Sumber: Merdeka

Perlukah Kita Takut Pada Radikal?

Ceknricek.com -- Seorang istri perwira menengah TNI yang menjabat sebagai Dandim Kendari, tiba-tiba membuat geger publik Indonesia. Di saat publik terkejut ketika Menkopolhukam menjadi korban penusukan orang yang diduga terpapar radikalisme di Pandeglang, si istri Dandim yang bernama Irma Nasution ini justru berkomentar berlawanan mengenai peristiwa mengenaskan yang menimpa mantan Panglima ABRI tersebut di media sosial Facebook, dengan ucapan "Jgn cemen pak,…Kejadianmu, tak sebanding dgn berjuta nyawa yg melayang".

Ketika postingan tersebut mendapat balasan dari orang lain bernama Togar Panjaitan, dengan kalimat: “Ibu ini adalah istri seorang Dandim di Kendari. Tidak pantas seorang istri Perwira TNI AD membuat pernyataan superti ini", Ibu Dandim kembali menjawab "Maaf pak Togar Panjaitan kenapa tdk pantas,.. saya seorg istri Dandim dan jg seorang manusia biasa yg mempunyai perasaan, apa yg saya sampaikan tdk menghina siapapun,..justru saya seorg istri perwira pak, yg merasakan perasaan berjuta rakyat mati. Lbh mngiris kalbu, mohon maaf apabila bpk tdk berkenan”.

Sumber: Kompas

Si istri pun diproses secara hukum, dan si suami terpaksa kehilangan jabatan yang baru diembannya dalam hitungan minggu. Meski sudah dibantah oleh Mabes AD, namun tidak sedikit yang tetap menduga si istri Dandim ini sudah terpapar paham radikalisme.

Sumber: Istimewa

Jauh sebelum kejadian itu, di awal bulan Desember 2018, sebuah survei dari Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Ulama (P3M) Nahdlatul Ulama, menyebutkan ada  41 masjid di lingkungan kementerian dan BUMN yang terpapar paham radikalisme.

Ini juga menggegerkan dunia maya dan dunia nyata sekaligus di Indonesia. Betapa tidak, bayangkan apabila ribuan jemaah mulai dari pegawai kantor tersebut, hingga orang biasa silih berganti datang untuk ibadah di masjid tersebut dan ikut terpapar radikal. Tidak hanya masjid, beberapa ulama di Indonesia pun juga sudah banyak yang dicap sebagai ulama radikal, atau terpapar radikal, sehingga ditolak berceramah, berdakwah, bahkan mengadakan diskusi di tengah-tengah pelajar.

Arti Radikal

Sudah perlukah kita untuk takut terhadap paham radikal? Sebelum menjawab itu, mari kita coba “kenali” dulu apa arti kata radikal.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia online di website www.kbbi.web.id, radikal memiliki 3 arti, yang menurut kamus ini juga radikal adalah kata sifat (adjective): (1) secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip); (2) amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); (3) maju dalam berpikir atau bertindak.

Bila saya mencoba sederhanakan, dengan kata lain, siapapun yang memegang teguh prinsip-prinsip mendasar yang dia yakininya, dan menuntut perubahan sesuai prinsip dasarnya, hingga maju dalam berpikir atau bertindak, maka dia adalah seorang yang radikal.

Yang menarik, tidak ada satu pun dalam terjemahan kata “radikal” yang dikaitkan dengan agama mana pun. Lantas apa yang buruk dari sifat radikal?

Sumber: Istimewa

Menjadi buruk bagi lawannya ketika dia sudah berpikir atau bertindak melewati batas norma bagi “lawannya”. Ketika yang menjadi lawannya adalah negara, maka orang ini menjadi buruk apabila sudah melawan norma hukum negara. Apabila yang menjadi lawannya adalah atasannya, maka orang ini menjadi buruk apabila melawan norma aturan perusahaan/instansi tempat dia bekerja.

Artinya, seorang wartawan yang setiap waktu bekerja mempertahankan prinsip-prinsip dasarnya sebagai wartawan bisa dianggap radikal, jika prinsipnya ditegakkan dengan melawan bos yang menggajinya atau penguasa yang dikritiknya. Bahkan wartawan tersebut bisa mendapatkan sanksi hingga pemecatan bila dia tetap gigih mempertahankan prinsip-prinsip dasar jurnalismenya hingga melawan aturan yang dibuat atasannya.

Seorang surveyor atau peneliti, terlepas dari apapun pandangan politiknya, bisa dianggap radikal apabila menyajikan data sesuai fakta yang berlawanan dengan keinginan klien yang sudah membayarnya mahal.

Baca Juga: Silakan Jadi Koruptor Asal Jangan Radikal

Seorang ulama atau pemuka agama lainnya juga bisa dianggap radikal ketika dia menjalankan dan menyebarkan ajarannya sesuai dengan ajaran kitab yang dipercayainya, tanpa dia masukkan pikiran-pikiran dan nilai-nilai pribadi sendiri yang melenceng dari agama.

Seorang dokter pun bisa menjadi radikal apabila dia memperjuangkan keselamatan pasien yang tidak mampu membayar, hingga si dokter harus membuat rumah sakit itu merugi.

Bahkan jutaan pejuang kemerdekaan Indonesia yang gugur melawan penjajah Inggris, Belanda, dan Jepang pun dahulu dianggap sebagai orang yang nasionalis radikal bagi para penjajah.

Sumber: Istimewa

Apakah menjadi radikal itu artinya bisa melawan hukum atau aturan yang berlaku? Sangat bisa, karena terkadang aturan yang dibuat oleh penguasa atau atasan cenderung bias untuk mengamankan kepentingan kekuasaan. Lantas apa yang salah dari kata radikal?

Dikonotasikan Negatif

Yang salah adalah ketika kata radikal “hanya” dikonotasikan negatif kepada agama atau golongan tertentu saja. Misalnya, kita terlanjur menganggap Al-Qaeda dan ISIS sebagai kelompok Islam radikal. Padahal baik Al-Qaeda maupun ISIS tidak betul-betul menjunjung tinggi prinsip-prinsip dasar kemanusiaan yang diajarkan oleh Islam.

Sumber: Merdeka.com

Kelompok-kelompok tersebut dalam melaksanakan aksi terornya jelas-jelas tidak memegang teguh ajaran pada surat Al-Maidah ayat 32, Allah berfirman: "Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi”.

Sumber: Merdeka.com

Al-Qaeda dan ISIS tidak menjunjung perintah Allah untuk bersikap adil kepada mereka yang tidak memerangi Islam, dalam firmanNya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (Al-Mumtahanah: 8)

Bagaimana dengan cita-cita Al-Qaeda dan ISIS dalam mendirikan negara khilafah di alam semesta ini? Bukankah itu sesuai ajaran Quran?

Quran hanya mengajarkan untuk menjalankan hidup sesuai Islam. Setahu saya tidak ada perintah bahwa suatu bentuk negara harus berbentuk khilafah, karena khilafah sendiri tidak ada bentuk baku yang disepakati seluruh ulama di sepanjang sejarah.

Adalah tanggung jawab para pemimpin negara tersebut apakah mereka mau mengaplikasikan jalan hidup islam atau tidak di dalam hukum dan undang-undangnya. Allah juga berkali-kali mengingatkan untuk tidak memaksakan orang untuk percaya kepada Islam dan ajaran Quran, apalagi memakai kekerasan.

Baca Juga: Celana Cingkrang, Berjenggot, dan Kaum Radikal

Dalam surat Al-Baqarah ayat, Allah berfirman: “Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah: 256).

Humanitarian Radikal

Kembali ke istri Dandim tadi, saya setuju kemungkinan dia terpapar radikal. Tapi saya melihatnya Ibu Irma terpapar paham humanitarian radikal yang menyuarakan isi hatinya hanya dari sisi kemanusiaan dengan metode komparasi kuantitatif berdasarkan perbandingan jumlah korban satu berbanding jutaan menurut kalimat postingannya.

Bu Irma lupa mempertimbangkan hukum-hukum yang berlaku di militer yang mengatur sikap prajurit yang harus taat kepada komandannya, dan juga sikap istri prajurit (apabila ada aturannya). Dan kalau ada hukum yang dilanggar oleh si Ibu, maka tugas hakim untuk secara radikal menegakkan prinsip dasar hukum, yaitu menjunjung tinggi keadilan berdasarkan Ketuhanan. Disitulah beratnya tugas hakim antara menegakkan hukum normatif, namun juga harus mempertimbangkan rasa keadilan, yang terkadang keduanya tidak selalu sejalan.

Sumber: Istimewa

Sementara data survei dari lembaga yang mengatasnamakan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Ulama (P3M) Nahdlatul Ulama, saya dapat membantahnya, karena masjid merupakan mahluk tidak hidup yang tidak mungkin memiliki sifat-sifat manusia, salah satunya sifat radikal.

Kemudian mengenai tuduhan terhadap ulama radikal, adalah tugas pemuka agama untuk menyiarkan agama sesuai prinsip dasar ajarannya. Namun apabila dia menambahkan atau mengurangi ajaran agamanya sendiri, maka dia bisa dicap pribadi yang radikal, bukan predikat agamanya yang radikal. Jadi memang sudah seharusnya setiap orang melaksanakan sesuatu secara radikal sesuai prinsip dasarnya.

Pertempuran batin akan terjadi ketika prinsip tersebut bertentangan terhadap aturan yang berlaku di tempat dia berada. Namun selama itu tidak menghasilkan kerusakan atau menyakiti orang lain, semestinya aturan dan hukum yang berlaku juga dibangun di atas prinsip-prinsip dasar tersebut.

Sumber: Alinea.id

Misalnya, prinsip dasar rumah sakit seharusnya mengedepankan prinsip dasar seorang dokter, yaitu menyelamatkan pasien terlebih dahulu dibandingkan mencari keuntungan. Begitu juga pemiluk media mestinya sudah paham bahwa seorang jurnalis harus memegang teguh prinsip dasar jurnalistik, yaitu memberitakan kebenaran, meski itu artinya mengkritik penguasa dan mengganggu kepentingan si pemilik media.

Saya sendiri termasuk orang yang percaya kepada kata-kata Evelyn Beatrice Hall, dan kebetulan juga sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dalam buku biografi Voltaire, Evelyn menuliskan “Saya tidak setuju dengan apapun yang anda katakan, namun saya akan menyerahkan nyawa saya demi membela hak anda untuk berkata itu”. Mungkin dalam hal ini saya pun termasuk golongan demokrat yang radikal.

BACA JUGA: Cek AKTIVITAS KEPALA DAERAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait