Sumber: Istockphoto

Sejarah Jas Hujan, dari Masa ke Masa

Ceknricek.com -- Musim hujan telah memasuki bulan kedua. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahkan terus mewanti-wanti masyarakat untuk waspada, terlebih bagi mereka yang beraktivitas di luar ruangan.   

Jika Anda tak menghindar dari kegiatan di luar rumah, penggunaan jas hujan menjadi salah satu alternatif yang perlu diperhitungkan.

Jika dulu jas hujan dianggap tak bisa digunakan sebagai bagian dari fesyen, kini justru sebaliknya. Para perancang membuat siluet yang bagus, desain warna-warni dan busana yang nyaman.

Sejarah Jas Hujan, dari Masa ke Masa
Sumber: Wikipedia

Jas hujan sebenarnya sudah lama hadir, setidaknya sejak Charles Macintosh mematenkan jas hujan berbahan karet "plastic mac" untuk kali pertama pada 1823.

Namun, momen paling ikonik terjadi saat Thomas Burberry menemukan kain gabardin (jenis kain polyester yang secara sepintas mirip dengan twill yang nyaman dipakai dan mempunyai kerapatan yang lebih renggang daripada twill) 56 tahun kemudian. Bahan ini lebih tahan terhadap cuaca dan sempat digunakan tentara selama Perang Dunia I.

Baca Juga: Tiga Warna Pilihan di Musim Hujan

Laman who.com.au menulis, bahan plastik kemudian dikenal pada tahun 1950-an dan menjadi populer setelah Perang Dunia Kedua ketika produksi kain sintetis melonjak dengan harga yang relatif terjangkau.

Sejarah Jas Hujan, dari Masa ke Masa
Sumber: Bigwire

Salah satu bahan yang digunakan, Polyvinyl Chloride (PVC) dengan satu warna dominan. Laman The Telegraph menyebut, pada tahun 1970 Putri Anne dari Inggris mengenakan ponco berbahan PVC dengan warna merah mawar dalam sebuah kunjungan.

Jas hujan tembus pandang yang beberapa tahun lalu diperkenalkan membuktikan barang ini bisa dibuat untuk bergaya. Sejumlah selebritas semisal Ariana Grande pernah memakainya pada 2015, lalu Joan Smalls pada 2017 dan Christina Milian dua tahun kemudian.

Jas Hujan di Indonesia

Perancang busana Lisa Fitria berpendapat, di Indonesia jas hujan belum menjadi bagian dari fesyen, karena masih sebatas pada kebutuhan menghindari terpapar air hujan. Apalagi, tingkat tutupan jas hujan lebih baik ketimbang payung.

"Hanya, jas hujan yang ada belum dipikirkan secara fesyennya. Tapi sekarang beberapa label sudah mengeluarkan produk yang mengarah ke sana, bukan jas hujan tetapi anti air, misalnya jaket tipis. Fungsinya bisa sama seperti jas hujan," kata dia dalam sebuah wawancara dengan Antara beberapa waktu lalu.

Di luar produk yang dikeluarkan sejumlah merek, jas hujan plastik lebih dikenal, biasanya menggunakan bahan PVC dan HDPE dengan ragam model, namun kebanyakan raincoat hanya atasan selutut. Warna yang dipilih umumnya warna terang karena lebih banyak digunakan siang hari ketimbang malam hari.

Sejarah Jas Hujan, dari Masa ke Masa
Sumber: Antara

Jas hujan mirip kantong plastik sekali pakai juga belakangan hadir dan cukup digemari kalangan muda karena praktis. Jas ini kerap digunakan para pengendara motor dan penumpangnya berukuran sekitar 90 sentimeter atau selutut orang dewasa.

Baca Juga: Presiden Kenakan Jas Hujan Pemberian Warga di Sukajaya, Bogor

Seperti jas hujan pada umumnya, ada penutup bagian kepala dengan fungsi ganda yakni menghindari kepala terkena air hujan dan pelindung dari helm motor yang basah. Beberapa jas juga dilengkapi tali pengencang di bagian kepala, menambah kesan sedikit gaya.

Selain plastik, bahan parasut juga digunakan dan cenderung lebih trendi terutama saat berkendara menggunakan motor dan berjalan kaki.

Lisa menilai, para perancang di Tanah Air punya kesempatan menciptakan jas hujan yang fungsional sekaligus membuat pemakainya bisa trendi, seiring booming-nya dunia fesyen saat ini.

Sejarah Jas Hujan, dari Masa ke Masa
Sumber: Istimewa

"Kesempatan di dunia fesyen, menciptakan jas hujan yang sesuai fungsinya tetapi tetap bisa fashionable. Bisa dibuat jas hujan dengan model jumpsuit, yang sampai ke kaki. Bisa didesain keren, hingga ke sepatu jadi enggak kena air. Ada hoodie-nya, bisa dilepas," tutur dia.

Soal bahan, dia menyarankan nilon ketimbang plastik, karena lebih mudah kering, bisa digunakan berkali-kali dan tentu saja ramah lingkungan. "Paling enak nilon karena lebih cepat kering," kata Lisa.

BACA JUGA: Cek SOSOK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait