Foto : Intisari.id

Zaman Edan Ala Ronggowarsito

Ceknricek.com - Menyaksikan zaman gila, serba susah dalam bertindak, ikut gila tidak akan tahan, tapi kalau tidak mengikuti (gila), tidak akan mendapat bagian, kelaparan pada akhirnya, namun telah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa, sebahagia-bahagianya orang yang lalai, akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.. (Serat Kalathida-R.Ng.Ronggowarsito)

Ronggowarsito, pujangga terakhir Keraton Kasunanan Surakarta satu abad silam pernah menulis kalimat tersebut dalam serat Kalathida atau Zaman Edan, kenapa amatan sosial tersebut masih relevan hingga sekarang?

Bagaimana sosok yang lahir 217 tahun silam, 15 Maret 1802 itu mampu menggambarkan lanskap sosial yang akan datang? Simak kisah hidupnya.

Pujangga Terakhir

Menurut Ki Herman (Jurnal Kalam 2016) Ronggowarsito adalah keturunan langsung Pangeran Wijil dari lingkungan ulama Kadilangu, Demak Bintara, seorang pelestari Kitab Jayabaya Kidung, dengan menuliskannya kembali dari tradisi lisan. Jika silsilah Pangeran Wijil ditelusuri ke atas, akan sampai ke Bagus Kasan atau Raden Patah atau Pangeran Jinbun, putra dari Prabu Brawijaya V, sultan terakhir Majapahit.

Sumber : Tribunnews

Keturunan Pangeran Wijil adalah Raden Ngabehi Yasadipura I, yang berputra Raden Ngabehi Yasadipura II, pujangga di lingkungan Kraton Surakarta sekaligus senapati tempur era perang Jawa. Dia bergelar Raden Tumenggung Sastranegara memimpin pertempuran di timur pesisir utara Jawa. Usai peperangan, dia dihukum mati di Batavia dan dimakamkan dengan nama kecilnya, Sayyid Abubakar, di kompleks pemakaman keramat Luar Batang, Jakarta.

Alam Filsafat Ronggowarsito

Selama ini berbicara tentang filsafat sejarah yang muncul pasti filsuf atau ilmuwan seperti Hegel, Marx, Toynbee, atau filsuf Islam seperti Ibnu Khaldun. Padahal kita juga memiliki filsuf lokal, yakni Ronggowarsito, atau Joyoboyo (Raja Kediri) yang banyak menelurkan gagasan mengenai filsafat sejarah. Namun, karena kurangnya perhatian dari ilmuwan Indonesia ataupun sejarawan, akhirnya nama mereka tenggelam.

Meskipun tak secara spesifik membahas filsfat sejarah seperti filsuf-filsuf Barat, namun jika dicermati karya-karya Ronggowarsito, seperti serat Pramayoga, serat Pustakaraja Purwa, serat Sabdhatama, serat Jaka Lodang dan serat Wedharaga, tampak kental muatan filsafat sejarahnya, Hal ini konon, berangkat dari penghayatan “kiblat papat kelimo pancer” , yakni bagaimana manusia dalam menghayati ke empat arah mata angin  dengan “pancer” atau dirinya sendiri sebagai penyelaras antara jagat yang makrokosmos maupun mikrokosmos.

Ramalan dan Kematian

Dalam serat Sabda Jati, Ronggowarsito menulis bahwa kelak ia akan meninggal tepat 8 hari setelah menulis karya terakhirnya tersebut. Memang, ia akhirnya wafat di usia 71 tahun, 24 Desember 1873. Banyak yang meyakini hal tersebut memang karena ia ulung dalam meramal.

Sumber : Front one in Semarang

Namun beberapa sejarawan berpendapat, ia meninggal dibunuh  karena perlawanan epistemiknya dalam menentang kolonialisme dengan mengirimkan cendikiawan-cendekiawan Tanah Air untuk sekolah ke mancanegara. Strategi tersebut akhirnya diketahui oleh kompeni (pemerintah kolonial) hingga ia akhirnya ditembak mati karena dianggap terlalu berbahaya bagi kolonialisme. Ronggowarsito gugur dan dimakamkan di Desa Palar, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.



Berita Terkait