Bahasa Menunjukan Bangsa | Cek&Ricek astra-satu-untuk-indonesia
Foto : Istimewa

Bahasa Menunjukan Bangsa

Ceknricek.com--Selama ini kita mengenal peribahasa Indonesia yang indah: “Bahasa menunjukkan bangsa”. Artinya memang beragam, namun kalau disimpulkan mengerucut menjadi ungkapan bahwa “dari bahasa seseorang dapat disimpulkan budi pekertinya”. Mungkin ini berlaku untuk semua bahasa, kecuali bahasa Arab.

Kalau analisa DR. Susaningtyas Nefo Kertapati Handayani memang tepat, maka kita, Bangsa Indonesia, akan mendapat beban segunung Himalaya, karena harus melakukan pembersihan terhadap semua kosa kata yang dipinjam dari bahasa Arab, termasuk, dan terlebih penting, dalam Ideologi Negara yang selama ini sangat dibanggakan, Pancasila. 

Sebagaimana diketahui, baru-baru ini Doktor yang diakui kepakarannya dalam bidang intelijen itu mengingatkan bahwa:“Mereka tak mau pasang foto presiden dan wapres. Lalu mereka tak mau menghafal menteri-menteri, tak mau menghafal parpol-parpol,” ujar Susaningtyas dilansir di Progam Crosscheck yang disiarkan di akun YouTube, dikutip Rabu (8/9/21).

Dia mengatakan bahwa gerakan sekolah yang berkiblat pada Taliban ini, tentu harus diwaspadai. Karena sekolah merupakan pabrik pencetak para pemimpin negeri di masa depan, sekolah pula yang mencerdaskan bangsa. Mantan anggota DPR Komisi I ini juga menyebut ciri anak muda yang terpapar  radikalisme  adalah dengan perbanyak belajar Bahasa Arab.

Begitu yang kita baca di sejumlah media. Meski kedengarannya agak lucu analisa dan kesimpulan seperti itu, namun mengingat yang mengucapkannya adalah seorang S-3 bidang intelijen yang pernah pula menjadi anggota DPR-RI, maka kita harus menganggapnya serius. Memang bahasa asing dalam segala bentuknya pernah dianggap kurang nasionalis di Indonesia, khusus di zaman Orde Lama. Dalam tahun 1958 (kalau ingatan penulis tidak salah) pemerintah R.I. pernah melarang sekolah-sekolah dengan bahasa pengantar Inggris dan Mandarin.

Namun bukan karena alasan bahwa kedua bahasa itu dapat mendorong pemakainya ke perbuatan keji (kontra-revolusioner?), melainkan karena alasan nasionalisme yang meluap- luap. Nah sekiranya memang akhirnya bahasa Arab akan “dilarang” di Indonesia, maka yang pertama-tama harus dilakukan adalah mengganti berbagai kata dalam Ideologi Pancasila, karena tidak sedikit kata dalam kelima sila Ideologi Negara Republik Indonesia itu adalah kata-kata pinjaman dari bahasa Arab.

(1)Ketuhanan yang Maha Esa,

(2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,

(3) Persatuan Indonesia,

(4) Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratan

dan Perwakilan, dan

(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menarik sekali adalah kenyataan bahwa dalam bukunya “Muhammad , Prophet For Our Time” (Muhammad, Nabi untuk Masa Kini) mantan biarawati Inggris yang telah banyak menulis buku tentang berbagai agama, Karen Armstrong, dalam muqaddimah – ma’af, eh bukan mohon ampun – dalam kata pengantarnya antara lain mengatakan:

“Kitab (mohon ampun, lagi-lagi ini pinjaman dari bahasa Arab – buku barangkali lebih sesuai) Suci Umat (mohon ampun ini lagi-lagi pinjaman dari bahasa Arab) Islam – maksudnya – aduh lagi-lagi dari bahasa Arab – Al Qur’an mengamanahkan – aduh lagi-lagi terlanjur pakai kata pinjaman dari bahasa Arab, kepada para pemeluknya agar:

“Menciptakan sebuah masyarakat yang adil dan beradab, dalam mana semua anggotanya diperlakukan dengan hormat (dari bahasa Arab-kah?)”.

Jadi mungkin saja Karen Armstrong telah menjiplak dari sila kedua Pancasila. Apa pun kenyataannya adalah bahwa Pancasila memang demikian pentingnya hingga mereka yang dipercaya mengelola Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) digaji sangat tinggi. Penulis tentang Sains dari Amerika yang telah banyak meraih berbagai penghargaan, Nancy Marie Brown, dalam bukunya “The Abacus and The Cross”, tidak habis-habisnya memuji keunggulan Bahasa Arab, yang dikatakannya merupakan bahasa pengantar dari matematika moderen, ilmu falaq, fisika, kedokteran, filosofi – bahkan ilmu komputer– yang akhirnya ikut mencerahkan “Eropah Kristiani”.

Meski Tiongkok diakui sebagai penemu kertas (mohon ampun, ini juga dari pinjaman kata Arab – al qartas),namun yang membawa dan menyebarkan ilmu (mohon ampun ini juga adalah pinjaman dari bahasa Arab) pembuatan kertas ke Eropah adalah Muslim Arab , al- Warraq.

Karena keindahan dan keluasannya, Bahasa Arab, kata Nancy Marie Brown, sampai-sampai digunakan dalam Misa Gereja. Sementara itu, ilmuwan pada Pusat Penelitian Brooking Amerika, Shadi Hamid, dalam bukunya “Islamic Exceptionalism” mengatakan: “Khilafah Abbasiyah adalah salah satu imperium paling berhasil yang pernah dikenal dunia. Dari abad ke-8 sampai dengan ke-13, khilafah ini berkembang biak, dengan kemajuan-kemajuan yang tidak ada taranya dalam bidang-bidang sains, kedokteran dan falsafah. Para pencari ilmu dari Eropah berduyun- duyun pergi ke berbagai perguruan tinggi Muslim dibekali harapan dapat menuntut ilmu dari para dokter yang paling terkemuka di dunia (waktu itu), juga para pemikir dan ahli agama".

Kini Umat Islam, khususnya di dunia Arab, suka melakukan perdebatan penuh siksaan kesalahan apa yang telah terjadi, hingga mereka menjadi terpuruk. Mungkin sampai di sini dahulu Ibu DR. Susaningtyas. Mungkin lain waktu (aduh mohon ampun ini lagi-lagi dari bahasa Arab) kita teruskan cerita ini.#


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait