Foto: Istimewa

Mencari Titik Inspirasi Dari Film “6.9 Detik”

Ceknricek.com -- Dalam Asian Games 2018 lalu, Indonesia berhasil duduk di posisi keempat, di bawah negara-negara Asia maju lain di bidang olahraga, yakni China, Jepang dan Korea. Prestasi tersebut merupakan yang pertama kalinya diraih dalam penyelenggaraan Asian Games sejak tahun 1951.

Terlepas dari peran Indonesia sebagai tuan rumah, keberhasilan itu adalah sesuatu yang membanggakan. Banyak cabang olahraga yang awalnya tidak diperhitungkan, ternyata bisa menyumbangkan emas. Salah satunya adalah olahraga panjat tebing, dengan bintangnya Aries Susanti, gadis asal Grobogan, Jawa Tengah, yang menyabet dua medali emas, dari nomor perorangan dan beregu.

Keberhasilan Aries, anak desa yang sederhana--ibunya pernah menjadi TKW ke luar negeri--merupakan sebuah keberhasilan yang patut dirayakan, dan dijadikan sebuah contoh bagi jutaan anak-anak di Indonesia, bagaimana sebuah tekad, kemauan dan latihan yang keras akan membuahkan hasil menggembirakan pada waktunya. Bukan hanya nama, tetapi juga materi yang sangat diidamkan oleh semua insan berprestasi.

Foto: Istimewa

Beruntung di era ini pemerintah mengganjar setiap peraih medali dalam event internasional, dengan hadiah uang yang cukup besar. Pemerintah memberikan bonus sebesar Rp1,5 miliar untuk para peraih medali emas--bagi pemain ganda, masing-masing disebut akan mendapat Rp1 miliar. Untuk Aries, pemerintah daerah juga mengangkatnya menjadi pegawai negeri.

Kisah sukses Aries Susanti ini diangkat ke layar lebar oleh wanita sutradara Lola Amaria, melalui sebuah film berjudul “6.9 Detik”. Judul itu diambil dari prestasi puncak Aries ketika latihan. Aries adalah atlet panjat tebing untuk kelas speed (kecepatan). Dalam kelas ini prestasi pemanjat diukur dari seberapa cepat yang bersangkutan mencapai puncak dan menekan tombol waktu. Catatan Aries di Asian Games 7,61 detik. Rekor dunia untuk putri saat ini 7.36 detik.

Foto: Istimewa

Dalam film “6.9 Detik” Lola Amaria, mencoba mengungkap kehidupan Aries Susanti sejak anak-anak hingga ia dewasa seperti sekarang ini. Lola mempercayakan Sinar Ayu Massie untuk menuliskan skenarionya.

Baca Juga: Lola Amaria Garap Perjuangan Atlet Aries Susanti Dalam Film 6,9 Detik 

Dalam film ini digambarkan Aries sejak kecil dikenal sebagai anak yang berlaku kelelaki-lelakian (tomboy). Ia sering beradu lari melewati hutan dengan teman sekolah lelakinya ketika pergi sekolah, bermain kelereng dan suka memanjat pohon. Ia memiliki kecepatan dan keberanian yang tidak dimiliki oleh anak perempuan kebanyakan. Oleh karena itulah ia selalu menjadi andalan sekolah jika mengikuti kejuaraan olahraga antarsekolah.

Melihat bakatnya, sebuah klub panjat tebing di daerahnya yang sedang mencari atlet panjang tebing putri merekrut Aries untuk bergabung. Di sana ia berlatih, kadang tidak memakai sepatu hingga kaki dan tanggannya luka-luka--tidak sekedar lecet.

Foto: Istimewa

Namun kerinduan akan ibunya yang pergi mencari nafkah sebagai TKW, membuat Aries sering terganggu, ia menjadi labil. Ia bahkan pernah mabuk minuman karena minum-minuman keras terlalu banyak ketika diajak ke tempat hiburan malam bersama teman-temannya. Padahal ketika itu ia sedang berada di Pelatda.

Foto: Istimewa

Berkat bimbingan seorang pelatih yang keras ketika mengikuti Pelatnas, Aries bersama teman-temannya menjadi atlet berprestasi dan menyumbangkan medali emas untuk Kontingan Indonesia di Asian Games 2018.

Inspirasi

Sebagaimana umumnya film-film tentang perjalanan dan perjuangan seorang atlet, dari bukan apa-apa (nothing) menjadi sesuatu (something), film “6.9 Detik” diharapkan dapat memberi inspirasi dan motivasi kepada anak-anak remaja dan pemuda, untuk berani menekuni olahraga.

Memang dibutuhkan ketabahan, ketekunan, dan kekuatan mental untuk menjadi seorang atlet yang sukses. Dan prosesnya seringkali panjang dan melelahkan. Jika tak memiliki itu semua, dipastikan perjuangan untuk menjadi atlet akan sia-sia.

Foto: Istimewa

Itulah yang menjadi persoalan utama di Indonesia saat ini, selain fasilitas yang disediakan oleh pemerintah juga sangat minim. Maka jangan heran, jika Indonesia, meski pun menjadi negara keempat berpenduduk terbesar di dunia, masih miskin prestasi di bidang olahraga. Keberhasilan menduduki posisi keempat di Asian Games tahun lalu, bisa jadi karena banyak faktor non teknis juga yang mempengaruhi.

Kehadiran sebuah film seperti “6.9 Detik” tentu patut disambut dengan gembira, mengingat film adalah sebuah media efektif untuk menyampaikan pesan. Jika sebuah gambar saja bisa menyampaikan seribu kata, seperti adagium “A picture is worth a thousand words”, bagaimana dengan sebuah film yang memiliki jutaan gambar.

Foto: Istimewa

Pertanyaannya kemudian  apakah "6.9 Detik" mampu memberikan inspirasi atau motivasi kepada penonton, atau dengan kata lain seberapa besar dorongan yang ditimbulkan oleh film ini bagi penonton, untuk melakukan hal-hal yang digambarkan di dalam sebuah film. Katakanlah dorongan untuk mengikuti jejak Aries Susanti. Titik-titik itu yang perlu ditelusuri.

Dari sisi cerita, "6.9 Detik" memiliki modal yang kuat untuk menjadi sebuah film inspiratif, karena yang diangkat adalah kisah nyata Aries Susanti, anak desa yang kemudian menjelma menjadi bintang. Lola berusaha menampilkan semua sisi yang dimiliki oleh Susi sejak kecil hingga dewasa. Baik sisi positif maupun negatif. Aries yang keras di satu sisi, tetapi menjadi lemah di sisi lain. Dia mampu bersaing dengan anak lelaki, tetapi juga bisa galau dan meraung-raung bila ingat ibunya yang menjadi TKW.

Foto: Istimewa

Menampilkan kepribadian Aries secara lengkap adalah cara Lola untuk  membangun aspek dramatik dalam filmnya. Tetapi ketika masuk kepada pesan utama film ini, ia harus tegas menggambarkan bahwa untuk menjadi seorang atlet sukses, seseorang harus memiliki bakat bawaan yang kemudian harus diasah dengan benar, bila ingin berhasil.

Namun keterbatasan durasi dan visualisasi yang lebih lengkap membuat film ini belum mampu membawa penonton mengalami katarsis. Penggambaran Aries dan teman-temannya di Pelatnas masih kurang dramatis. Sosok Hendra sebagai pelatih yang berkarakter keras dengan kata-kata yang acapkali kasar, belum memberikan kesan sebagai sosok motivator. Dialog-dialog yang diucapkannya kurang kuat dan terlalu "kota" dengan ungkapan elu gue-nya.

Lola mestinya memberikan waktu yang lebih panjang untuk menggambarkan keberhasilan Aries dalam Asian Games, memperlihatkan euforia yang lebih gegap gempita baik di tengah tim, kontingen maupun penonton. Adegan ini bisa diselang-seling (cut to cut) dengan kegembiraan di kampungnya, bukan hanya di tengah keluarga yang menonton sambil menggelar tikar.

Foto: Istimewa

Banyak cerita keberhasilan Aries yang bisa diangkat termasuk penghargaan dan hadiah yang diterimanya sebagai juara. Lola nampaknya menemui kendala untuk membuat scene-scene yang lebih kaya untuk menggambarkan hal itu, sehingga kesan Aries sebagai Juara Asian Games yang menyumbangkan 2 emas bagi Indonesia, masih kurang kuat. Padahal itu penting untuk memberi pesan kuat bagi penonton muda, bahwa seorang juara akan mendapatkan bukan saja sanjungan, tetapi juga penghargaan dan hadiah besar. Itu akan memberi inspirasi dan dorongan kuat bagi generasi muda, di jaman hedonistik ini.

Tim artistik juga masih kurang bekerja keras untuk menampilkan wajah desa bagi pemeran anak-anak penting, terutama dalam kostum yang dipakai, masih mencerminkan anak kota. Sosok ibu Aries juga tidak mengalami perubahan sejak Aries kecil hingga dewasa.

Foto: Istimewa

Terlepas dari kelemahan itu, apresiasi patut diberikan kepada Lola Amaria. Di tengah persaingan yang ketat dalam perebutan jadwal tayang dan penonton, Lola tetap konsisten untuk tidak terjabak membuat film yang mengutamakan aspek komersial semata.

Selama ini Lola Amaria memang dikenal sebagai sineas wanita yang memilih jalan sunyi. Karya-karyanya selalu memililiki missi tertentu yang bermuatan pesan-pesan khusus. Ia seperti tak peduli hiruk-pikuk perebutan layar dan penonton, yang membuat banyak sineas "gelap mata", dengan membuat film yang megutamakan aspek komersil semata. Padahal ketika masuk pasar, tidak komersil juga!

"6.9 Detik" adalah film kedua, seharusnya tiga, tentang perjuangan atlet yang lahir di tahun 2019 ini. Film lainnya berjudul "Love All" (dibintangi Laura Basuki) yang mengangkat kisah legenda bulutangkis Susi Susanti. Satu judul lagi, "Exocet" masih belum ada kejelasannya, setelah calon sutradara dan pemain film itu, Robby Ertanto dan Jefry Nichols ditahan polisi karena kasus ganja.

Foto: Istimewa

Kisah sukses atlet Indonesia dari berbagai cabang olahraga sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Kisah tentang legenda bulutangkis Liem Swie King difilmkan oleh Ari Sihasale melalui film berjudul "King" (2009).

Sutradara Andi Yusuf Bachtiar mencoba merekonstruksi keberhasilan Timnas Garuda U-19 yang dipimpin oleh pelatih Indra Sjafri melalui film "Garuda 19" (2014), lalu Imam Brotoseno mengangkat kisah 3 srikandi panahan Indonesia: Nurfitriyana, Lilies dan Kusuma yang menjadi bintang di Olimpiade Seoul tahun 1988, melalui film "3 Srikandi" (2016) yang dibintangi oleh Chelsea Islan, Tarra Basro, dan Bunga Citra Lestari, dan Reza Rahadian sebagai pelatih panahan Donald Pandiangan.

Sayang sekali film-film yang dibuat bukan saja mengangkat kisah perjuangan dan keberhasilan para pahlawan olahraga itu kurang mendapat sambutan dari penonton. Kelemahan dalam eksekusi  merupakan salah satu sebab yang membuat film-film ini kurang menarik. Ketidakmampuan merekonstruksi situasi dan kondisi sesuai kisah aslinya menjadi kelemahan terbesar.

BACA JUGA: Cek Berita SELEBRITI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait