Soal Donasi 2 T, Ini Wawancara Imajiner Astrid Wibisono dengan  Sang Ayah, Pengamat Ekonomi Christianto Wibisono | Cek&Ricek astra-satu-untuk-indonesia
Sumber: Istimewa

Soal Donasi 2 T, Ini Wawancara Imajiner Astrid Wibisono dengan  Sang Ayah, Pengamat Ekonomi Christianto Wibisono

Ceknricek.com—Pengamat ekonomi senior  Indonesia, Christianto Wibisono, meninggal dunia Kamis (22/7/21) lalu. Kepergiannya diumumkan oleh putrinya, Astrid Wibisono lewat akun medsosnya.

"Dengan duka yang terdalam, namun dalam kekuatan paling surgawi, kami sekeluarga mengumumkan wafatnya Christianto Wibisono, pada pukul 17:05 pada tanggal 22 Juli 2021, satu hari menjelang Hari Ulang Tahun Pernikahannya yang ke-50," kata Astrid.

Kenangan akan ayahnya, rupanya membuat Astrid ‘berdialog’ secara imajiner, utamanya soal geger donasi sebesar 2 Triliun. Dialog itu diunggah Astrid di laman fb-nya, Kamis (29/7/21). Berikut petikan lengkapnya:

Dari balcony Kempinski Residence, Bundaran HI Jakarta dimana Christianto Wibisono  (CW) biasa berdialog dengan Bung Karno saya Astrid Wibisono  (AW) memulai wawancara perdana ini:

Astrid Wibisono (AW): Hi Dad, it’s only been a week since you left.  How you doin’ up there?

Chritianto Wibisono  (CW): Hi Tid, ya papi masih lihat2 disini sambil memantau situasi Jakarta. Baru seminggu sudah heboh donasi 2T Akidi Tio. 

AW: Betul. Papi up to date amat, sudah tau aja. Btw siapa sih itu? Banyak yang nanya.

CW: Ya memang misterius itu, namanya belum pernah muncul dalam daftar Konglomerat atau pembayar pajak terbesar.  Yang lebih penting justru bukan siapa dia, tapi bagaimana dana 2T itu sukses disalurkan tepat sasaran.  Harus ada sinergi terintegrasi antar Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat untuk penanggulangan COVID terutama di area epicenter pandemi.

Mungkin bisa dibentuk Trust Nasional Pemberdayaan Dana Covid (TNDC) dimana seluruh dana yang terkumpulkan baik dari donasi maupun lainnya, dimanage secara keseluruhan dengan anggaran khusus, bukan hanya untuk mengatasi COVID sementara waktu tapi dimasa depan berdwifungsi sebagai crisis management tool sekaligus capital expenditure. 

Jadi tidak setiap kali si A sumbang sekian untuk spending X, si B sumbang lagi sekian untuk spending Y, tapi semua jalan sendiri-sendiri dan akhirnya dana habis untuk expenses dan tidak ada preventive & lucrative long term healthcare masterplan.  Kita harus bentuk formula antisipasi krisis, COVID ini kan pertama beredar sudah dari akhir 2019, jangan tunggu darurat baru kelabakan. 

AW: Kita sampai langsung turun kelas lho Dad di World Bank sekarang Indonesia jadi negara penghasilan menengah bawah.  Gimana cara ini untuk upgrade?

CW: Ya justru itu kalau mau reposisi harus all-out.  Selain TNDC kita harus jeli memilah anggaran, memilih mana yang harus diprioritaskan tidak hanya jangka pendek.  Papi kan memang kalau bicara selalu long term. 

Kita harus sedia amunisi budget untuk Minimum Essential Health Protection, jangan hanya koleksi “Alutsista” (apalagi yang obsolete). Sebagian anggaran alutsista ini baiknya dialihkan untuk riset rekayasa rejuvenasi biomedical engineering.  Sudah waktunya dunia beranjak dari weapons of mass destruction ke weapons of mass protection. 

Perhatikan data budget spending negara-negara di dunia untuk military vs. healthcare di WIBK terakhir yang ditulis Senin 12 Juli, 4 hari sebelum masuk ICU: Indonesia dan India ada di peringkat bottom 2 untuk healthcare spending.  Lantas keduanya jadi Top 2 epicenter pandemi. 

COVID tidak pandang bulu, menyerang dari buruh sampai presiden dimanapun.  Jadi hanya bisa dilawan dengan full access terhadap layanan dan fasilitas kesehatan yang juga tidak pandang bulu. 

Negara harus membangun imunitas secara sistematis untuk mencegah bahaya “badai Cytokine” yang fatal, apalagi dengan penyakit komorbid Indonesia yang sudah eksis dari jaman Belanda yaitu kecenderungan “desintegratie” dan “politisering”, yang berdampingan menciptakan systemic collapse. 

AW:  OK Dad let’s hope this country can rise sooner than later. Terus2 gimana you disana sudah ketemu siapa aja? Wawancara dengan Bung Karno sudah ga imajiner lagi donk? Tatap muka sekarang.

CW: Hush! Data warga alam baka milik Tuhan pribadi, dibawah kedaulatanNya.  Tidak bisa papi sharing, biar di surga juga tetap ada Data Privacy Act.  Untungnya disini ga ada hacker, jadi aman.

Imajiner you teruskan lah.  Jangan keseringan, nanti orang bosan.  Toh harus kumpulkan data dulu dan riset sebelum nulis.  Jangan asal bunyi. Your argument must be supported by facts.  Pertahankan kredibilitas papi & PDBI. 

Oh ya Tid, bentar lagi HUT  ke-76 RI.  Jangan lupa titipan kado papi hibah koleksi 2000+ buku pribadi yang waktu itu kita sudah atur dgn Gubernur DKI. Kita bukan konglomerat, ga mungkin kita saingan nyumbang trilyunan.  But knowledge is our eternal asset, yang harus terus dishare dan diviralkan. 

AW: Iya Dad pasti.  Waktu acara Ibadah Pelepasan 24 Juli lalu juga sudah disebutkan oleh Gubernur bahwa tgl 17 Agustus 2021 nanti akan dilaksanakan serah terima Hibah Buku Christianto Wibisono untuk Perpustakaan DKI & Nasional, hopefully sebagian bisa ditempatkan di Taman Ismail Marzuki yang baru. 

Berhubung you tidak akan hadir untuk acara itu dan membedah buku terakhir Kencan Dinasti Menteng (KDM) yang semula direncanakan, your editor Yohanes Sulaiman akan membantu mengulas konten. I myself akan menyampaikan kesan & kenangan dari beberapa tokoh yang seminggu ini berbaik hati menulis obituari yaitu: Bpk. Denny JA, Didik Rachbini, Jaya Suprana, Hendrawan Supratikno, Dahlan Iskan, dan Ibu Mari Pangestu sebagai tanda apresiasi kepada mereka dan seluruh pihak yang sudah memberi bantuan moral & menguatkan keluarga kita.

CW: Ya bagus. Papi sudah lihat Zoom Ibadah Pelepasan dan happy melihat Anies-Ahok dalam 1 screen.  Dulu cita2 papi Indonesia bisa menjadi juru damai Israel & Arab-Palestina.  Cita2 yang selalu diketawain orang termasuk you. Tapi papi yakin Indonesia suatu saat bisa mencapai top rank bukan dalam kategori keterpurukan.  Kalau kita pernah menjadi top epicenter pandemi, pada saat yang Tuhan tentukan nanti Indonesia akan bangkit menjadi top epicenter keragaman, toleransi, dan meritokrasi.

OK Tid sudah papi mau makan cemilan favorite dulu, French Fries sama kue basahan. Dulu kan papi batuk2 terus jadi sama mami ga boleh makan gorengan dan manis2.  Sekarang ga ada yang larang hehehe. 

You take care Tid & Jas.  Take care of Mom, your kids and husbands.  Remember my last words, “Semoga manusia Indonesia terus diteguhkan dengan hidup yang berawal dari nafas, bertumbuh dalam iman, dan berbuah sebagai roti kehidupan (berkat) bagi sesamanya.”  Breath, Faith, Bread.

AW: Thanks Dad.  Enjoy your French Fries.  Till we converse again.


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait