Mengenal Brompton, Sepeda Para Bangsawan Inggris | Cek&Ricek
Foto: Shutterstock

Mengenal Brompton, Sepeda Para Bangsawan Inggris

Ceknricek.com -- Brompton boleh dicatat Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai merek sepeda paling beken di Indonesia saat ini. Namanya sontak jadi perbincangan setelah ditemukan tim bea cukai dalam pesawat Airbus baru milik Garuda Indonesia. Produk bikinan Inggris itu makin heboh karena dikaitkan dengan dugaan penyelundupan yang membuat Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara terjungkal dari kursinya.

Sebelum skandal itu terbongkar, nama Brompton sudah cukup dikenal di kalangan goweser atau peminat olahraga bersepeda. "Brompton merupakan 'kasta' tertinggi dalam sepeda lipat dan sangat digemari," kata Ketua Komunitas Sepeda-sepedaan Community (S2C) Pangkalpinang Sopian Oktanamal, seperti dikutip Antara, Minggu (8/12).

Mengenal Brompton, Sepeda Para Bangsawan Inggris
Sumber: Istimewa

Menurut Sopian, sepeda merek Brompton bisa dikategorikan sebagai "sepeda bangsawan" karena sengaja dirakit dan digunakan di kalangan keluarga bangsawan di Inggris. Karena itu, produknya disiapkan sebagus dan senyaman mungkin untuk dikendarai.

Dengan kualitas jempolan itu, jangan kaget jika sepeda merk Brompton dibanderol cukup mahal. Dua unit Brompton yang ditemukan di dalam pesawat Garuda mencapai Rp49 juta-Rp60 juta, bahkan lebih.

Mengenal Brompton, Sepeda Para Bangsawan Inggris
Sumber: Istimewa

Baca Juga: Lagi-lagi Skandal Garuda 

Di negara asalnya, sepeda itu  dijual sekitar Rp30 juta. Dalih biaya pengiriman dan sejenisnya diyakini membuat harga itu membengkak saat sampai di Jakarta. Meski begitu, pasar Indonesia tetap mampu menyerapnya.

"Karena kualitasnya sangat bagus, wajar harganya juga mahal," ujar Sopian yang juga Kepala Kantor Penjualan Jasindo Pangkalpinang itu.

Meski bekerja di Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Sopian mengaku enggan untuk membeli dan menggunakan sepeda lipat dengan merk Brompton tersebut. "Terlalu mahal. Kalau saya pakai pun, mungkin orang lain tak akan percaya itu asli, harganya minta ampun," katanya sambil tersenyum.

Brompton vs Brompnot

Meski jumlah peminat olahraga bersepeda di Tanah Air semakin banyak, termasuk sepeda lipat, namun jumlah goweser yang menggunakan sepeda dengan merek Brompton terbilang masih sedikit.

Menurut Ketua Komunitas "Element Pikes Community" (Epic) Bangka Ade Sutisna, minimnya pengguna sepeda lipat merek Brompton disebabkan harganya yang cukup menguras dompet.

Karena itu, sering muncul anekdot bagi peminat sepeda lipat bahwa sepeda Brompton biasanya hanya digunakan oleh "kalangan atas" seperti pejabat dan kalangan pengusaha.

Mengenal Brompton, Sepeda Para Bangsawan Inggris
Sumber: Antara

Selain harga yang cukup mahal tersebut, peminat sepeda lipat juga sering berpikir dua kali untuk membeli merek Brompton karena besarnya biaya perawatan (maintenance) dan pergantian onderdilnya.

Bagi peminat gowes yang senang "meng-upgrade" (mengubah onderdil) sepeda lipat, tentu akan berpikir panjang untuk memiliki sepeda merek Brompton. "Pedalnya saja sekitar Rp1,7 juta. Juga 'fender-nya' sekitar 2-3 juta," ujar Ade Sutisna.

Mereka yang ingin tetap eksis di lapangan, namun terkendala mahalnya harga sepeda merek Brompton, sering dengan membuat stiker bertuliskan "Brompnot".

Utamakan Kenyamanan

Salah seorang pengguna sepeda lipat merek Brompton di Bangka Belitung, Antoni Prawira Akbar menyatakan tidak terlalu sepakat jika merek itu disebut mahal. Pria yang bekerja di Bank Sumsel Babel itu mengakui sepeda Brompton memang sangat nyaman ketika digunakan. "Prinsip utamanya kenyamanan saja. Naik Brompton tidak goyang sedikit pun," katanya.

Ketika disinggung soal harga, Antoni menyebutkan tingkat kemahalannya sangat relatif dan tergantung pribadi masing-masing.

Tidak jarang sepeda lipat merek lain bisa lebih mahal ketika sudah di-upgrade atau dimodifikasi sesuai selera pemiliknya. Tak sedikit mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk meng-upgrade sepedanya agar lebih cantik, lebih kencang, dan lebih nyaman.

Mengenal Brompton, Sepeda Para Bangsawan Inggris
Sumber: Superadventure

Namun peminat sepeda lipat merek Brompton tidak perlu di-upgrade lagi karena sudah sesuai untuk semua lapangan, baik untuk rute tanjakan, turunan, atau jalanan datar. "Semua sepeda dasarnya sama, tergantung kekuatan jantung dan ketahanan dengkul saja," katanya sambil tertawa.

Pengakuan hampir sama diungkapkan Dhani Pattinggi, seorang partner di firma hukum Hiswara Bunjamin & Tandjung, Jakarta, kepada kompas.com. "Saya beli sepeda Brompton sejak awal tahun 2018," kata lelaki berusia 43 tahun ini. "Alasannya simpel saja, di umur yang semakin dewasa, saya sadar akan perlunya olahraga yang dapat membuat badan fresh mengingat kurang sehatnya aktivitas pekerjaan sehari-hari."