American Film Institute. Tak heran apabila publik khususnya penggemar film horor menantikan sekuelnya yang juga merupakan adaptasi dari novel King berjudul sama yang dirilis 2013 lalu.

Foto: Warner Bros

Bagi Anda yang belum menyaksikanThe Shining, ada baiknya menonton film itu terlebih dahulu, atau setidaknya membaca sinopsis dari film tersebut. Dengan demikian, Anda lebih mengerti karakter dari jagoan utama dalam film ini, Danny Torrance yang merupakan penyintas dari film The Shining.

Berbeda dengan film pertama yang fokus kepada hal-hal supranatural yang terjadi di Hotel Overlook, Doctor Sleep justru lebih membahas apa yang terjadi kepada Danny 30 tahun kemudian, khususnya kemampuannya untuk telepati dan melakukan astral-projection. Diceritakan setelah selamat dari Hotel Overlook, Dan berusaha mengekang kemampuan shining miliknya dengan menjadi pemabuk seperti ayahnya.

Dan (Ewan McGregor) kini berubah menjadi pria tampan urakan, yang gemar bertarung di bar dan menikmati cinta satu malam. Di lain sisi, saat ini terdapat sekte True Knot yang dipimpin oleh Rose the Hat (Rebecca Ferguson). Mereka menggunakan steam yang dihasilkan dari para pemilik shining yang sekarat, untuk memperpanjang umur mereka. Untuk mengekstrak steam itu, mereka menculik dan menyiksa para pemilik shining hingga tewas.

Foto: Warner Bros

Dan yang berusaha untuk meninggalkan hidup lamanya pindah ke Frazier, New Hampshire. Di sana ia mengikuti program rehabilitasi alkohol dan mendapat pekerjaan untuk mendampingi para lansia di panti jompo. Dan menggunakan kekuatan shining miliknya untuk berbicara secara telepati kepada para lansia, menenangkan mereka yang khawatir menunggu ajal mereka. Di situlah julukan Doctor Sleep melekat pada dirinya.

Baca Juga: Duo Bintang L. Jackson dan Anthony Mackie Hadir di Trailer "The Banker"

Suatu ketika, ia didatangi oleh arwah dari Dick Hallorann, kepala koki di hotel Overlook. Hallorann meminta Dan untuk menyelamatkan Abra Stone (Kyliegh Curran) gadis cilik yang juga memiliki kekuatan shining. Film ini akhirnya berkutat tentang bagaimana upaya Dan serta Abra untuk bisa selamat dari serangan True Knot.

Foto: Warner Bros

Salah satu kepintaran dari Mike Flanagan, sutradara Doctor Sleep adalah dirinya berhasil membuat film ini sebagai sekuel dari The Shining versi novel, dengan tetap memasukkan unsur-unsur film milik Kubrick. Di awal film, penonton kembali diajak bernostalgia dengan tragedi Hotel Overlook, dengan reka adegan apa yang terjadi di tahun 1980 silam.

Flanagan yang sebelumnya dikenal akan karya-karyanya seperti Absentia (2011), Oculus (2013), dan Gerald’s Game (2017) juga berhasil mengangkat tema trauma masa kecil dan kecanduan yang dialami oleh Dan. Hal ini tak terlepas dari aksi ciamik McGregor yang terlihat mendalami karakter Dan itu sendiri.

Sinematografi Michael Fimognari dan penata suara The Newton Brothers juga berhasil menghadirkan suasa hening dan mencekam dari film ini, ditambah adegan-adegan ulang dari film pertama yang membuat film ini terasa seperti gaya Kubrick. Bedanya, jika di The Shining lebih memfokuskan sudut pandang dari Jack, Doctor Sleep melakukannya dari sudut pandang Danny, sama seperti di novel milik King.

Foto: Warner Bros

Di sepertiga bagian akhir film, Dan serta Abra juga kembali ke Overlook supaya bisa menaklukkan Rose. Hal ini membuat penonton kembali bisa berkenalan kembali dengan para penghuni gaib Hotel Overlook. Dalam hal ini, Flanagan berhasil mengadaptasi novel Doctor Sleep sambil secara bersamaan membuat sekuel film versi King dan Kubrick.

Meski demikian, harus diakui bahwa durasi film yang mencapai 2 jam 32 menit itu agak terlalu lama untuk film horor. Selain itu, alur cerita terkesan terlalu bertele-tele dan akhirnya membuat Doctor Sleep bisa benar-benar membuat penontonnya tertidur, khususnya bagi yang menonton film ini sepulang kerja. Berbeda dengan film milik Kubrick yang berdurasi hampir sama (2 jam 24 menit versi Amerika), film ini tak terlalu berhasil mengajak penonton untuk tertarik mengikuti tiap adegan.

Satu kredit positif lainnya yang bisa diberikan ialah film ini tidak hanya mengandalkan adegan kagetan yang jamak ditemui di film horor. Bahkan, film ini terkesan jujur untuk kemunculan mahluk-mahluk gaibnya, termasuk ketika adegan yang memang mengagetkan dikemas secara natural.

BACA JUGA: Cek Berita SELEBRITI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait