Penangkapan Diponegoro dan Berakhirnya Perang Jawa | Cek&Ricek astra-satu-untuk-indonesia
Sumber : Kiblat.net

Penangkapan Diponegoro dan Berakhirnya Perang Jawa

Ceknricek.com -- Tepat pada tanggal hari ini, 28 Maret 1830, sehari setelah lebaran, Panglima Perang Jawa, Pangeran Diponegoro pergi ke Magelang. Ia memenuhi undangan Hendrik Merkus Baron De Kock, panglima tentara Belanda dalam Perang Jawa. 

Sebelumnya Pangeran Diponegoro tidak ingin menangani persoalan serius di hari-hari puasanya di tahun 1830 (1245 Hijriah). Baginya bulan Ramadhan merupakan bulan dimana umat Islam dilarang untuk berperang.

Sikap pemenuhan undangan tersebut sebagai bentuk keramahtamahan terhadap lawannya setelah satu bulan penuh menjalani puasa sebagaimana tradisi di Jawa. “Hanya selepas bulan puasa pembicaraan yang lebih serius dapat dilakukan,” tulis Peter Carey, dalam bukunya Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (2014).

Sumber : kitlv.nl

Pertemuan tersebut digadang-gadang menjadi momentum tawar-menawar soal mengakhiri Perang Jawa dan keinginan adanya kesultanan di selatan Jawa. Namun sayang, niat baik Pangeran Diponegoro tidak bergayung sambut. Ia dijebak di Keresidenan Kedu, diamankan ke Betawi dan dibuang ke Sulawesi. 

Tahun tersebut menjadi lebaran terakhir Diponegoro di tanah Jawa serta mengakhiri perang terbesar yang dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di tanah Jawa (1825-1830).

Raden Saleh Mengecam Belanda

Setelah berhasil mengatur penangkapan Pangeran Diponegoro, Hendrick Merkus de Kock pulang ke Belanda dan mendapat gelar pahlawan nasional. Untuk merayakan dan menandai kesuksesan itu, de Kock meminta Cornelis Kruseman mengabadikan dirinya dalam lukisan.

Sementara itu seorang pemuda berbakat bernama Raden Saleh Syarif Bustaman juga mendapat kesempatan memperdalam ilmu melukisnya ke Belanda. Ia berguru pada pelukis yang sama, Kruseman.

“Raden Saleh ada di sana saat Kruseman menggambar De Kock. Bayangkan bagaimana perasaan seorang pemuda asal Jawa menyaksikan bagaimana orang yang telah menangkap Diponegoro dengan bangga digambar di hadapannya,” ungkap Werner Kraus, kurator asal Jerman yang mendedikasikan seperempat abad  hidupnya untuk mempelajari karya Raden Saleh.

Bukan hanya itu. De Kock meminta kepada Nicolaas Pienemaan untuk membuat lukisan penangkapan Diponegoro demi menandai keberhasilan karier militernya selama perang Jawa. Pieneman kemudian menggarap lukisan berjudul ‘Penaklukan Diponegoro’. 

Nicholaas Pienemaan, Penyerahan Diri Diponegoro kepada Letnan Jenderal H.M. de Kock, 28 Maret 1930, yang Mengakhiri Perang Jawa. Sumber : rijksmuseum.nl

Selang beberapa waktu, Pienemaan menghadirkan gambar sosok Pangeran Diponegoro yang tidak berdaya dengan raut muka penuh kepasrahan, dengan kedua tangan terbentang. Tumpukan tombak yang berada di hadapan pasukan Pangeran Diponegoro merupakan sebuah pertanda bagi pasukan yang kalah dalam peperangan. 

Dalam lukisan tersebut juga tampak Jenderal De Kock. Ia berdiri dan bertolak pinggang menunjuk kereta tahanan di belakang Pangeran Diponegoro, seolah memerintahkan penahanan Pangeran Diponegoro. 

Di sisi lain para pengikut Pangeran Diponegoro seolah-olah dapat menerima hal tersebut karena tidak tercermin rasa sedih dan kecewa. Semua ini menggambarkan seakan-akan peristiwa penangkapan itu dapat diterima dan yang terbaik bagi masyarakat Jawa.

Tentu saja hal tersebut membuat Raden Saleh tidak bisa menerima lukisan karya Pienemaan yang sudah tentu mengaburkan sejarah dan fakta kebenaran yang terjadi. Karena itulah kemudian ia membuat lukisan dengan versi berbeda yang kemudian dia berikan kepada Raja Willem III sebagai bentuk sikap protes. 

Lukisan tersebut berjudul ‘Penangkapan Diponegoro’. Pada masanya, mungkin hal yang dilakukan Raden Saleh masih jauh bila dikaitkan dengan persoalan nasionalisme. Namun saat itu dia telah menunjukkan sikap anti kolonialisme.

Penangkapan Diponegoro.Sumber : Brilio.net

Berbeda dengan Pienemaan, lukisan yang digarap Raden Saleh lebih bernada nasionalisme ala Jawa sekaligus memberi gambaran tentang dramatisasi hidup sang pangeran di depan tentara penjajah. 

Hal tersebut terlihat dari sikap figur Diponegoro yang ada pada lukisan Raden Saleh. Lukisan yang diselesaikan tahun 1857 ini mengecam sikap penjajahan di Jawa dan menuntut agar Belanda mengembalikan martabat orang Jawa. Karena itulah Raden Saleh juga menggambar dirinya dalam lukisan tersebut sebagai seorang saksi atas sebuah penangkapan yang penuh kecurangan.

Lukisan ini kemudian oleh Pemerintah Belanda diberikan kepada Pemerintah Indonesia pada 1978, bersamaan dengan peristiwa kembalinya sejumlah artefak warisan budaya lainnya. Sejak itu hingga kini, karya Raden Saleh ini menjadi bagian penting di Istana Kepresidenan Republik Indonesia. 



Berita Terkait