Ceknricek.com - Bahaya jejak digital sebenarnya sudah dilontarkan jauh-jauh hari oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Peringatan itu setidaknya ia sampaikan melalui akun Twitternya, @pramonoanung, pada 3 Januari lalu.
“Bagi siapapun yg pengen jabatan politik, dan harus ikut berkompetisi dlm pilihan, hati2 dengan sampah digital yg berkaitan dgn tindakan moralitas akan tersimpan dengan rapi dan akan dikuarkan pada saat yg tepat #BOMSampahDigital #SekedarInfo,” tulisnya.
Peringatan Pramono terbukti, ketika tak lama kemudian Bupati Banyuwangi Azwar Anas mengaku menerima gambar-gambar dari masa lalunya. Ada dua foto seronok yang kemudian beredar luas di dunia maya. Salah satunya menunjukkan kaki mulus seorang perempuan yang ditumpangkan ke perut pria yang mirip Azwar.
Azwar tidak menjelaskan bagaimana gambar-gambar itu bisa beredar, termasuk siapa yang pertama kali mengambil dan menyimpannya. Yang pasti, Azwar yang saat itu digadang-gadang sebagai calon wakil gubernur Jawa Timur -- berpasangan dengan Saifullah Yusuf -- kemudian memilih mengundurkan diri. Posisi Azwar digantikan oleh Puti Guntur Soekarno.
Kasus Azwar setidaknya membuktikan bahwa jejak digital merupakan "barang" berharga sekaligus mematikan. Berbeda dengan jejak fisik, jejak digital sangat sulit dihapus. Ibarat bom waktu, jejak digital bahkan bisa meledak sewaktu-waktu, apalagi jika ada pihak-pihak tertentu yang membidik pelakunya sebagai target, meski sekadar “mirip” sekalipun.
Baca : Rahayu Saraswati Djojohadikusumo : "Saya Serahkan ke Kakak Saya” (Bagian 2)
Heboh “Video Aryodj”
Kini, masyarakat kembali digegerkan oleh jejak digital berupa video syur bertajuk “aryodj di apartemen”. Video yang beredar luas di dunia maya sejak Minggu (27/5) itu ramai diperbincangkan, karena menampilkan adegan tak senonoh dua wanita dengan seorang pria yang disebut-sebut mirip anggota DPR dari Partai Gerindra, Aryo Djojohadikusumo.
Penyebutan nama tersebut memicu reaksi keluarga besarnya. Diwakili adiknya, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo, mereka melaporkan peredaran video panas itu ke Kementerian Komunikasi dan Informartika (Kominfo), Senin (28/5). Apakah pihak keluarga akan menempuh langkah hukum terkait peredaran video Aryodj? “Saya serahkan ke kakak saya (Aryo),” jawab Rahayu.
Sejauh ini, upaya meminta klarifikasi dari Aryo belum membuahkan hasil. Politikus kelahiran Jakarta, 25 April 1983 itu seperti raib ditelan bumi. Ia tak menampakkan diri meski berkali-kali dicegat sejumlah wartawan di kantornya.
Di tengah situasi itu, Aryo malah mengunggah persiapan pernikahannya lewat Sachi & Aryo Wedding Invitation and Reservation di sachiaryo.com, Sabtu (2/6). Menyimak tulisan di foto mereka, “Sachi & Aryo 4 August 2018,” pernikahan Aryo – Sachi dipastikan akan digelar pada tanggal tersebut.
Baca : Irwan Martua: Skandal Seks Senjata Ampuh Serang Lawan (Bagian 3)
Ketua Bidang advokasi DPP Gerindra Habiburokhman mengatakan, sampai saat ini partainya belum mengambil tindakan hukum terkait video tersebut. Alasannya, video itu tak menuduh Aryo secara langsung.
“Kan itu ditulis Aryodj, bisa saja seorang DJ kan, seorang disc jockey, kita kan enggak ngerti. Tidak disebut Aryo kader Gerindra. Kalau dibilang mirip, mirip, mirip, mirip, susah. Kami enggak punya legal standing untuk melapor, enggak punya hak dasar melapor, karena enggak ada yang menuduh itu adalah Aryo, dikatakan mirip-mirip,” katanya.
Sikap DPR
Meski baru sekadar mirip, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR rupanya mulai bergerak. Anggota MKD DPR F-PAN Muslim Ayub berjanji akan memproses video Aryodj selepas Idul Fitri 1439 H, yang diperkirakan jatuh pada Jumat (15/6).
Baca : Sinta Melyati Meminta Pertanggungjawaban (Bagian 4)
“Itu (video Aryodj ) tetap kita lanjuti, bukan karena dia anggota DPR kita diamkan, itu enggak. Yang namanya sudah menyalahi etika, melanggar etika, tetap kita proses,” kata Muslim kepada wartawan di kantornya, Kamis (31/5).
Muslim mengakui, sejauh ini belum ada perkembangan apapun di MKD terkait video Aryodj. Ia juga belum bersedia merinci apa saja yang akan dilakukan MKD nanti. Yang pasti, MKD akan menelusuri video itu. Salah satunya mengidentifikasi dugaan keterlibatan anggota DPR yang mirip dengan pemeran di video tersebut.
Menurut Muslim, MKD akan menerjunkan tim forensik sambil menunggu proses di kepolisian. “Sepanjang menunggu kita pun cari bukti-bukti, sampai di mana keterlibatannya, apakah itu benar. Kita harus turunkanlah ahli forensik, yang meneliti foto itu sebenarnya apa,” katanya. Meski begitu, Muslim menegaskan MKD tak akan dan tak bisa masuk ke ranah pidana, melainkan hanya akan memproses dugaan pelanggaran etika.
Tiarap
MKD tampaknya bakal menghadapi kendala dalam mencari ahli forensik untuk meneliti pelaku dalam video Aryodj. Hingga berita ini diturunkan, tak seorang pun pakar telematika yang menyatakan kesediaannya. Pakar telematika Roy Suryo yang semula disebut-sebut bakal digandeng MKD menyatakan keberatan. “Saya sarankan MKD mengambil pakar telematika lainnya dalam kasus ini,” katanya.
Baca : Kasus Jalan di Tempat (Bagian 5)
Roy beralasan, ia khawatir bakal memunculkan conflict of interest jika mengikuti ajakan MKD DPR RI. “Saya termasuk salah satu anggota DPR juga, dan (kemungkinan) yang akan diperiksa adalah nama-nama yang disebut juga merupakan anggota DPR,” jelas Roy.
Khalayak kini menunggu kabar dari pihak Kepolisian dalam mengungkapkan dalang di balik beredarnya video Aryodj dan memastikan siapa sesungguhnya pemeran pria yang ada di dalam video tersebut.
Baca : Brigjen (Pol) Muhammad Iqbal: Kami Dahulukan Upaya Persuasif (Bagian 6)
Sejauh mana kesungguhan polisi? Masih harus ditunggu. Yang pasti, berkaca dari kasus jejak-jejak digital terdahulu, hampir seluruhnya gagal ditindaklanjuti. Polisi baru berhasil menyelesaikan kasus chat mesum yang menyeret nama Firza Husein-Habib Rizieq. Itu pun tak jelas kelanjutannya karena tak lama setelah penetapan mereka sebagai tersangka, Habieb Rizieq memilih terbang ke Arab Saudi.
Belakangan, Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (purn) Moeldoko malah mengisyaratkan, status tersangka Habieb Rizieq bisa saja dicabut untuk mempertimbangkan aspek-aspek yang lain.