Magnitude vs Proximity | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

Magnitude vs Proximity

Ceknricek.com -- Salah satu ajaran klasik di dunia jurnalistik adalah News Value. Apakah setiap informasi memiliki nilai berita? Sesungguhnya, banyak informasi yang tak memiliki nilai berita. Misalnya iklan, pengumuman di RT-RW, catatan sejarah, dan sebagainya. Apa yang membuat sebuah informasi dianggap memiliki news value? Nah, ini banyak kriterianya. Ada yang mengajarkan 9, 10, bahkan 11 kriteria. Di antara yang paling dikenal adalah news value magnitude atau ‘berskala besar’, dan proximity atau ‘kedekatan dengan pembaca/pemirsa/pendengar’. Proximity ini bisa juga dimaknai sebagai adanya attachment, keterikatan.

Sebuah informasi bisa menjadi layak berita bila dia memiliki skala besar, magnitude. Misalnya, pengumuman di sebuah kelurahan tidak terlalu layak berita. Namun bila kelurahan yang mengumumkan informasi itu adalah seluruh kelurahan di Indonesia, pasti informasinya memiliki nilai berita. Demikian pula pada sebuah peristiwa kecelakaan, bila damage atau kerusakannya tidak berskala besar, tidak akan menjadi berita. Apalagi, jurnalis suka angka-angka. Berapa korban tewas? Berapa mobil hancur? Berapa milyar rupiah kerugiannya?

Di sisi lain, kriteria proximity atau ‘kedekatan dengan khalayak’ juga merupakan nilai layak berita. Yang dimaksud ‘dekat’ bukan hanya jarak fisik (misalnya lokasi kejadian di wilayah koran beredar atau radio bersiaran), tetapi juga kedekatan psikologis (misalnya kesamaan ras/suku, agama, pilihan politik, latar belakang pendidikan, dll). Tak heran bila kabar duka Muslim Rohingya atau Muslim Uyghur –meskipun jauh dari Indonesia- selalu mendapat tempat di media arusutama kita. 

Meskipun berskala kecil, kalau peristiwa itu dekat dengan khalayak pembaca/pemirsa/pendengar, dianggap layak berita. Sebuah pembunuhan dengan korban tewas dua orang yang terjadi di Tanah Abang, Jakarta, pasti masuk segmen pertama atau halaman depan media di Jakarta, dibanding seratus orang pengungsi Afrika tenggelam di perairan Italia. Dua korban pembunuhan di Tanah Abang itu mungkin kenalan atau tetangga kita, sementara seratus pengungsi Afrika itu kita tidak mengenalnya.

Baca juga: Absence of Malice

Demikianlah, media kerap dihadapkan pada pertentangan antara magnitude dan proximity. Ada kalanya pilihan redaktur tepat, namun tak jarang pilihan redaktur mengkhianati selera pembaca/pemirsa. Dalam isu yang hangat belakangan ini misalnya, pemberitaan mengenai Covid-19 bertarung antara magnitudeproximity, dan bahkan prominence (ketokohan). Artinya, name makes news. Tokoh, apapun yang terjadi padanya, pasti jadi berita. Bahkan seorang Menteri yang tidak melakukan apa-apa pun jadi berita (karena dia menteri, tokoh).

Media massa di Indonesia, khususnya televisi, rajin memperbarui angka-angka korban Covid-19, baik di kalangan masyarakat umum, tenaga medis, maupun golongan tertentu. Golongan tertentu ini misalnya jamaah tabligh akbar, rombongan yang baru pulang dari wisata di Vatikan/Italia, anggota TNI AD. Media suka sekali meliput berdasarkan kriteria skala besar.

Ada fakta bahwa orang yang dinyatakan positif Covid-19 pun, setelah melakukan karantina dan perawatan sesuai ketentuan, bisa sembuh dan pulang ke rumah dengan bahagia. Kisah seperti ini memang sedikit dibanding jumlah yang terpapar dan sedang berjuang untuk sembuh. Kisah pasien sembuh dari Covid-19 ini tentu mengandung muatan proximity (pasti dia salah satu kerabat, kenalan, atau tetangga pembaca/pemirsa media). Selain itu, small thing matters. Yang kecil pun bermakna. Dengan memeroleh berita kesembuhan, betapapun kecil frekuensinya, khalayak memiliki harapan dan optimisme bahwa Covid-19 bisa dikalahkan. 

Bagaimanapun, angka ratusan korban hanyalah statistik, sementara kisah pengalaman pasien sembuh dari Covid-19 adalah human story. Sebagai manusia, kita tentu lebih attached (terikat) pada kisah sesama manusia, suka duka, jatuh bangun, perjuangan mereka; bukan pada angka-angka statistik yang semakin mencemaskan.

Sirikit Syah, Juli 2020

BACA JUGA: Cek SOSOK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait