Ilustrasi: Alfiardy/Ceknricek.com

Biografi Nh. Dini dan Pilihan Hidup Menjadi Pengarang

Ceknricek.com -- Hari itu, Selasa siang, penulis Nh. Dini mengalami kecelakaan lalu lintas di salah satu ruas tol Semarang. Mobil yang dinaikinya dihantam bagian belakang truk yang tidak kuat melewati tanjakan. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Elisabeth Semarang.

Sore hari, pukul 16.00 WIB, tepat hari ini satu tahun yang lalu pada 4 Desember 2018, nyawa penulis itu tidak tertolong dan meninggal pada usia 82 tahun. Jenazahnya kemudian dikremasi di pemakaman Kedungmundu Semarang.

Kiprah Hidup Sang Pengarang

Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, atau Nh. Dini lahir di Semarang, Jawa Tengah pada 29 Februari 1936. Ia merupakan salah satu penulis perempuan paling produktif di Indonesia. Tercatat setidaknya ia telah menulis 20 buku dalam waktu rentang hidupnya.

Sumber: Istimewa

Nh. Dini merupakan putri bungsu dari lima bersaudara dari pasangan Salyowijoyo, seorang pegawai jawatan kereta api dan Kusmainah. Kecintaan Nh. Dini pada dunia literasi sudah dipupuk sejak kecil yang merupakan produk pendidikan ayah dan ibunya yang sering memberikannya majalah dan mengajaknya berkomunikasi dalam bahasa Belanda, membaca-menulis, dan sesekali membatik.

Baca Juga: Mengenang Bu Kasur, Legenda Pendidik Anak-anak Indonesia

Kegemarannya menulis sudah berlangsung sejak sekolah dasar. Kakak sulungnya, Teguh Asmar, yang juga seorang seniman lalu membimbing Dini menjadi pencerita yang andal.

Bersama Teguh, Dini kemudian mendirikan perkumpulan seni Kuntjup Seri yang kegiatannya berlatih karawitan atau gamelan, bermain sandiwara, dan menyanyi, baik lagu-lagu Jawa maupun lagu Indonesia di rumah mereka di Jalan Sekayu, Semarang.

Selain itu, Dini juga mulai rajin menulis sajak, esai, dan cerita pendek di buku hariannya. Beberapa karyanya kemudian dibacakan di RRI Semarang. Kemampuan menulis Nh. Dini mulai diakui dunia sastra ketika pada 1952 sajaknya dimuat dalam majalah Budaja dan Gadjah Mada di Yogyakarta.

Dari sinilah mulai mengalir cerita-cerita Nh. Dini, seperti cerpen Pendurhaka yang dimuat di majalah Kisah Edisi II November 1954, dan kemudian menarik perhatian khusus dari Paus Sastra Indonesia, HB Jassin. Persinggungan ini lalu melahirkan hubungan yang intens antara mereka berdua, hingga Dini menghasilkan kumpulan cerpen Dua Dunia pada 1956.

Sumber: Istimewa

Selepas SMA, Nh. Dini yang sempat bercita-cita sebagai masinis kemudian menempuh pendidikan di Garuda Indonesia Airways (GIA). Selepas pendidikan ia bekerja sebagai pramugari dan menemukan jodohnya di atas udara, seorang diplomat asal Prancis, Yves Coffin, yang sedang bertugas di Indonesia.

Tahun 1960, mereka berdua menikah dan dikaruniai tiga orang anak selama mereka tinggal dan berpindah-pindah negara mengikuti tugas sang suami. Meski demikian Nh. Dini masih terus meneruskan hobinya sebagai seorang penulis. Bahkan, proses interaksi perpindahannya ke berbagai belahan dunia ini turut memberi warna dalam beberapa novelnya.

Sumber: Istimewa

Setelah menjalani bahtera pernikahan selama kurun waktu 20 tahun, Nh. Dini dan suaminya resmi bercerai pada 1984. Dini kemudian kembali ke Tanah Air setelah lama menetap di Prancis. Dari sinilah karya-karyanya mulai kembali membanjiri ruang baca masyarakat Indonesia. 

Baca Juga: Biografi Martha Tilaar: Pengusaha Kosmetik Terkemuka Indonesia

Sumber: Istimewa

Salah satu tonggak penting Nh. Dini adalah ketika ia menerbitkan novel Pada Sebuah Kapal yang paling terkenal dari beberapa karyanya. Muhidin M. Dahlan, salah satu kritikus dan kronikus sastra asal Yogyakarta menilai buku tersebut sebagai satu dari 100 karya sastra yang wajib dibaca sebelum mati.

Ciri khas karya Nh. Dini adalah bercerita tentang dirinya sendiri, alias memoar. Menurut sastrawan Seno Gumira Ajidarma, gaya keterusterangan Dini sebagai pengarang, menyiratkan bahwa ia sangat terbuka dalam kehidupannya, bahkan terkait seks dalam karyanya. Hal ini tentu saja menimbulkan polemik pada waktu itu, yang menganggap tulisan Nh. Dini tidak mencerminkan sikap ketimuran.

Sumber: Istimewa

Humanisme Nh. Dini 

Setelah bercerai dan kembali ke Semarang, Nh. Dini kemudian mengabdikan diri untuk dunia literasi. Di kota ini, ia kemudian mendirikan taman bacaan Nh. Dini untuk anak-anak, di Jalan Sekayu, Semarang atas biayanya sendiri. Di sela-sela ia mengawasi anggotanya untuk belajar meringkas, mengerjakan latihan berbahasa, ia juga tidak lupa menulis novel dan cerita pendek.

Meski demikian, cita-cita literasi yang ia angankan untuk mencerdaskan anak-anak di sekitaran rumahnya sempat terpatahkan akibat pelbagai musibah yang disebabkan oleh banjir dan longsor. Akibatnya Dini harus sering berpindah tempat tinggal dan memboyong buku bacaannya. 

Sumber: Istimewa

Berbagai penghargaan pun ia dapatkan atas dedikasinya ini. Mulai dari South East Asia Writer Award dari pemerintah Thailand di tahun 2003, hingga Duta Pengetahuan dari National Geographic. Banyaknya karya dan penghargaan yang diterimanya tak lantas membuat Nh. Dini hidup makmur. Di masa tuanya ia harus hidup di panti wreda dan sempat menjual beberapa untuk ongkos berobat kanker yang ia derita.

Baca Juga: Kartini, Sosok Benderang yang Melintasi Sejarah

Mengetahui hal ini pun, publik sastra Indonesia sempat dibuat terkejut dan menggalang dana untuknya bersama Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin untuk melelang beberapa lukisan karyanya. Setelah sembuh dari perawatan, Nh. Dini pun tak lupa mengirim ucapan terima kasih kepada para penyumbang dari berbagai lapisan masyarakat itu satu, per satu karena telah bersedia membantunya.

Sebagai seorang penulis, Nh. Dini banyak dinilai sebagai pengarang sastra prosa Indonesia terkemuka. Salah seorang tokoh yang mengungkapkan hal itu adalah A. Teeuw yang juga menyatakan bahwa novel-novel Dini sangat mengesankan, baik jumlah maupun mutunya. Selain itu, Nh. Dini juga dikenal sebagai pengarang yang secara intens membicarakan masalah perempuan atau feminisme.

Sumber: Istimewa

Meski demikian Nh Dini mengaku bahwa ia menulis tidak didasarkan pada "isme-isme" apa pun. Menurutnya apa yang ia tuliskan dan menjadi arah kepengarangannya adalah keadilan yang dengan sendirinya akan tercakup pula dalam kemanusiaan, hingga akhirnya ia serahkan pada para pembaca lewat narasi-narasi tokoh perempuannya.

Kini setelah satu tahun kepergiannya, penting rasanya untuk kembali membaca karya-karyanya yang mendobrak tradisi kolot dimana perempuan selalu ditempatkan dalam posisi minor bahkan terbelakang dengan hanya mengurusi dapur, sumur, dan kasur. Nh. Dini telah melampaui itu semua, dan kini ia telah berlabuh.

BACA JUGA: Cek SEJARAH, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: ThomasRizal


Berita Terkait