SUmber: KPI

Ibnu Haitsam: Sang Bapak Optik Modern

Ceknricek.com -- Di Kairo, pada permulaan abad ke-11 muncul salah seorang tokoh ahli matematika dan ahli fisika yang paling penting sepanjang abad pertengahan. Ia bernama Abu Ali Muhammad bin Al-Hasan bin Al-Haitsam yang di dunia barat dikenal dengan nama Alhazen.

Ilmuwan Islam yang juga ahli dalam pengobatan dan filsafat ini lahir di Basrah (Irak) pada 965 M. Ia memulai pendidikan awalnya di Basrah sebelum akhirnya dilantik menjadi pegawai pemerintah di tanah kelahirannya. Setelah beberapa lama berkhidmat dengan pihak pemerintah setempat, ia mengambil keputusan merantau ke Ahwaz dan Baghdad.

Karena kecintaannya yang mendalam pada ilmu pengetahuan, hal itu membawa ia untuk berhijrah ke Mesir. Selama di Mesir, Ibnu Haitsam telah mengambil kesempatan melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saluran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak.

Namun, karena terlalu percaya pada nilai-nilai praktis, pada pengetahuan matematikanya, ia gagal melaksanakan tugas tersebut. Ia pun menyadari kegagalannya dan tidak lagi muncul di depan publik hingga sang khalifah yang memerintah pada saat itu wafat (Boer; 2019).  

Sumber : Gala Islamika

Dalam riwayat lain ia pura-pura gila,agar mendapatkan hukuman ringan dari penguasa Mesir, hinga akhirnya Dinasti Fatimiyah, yang sedang berkuasa saat itu hanya menempatkannya dalam tahanan rumah. Namun, dari masa inilah sebenarnya Ibnu Al-Haitsam mencurahkan dirinya pada karya sastra dan ilmiah hinga menelurkan berbagai pemikiran yang brilian, dan ratusan tahun kemudian mampu mengubah lanskap dunia modern.

Kamar Gelap Haitsam

Sebagai tahanan rumah, Al-Haitsam  kemudian mendapati sebuah  temuan penting ketika berada di sebuah ruang gelap. Saat ia sedang di ruang itu, tiba-tiba cahaya menembus dari titik lubang kecil masuk dalam kamarnya. Ia bisa melihat gambar pada objek di luar yang diterangi cahaya matahari.

Haitsam pun merasa penasaran, ia lantas melakukan berbagai percobaan, hingga akhirnya menyimpulkan bahwa cahaya bergerak lurus, dan pandangan terjadi ketika cahaya lurus masuk ke mata. Gagasan inilah yang akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang sangat baru saat itu. Temuan tersebut kemudian membawanya terbebas dari hukuman.  

Haitsham Eksperimen. Sumber : Mahatera

Haitsam menulis temuannya dalam bukunya  Al-Manazhir, atau  Book of Optics atau De Aspectibus, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan jadi rujukan para ilmuan setelahnya. Dari buku yang akhirnya juga menginspirasi para pemikir barat masa pencerahan seperti Roger Bacon, René Descartes, Christian Huygens, Johannes Kepler, Leonardo da Vinci, dan lainnya.

Ocular-1 Tribute to Alhazen. Sumber : Pantea Karimi

Ia juga turut memengaruhi nama-nama lain seperti, Robert Boyle dan Robert Hooke, yang mengembangkan portable camera obscura, sampai pula Jacques Daguerre dan Joseph Nicephore Niepce yang pada 1822 melahirkan heliografi sebuah foto pertama di dunia hingga lahirnya kamera-kamera modern saat ini. Karena dianggap berjasa inilah kemudian julukan “bapak optik modern” disematkan kepada Ibn al-Haitsam.

Persepsi Optika

Dasar-dasar tentang optik sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman keemasan alam pemikiran Yunani. Namun yang membedakannya, Al-Haitsam malah melakukan telaah kritis terhadap karya-karya pemikir Yunani terdahulu seperti teori Ptolemy dan Euclid yang mengatakan manusia melihat benda melalui pancaran cahaya yang keluar dari matanya.

Manuskrip Al Haitsham.Sumber: Tribun

Menurut Haitsam, bukan mata yang memberikan cahaya, tetapi benda yang memantulkan cahaya menuju mata hingga terjadi penglihatan. Ia juga dianggap mewarisi apa yang kini disebut sebuah metode ilmiah modern, melakukan percobaan untuk menguji sebuah teori.

Profesor Emeritus Sejarah Sains Arab dari Harvard University Abdelhamid Sabra yang juga ahli tentang Ibnu Al-Haitsam menggambarkan sosok ilmuan ini sangat kritis. Dalam Harvard Magazine edisi September-Oktober 2003, ia menyampaikan apa yang pernah diucapkan oleh Ibnu Al-Haitsam.

"Jika tujuan akhir seseorang belajar adalah mencapai kebenaran, maka ia harus membuat dirinya sebagai musuh dari apa yang semua telah dibacanya."

Dalam buku yang lain, Boer juga mengungkapkan, pemikiran Haitsam selalu diungkapkan dengan gaya matematis. Menurutnya, substansi tubuh terdiri atas gabungan sifat-sifat esensialnya, sebagaimana satu-kesatuan sama dengan jumlah dari bagian-bagiannya, dan sebuah konsep sama dengan jumlah tanda-tandanya.

Hal inilah yang nantinya juga memberikan ilham kepada saintis Barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori Haitsham tersebut telah membawa pemikir Barat kepada penemuan film yang kemudian disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita tonton pada masa kini.

Akhir Hayat

Ibnu Al Haitsam mengembuskan napas terakhirnya pada 1040 M atau 55 tahun sebelum Perang Salib I berkecamuk. Sepeninggalnya Haitsam, warisan ilmu optik dan karya-karyanya yang lain menjadi pijakan ilmuan selanjutnya. Dunia pun mengenangnya.

Dalam buletin Himpunan Optika Indonesia (HOI) September-Desember 2014, pada 2015 dunia memperingati 1.000 tahun pengembangan ilmu optika oleh Ibnu Al Haitsam. Pada tahun yang sama, empat tahun yang lampau, juga bertepatan dengan 200 tahun pengetahuan cahaya sebagai gelombang oleh Fresnel di 1815.

Sumber: Pantea Karimi

Pada 2015 juga bersamaan dengan 150 tahun teori elektromagnetika oleh Maxwell di 1865. Juga tepat 110 tahun teori kuantisasi photon dari efek fotolistrik oleh Einstein di 1905. Tahun itu  juga diperingati sebagai 100 tahun teori relativitas khusus yang menempatkan cahaya dalam kerangka rumusan ruang dan waktu oleh Einstein pada 1915, dan 50 tahun pengembangan serat optik yang dirintis oleh Kao di 1965.

Sumber: Republika

Sidang Umum ke-68 dari PBB 20 Desember 2013, mengeluarkan resolusi nomor 221 yang menetapkan 2015 sebagai International Year of Light and Light Based Technologies yang didukung oleh 35 negara. Pada 19 Januari 2015, di markas UNESCO Paris diluncurkan sebuah kampanye pentingnya sains bidang cahaya dengan nama program 1001 Inventions and the World of Ibn Al-Haytham.

Untuk mengenang kontribusi penting ilmuan muslim ini pada dunia optik, namanya diabadikan untuk sebuah kawah di bulan “The crater Alhazen” dan untuk nama asteroid 59239 Alhazen.



Berita Terkait