Ilustrasi: Alfiardy/Ceknricek.com

Kisah Hidup A. H. Nasution, Jenderal Penggagas Perang Gerilya

Ceknricek.com -- Dalam sejarah perang kemerdekaan Indonesia, dikenal beberapa strategi perang untuk melumpuhkan musuh di lapangan. Salah satunya adalah strategi perang gerilya atau perang sembunyi-sembunyi dan menyerang musuh sewaktu mereka lengah.

Salah satu tokoh militer yang ahli dalam strategi perang ini adalah Jenderal Abdul Haris Nasution. Lelaki kelahiran Mandailing Natal, hari ini 101 tahun yang lalu tepatnya pada 3 Desember 1918, itu bahkan sempat menuliskannya menjadi sebuah buku.

Buku berjudul Pokok-pokok Gerilya atau Fundamentals of Guerilla Warfare itu kemudian sempat dipakai sebagai acuan tentara Vietnam untuk menghancurkan Prancis dan Amerika, saat mereka datang ke negara mereka, hingga mereka memenangi gerilya di sana.

Kisah Awal A.H. Nasution 

Abdul Haris Nasution lahir di Kotanopan, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara pada tanggal 3 Desember 1918, dari pasangan H. Abdul Halim Nasution dan Zahara Lubis. Nasution dibesarkan dalam keluarga tani yang taat beribadah.

Selain dikenal sebagai petani yang cukup sukses, sang ayah juga dikenal sebagai anggota pergerakan Sarekat Islam di Kotanopan, Tapanuli Selatan. Dari sinilah, Nasution kecil kemudian suka mempelajari cerita-cerita sejarah kejayaan Islam hingga perang-perang kemerdekaan di dunia.

Sumber: Istimewa

Baca Juga: Kiprah Jenderal Moestopo, Pahlawan Nyentrik dari Kediri

Meski lahir di Sumatera Utara, Nasution menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah pertamanya di Hollandsch Inlandsche School (HIS), Yogyakarta dan lulus pada 1932. Nasution melanjutkan pendidikan ke tingkat menengah atau Europeesche Lagere School (ELS) dan lulus pada 1938.

Pendidikan menengah atas Nasution kemudian dilanjutkan di Algemeene Middelbare School (AMS) Bagian B di Jakarta dan lulus pada tahun 1938. Setelah menyelesaikan pendidikannya inilah, Nasution kemudian kembali pulang ke Sumatera dan menjadi guru selama dua tahun di Palembang dan Bengkulu.

Sumber: Istimewa

Karena tak betah menjadi guru di tengah gejolak pekik kemerdekaan, Nasution kemudian memilih untuk ikut bergerak melawan penjajahan dan bergabung dengan Akademi Militer di Bandung. Meski demikian, pendidikannya sempat terhenti pada masa pendudukan Jepang.

Ketika invasi Jepang ke Indonesia pada tahun 1942, Nasution sebenarnya ikut bertempur melawan Jepang di Surabaya. Namun, para pasukan yang bertempur bersamanya mengalami kekalahan, hingga dirinya sempat menjadi pegawai kotapraja di Bandung.

Kembali ke Militer

Tahun 1945, setelah kekalahan Jepang di Perang Pasifik, dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Nasution kembali bergabung bersama dengan para bekas tentara Pejuang Tanah Air (PETA) yang kemudian mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR), cikal bakal TNI.

Karier militer Nasution kemudian menanjak. Di bulan maret tahun 1946, dia ditunjuk sebagai Panglima Divisi III/Priangan. Dua bulan berselang, Presiden Soekarno melantiknya sebagai Panglima Divisi Siliwangi dan menjadi salah satu pemimpin pasukan ketika pecah peristiwa di Madiun.

Pada 27 Desember 1949, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Abdul Haris Nasution kemudian diangkat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Saat menjabat KSAD, Nasution bersama TB Simatupang, Kepala Staf Angkatan Perang Republik Indonesia, bermaksud mengadakan restrukturisasi dan reorganisasi angkatan bersenjata. 

Rencana tersebut kemudian menimbulkan perpecahan di tubuh angkatan bersenjata. Nasution dan Simatupang didukung Perdana Menteri Wilopo dan Menteri Pertahanan Hamengkubuwono IX. Para Penentang restrukturisasi dan reorganisasi mencari dukungan dari partai-partai oposisi di parlemen.

Sumber: Istimewa

Baca Juga: Biografi Yos Sudarso, Pahlawan yang Gugur di Laut Aru

Melihat hal tersebut, pada tanggal 17 Oktober 1952, Nasution dan Simatupang kemudian memobilisasi tentara untuk menunjukkan kekuatan, serta menentang campur tangan sipil dalam urusan militer dan mengepung Istana negara dengan mobil lapis baja. 

Dalam peristiwa tersebut, Nasution menuntut Presiden Soekarno untuk segera membubarkan Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) karena politikus-politikus dianggap telah mencampuri urusan internal Angkatan Darat. Alih-alih didengar, Nasution malah diberhentikan dari KSAD oleh Soekarno.

Menulis Buku 

Belajar dari pengalamannnya ketika memimpin Divisi Siliwangi, Nasution kemudian menulis gagasan dan metodenya mengenai taktik perang gerilya atau Guerrilla Warfare yang diartikan sebagai bentuk perang rakyat dalam melawan penjajahan.

Sumber: Istimewa

Dari sinilah kemudian terbit buku terkenalnya Pokok-pokok Gerilya (1953) yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing dan menjadi buku wajib akademi militer di sejumlah negara, termasuk sekolah elite bagi militer dunia, West Point Amerika Serikat (AS). 

“Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Jenderal Nasution punya peran dalam Perang Vietnam. Setidaknya, buku Pokok-pokok Gerilya yang ditulisnya pernah diterjemahkan, dipelajari, dan diterapkan oleh tentara Vietkong,” tulis Bakri Tianlean dkk. dalam buku Bisikan Nurani Seorang Jenderal (1997).

Sumber: Istimewa

Baca Juga: R.E Martadinata, Panglima Angkatan Laut yang Tewas di Udara

Tahun 1966, setelah peristiwa gerakan 30 September, Nasution sempat menduduki jabatan baru sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) hingga ia digantikan oleh Idham Chalid pada tahun 1972. Lima tahun berjalan, seusai pemilihan umum pada 1975, yang diyakini penuh kecurangan dan dimenangkan oleh Golongan Karya, Nasution menyatakan terjadinya krisis kepemimpinan di tubuh Orde Baru. 

Bersama mantan Wakil Presiden Hatta, Nasution lalu mendirikan Yayasan Lembaga Kesadaran Berkonstitusi (YLKB). Dalam sebuah pertemuan YLKB, Nasution menyatakan Orde Baru tidak benar-benar menjalankan Pancasila dan UUD 1945.

Bersama beberapa orang tokoh, seperti Ali Sadikin, Hugeng Imam Santosa, dan Mohammad Natsir, Nasution kemudian menandatangani Petisi 50 dan mengirimkannya ke DPR pada 13 Mei 1980. 

Jenderal Besar Abdul Haris Nasution wafat pada 6 September 2000, di Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto, Jakarta pada usia 81 tahun. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta.

Atas jasa dan perjuangannya ia dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan SK. Presiden RI. No. 073/TK/2002 tanggal 6 November 2002.

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: ThomasRizal


Berita Terkait