Foto : gstatic.com

"Joged Mataram", Jiwa Yang Menghidupi Tarian Keraton Yogyakarta

Ceknricek.com - "Selain olah gerak, tari klasik gaya Yogyakarta juga menuntut olah rasa yang disesuaikan dengan falsafah hidup yang membentuk karakter - Sri Sultan Hamengku Buwono I (1755-1792)."

Dalam tulisan "Kagungan Dalem" seperti dilansir laman Twitter @kratonjogja, Rabu (20/3), latihan tari klasik gaya Yogyakarta bermanfaat sebagai sarana membentuk karakter.

Keberadaan seni tari sebagai bagian dari pendidikan di dalam Keraton Yogyakarta sudah dimulai sejak keraton membangun Sekolah Tamanan pada 1756. Segera setelah keraton difungsikan sebagai tempat tinggal dan pusat pemerintahan, seni tari menjadi salah satu pelajaran wajib yang berkaitan dengan kebudayaan.

Sumber :  starjogja.com

Sang Maestro Tari

Sejak awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta, Sultan yang berkuasa selalu memberi perhatian khusus pada perkembangan seni tari. Tidak sekadar mendukung, ia juga bertindak langsung sebagai penari dan pencipta tari.

Sumber : kratonjogja.id

Pada Babad Prayut (Giyanti Pungkasan) diketahui bahwa Sultan sendiri yang mengajarkan Putra Mahkota untuk menari Beksan Sekar Medura. Bahkan di dalam kesempatan lain, Sultan dan Putra Mahkota menari Beksan Jebeng secara bersama.

Menari kemudian menjadi kewajiban bagi Putra DalemSentana DalemWayah Dalem, hingga para Abdi Dalem Prajurit. Bahkan Sri Sultan Hamengku Buwono I juga memiliki kesatuan prajurit berisi penari-penari cakap, yaitu Bregada Nyutra, yang selain menjadi kesatuan militer juga bertugas menampilkan pertunjukkan tari.

Kawruh Joged Mataram

Tari klasik gaya Yogyakarta dijiwai oleh "Joged Mataram", suatu falsafah sekaligus ilmu dalam menari. Jika tari gaya Yogyakarta adalah wujud dari teknik lahiriah, maka "Joged Mataram" adalah jiwa yang menghidupinya.

Landasan sikap dan gerak dari "Joged Mataram" didasarkan pada orientasi sawijigregetsengguh, dan ora mingkuh. Empat prinsip dasar tersebut dikenal sebagai kawruh Joged Mataraman yang selanjutnya menjadi sebuah pendidikan rasa bagi para penari.

Sawiji berarti konsentrasi yang total tanpa menimbulkan ketegangan jiwa. Greget dimaknai sebagai semangat yang menjiwai. 

Sedangkan sengguh adalah sikap percaya diri tanpa mengarah pada kesombongan. Terakhir adalah ora mingkuh yang berarti tidak menyerah dan takut menghadapi kesulitan. Falsafah Joged Mataram apabila diterapkan dalam seni tari akan memberikan keseimbangan lahir dan batin.

Pendidikan Karakter

Sesaat setelah mengakhiri sembilan tahun masa peperangan, tidak mengherankan jika semangat keprajuritan yang kental muncul dalam falsafah "Joged Mataram".

Sri Sultan Hamengku Buwono I secara sadar memang memasukkan nilai-nilai kesatria, olah keprajuritan, dan semangat kepahlawanan seperti dalam kisah pewayangan. Ia bahkan mengangkat latihan ketangkasan bermain tombak dalam olah keprajuritan sebagai salah satu tari pusaka Beksan Lawung Ageng yang kadang juga dikenal sebagai Beksan Trunajaya.

Sumber : gstatic.com

Pemaknaan terhadap pendidikan karakter dalam tari klasik gaya Yogyakarta terus berkembang seiring dengan perkembangan tarian itu sendiri. BPH Suryobrongto, putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII yang menjadi seorang empu tari, menyebutkan bahwa menari adalah mendidik diri tentang rasa.

Menari adalah pendidikan jasmani dan estetika. Bahkan menari menjadi upaya membangun rasa kesucian bagi para putri, sekaligus sebagai senjata untuk menolak sifat-sifat kasar. Pendidikan karakter dalam seni tari ini digunakan sebagai media memperhalus budi.

Oleh karenanya, Suryobrongto kemudian menerjemahkan falsafah "Joged Mataram" sebagai konsep pedoman hidup. Sawiji dimaknai sebagai upaya keras dalam mewujudkan cita-cita yang didukung dengan konsentrasi terarah pada tujuan utama. 

Greget merupakan perwujudan dari semangat dan dinamika yang terarah melalui saluran yang wajar. Sengguh merupakan rasa percaya diri penuh pada kemampuan pribadi. Ora mingkuh adalah bentuk semangat juang tanpa menyerah meskipun menghadapi rintangan. Bahkan ia menyatakan bahwa pada masa lalu seseorang dianggap sebagai under educated apabila belum dapat memahami makna Joged Mataram.

Joged Mataram memang dapat dimaknai secara luas, termasuk dalam hubungan dengan Sang Pencipta. Dalam falsafah Ketuhanan, kawruh Joged Mataraman dimaknai bahwa setiap umat hendaknya mengesakan Tuhannya.

Di samping itu, penanaman rasa syukur dalam diri merupakan hal terpenting dalam menjalani hidup. Bahkan dalam prinsip dari tari klasik gaya Yogyakarta terdapat unsur kesusilaan yang menanamkan rasa dalam menari agar tidak melanggar norma susila. Termasuk pula pendidikan untuk berlaku disiplin dan teguh pendirian.



Berita Terkait