Sumber: Republika

Hari Ini Dalam Sejarah: Menjemput Kemerdekaan ke Vietnam

Ceknricek.com -- 12 Agustus 1945, pukul 10.00 waktu setempat. Soekarno, Muhammad Hatta, dan dr. Radjiman Wedijodiningrat diterima Jendral Terauchi, Panglima Angkatan Perang Jepang untuk Asia Tenggara, di Dalat, Saigon, Vietnam.

Empat hari sebelumnya, ketiga tokoh pergerakan tersebut telah menempuh rute penerbangan berbahaya dari Indonesia dengan dikawal beberapa perwira Jepang demi menjemput kemerdekaan yang dijanjikan Jepang.

Dalam pertemuan itu diberitahukan kepada mereka bahwa Pemerintah Jepang sudah memutuskan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.

Sejarawan Taufik Abdullah, dikutip dari tulisan Selamat Ginting bertajuk ‘Aroma Kemerdekaan dari Dalat’  yang dimuat Republika mencatat ada tiga alasan mengapa Jepang perlu mengajukan proposal terkait janji kemerdekaan.

Sumber: Koran Makassar

Alasan pertama, demi menarik simpati rakyat Indonesia. Apabila pasukan Dai Nippon benar-benar kalah dari sekutu, hingga kemudian bangsa Indonesia merdeka. Maka kemerdekaan itu dapat dianggap sebagai hadiah dari Jepang. 

Kedua, untuk memperkuat politik Asia Timur Raya. Dukungan dari Indonesia sebagai ‘Saudara Muda’ dari sisi politik sebagai sesama bangsa Asia tentunya sangat dibutuhkan oleh Jepang.

Baca Juga: Fakta di Balik Jatuhnya Bom Atom di Jepang

Ketiga, untuk mendapatkan keuntungan dalam percaturan perang.  Sebagaimana diketahui, Indonesia memiliki berbagai macam sumber daya yang dapat memaksimalkan keperluan Jepang. Baik Sumber daya alam, manusia, serta bahan-bahan baku yang lain.

Perjalanan Menegangkan 

Sebagai orang-orang yang dianggap penting dan memiliki pengaruh bagi rakyat Indonesia, ketiga tokoh tersebut sebelumnya sudah dipilih sebagai personel penting dari PPKI yang dibentuk pada 7 Agustus 1945.

Untuk melengkapi rencana tersebut, pemerintah Jepang pun akhirnya mengundang mereka bertiga satu hari sesudah panitia yang beranggotakan 12 itu dibentuk. Dengan rincian akan ditegaskan setelah bertemu Terauchi.

Misi menegangkan pun dimulai. Mereka bertiga meninggalkan Jakarta pukul lima pagi dengan diantar Kolonel Nomura dan Miyosi sebagai penerjemah beserta 20-an perwira Jepang yang lain.

Penerbangan itu harus dirahasiakan dari keluarga terdekat sekalipun, kikarenakan pesawat yang mereka tumpangi sewaktu-waktu bisa disergap atau ditembaki oleh pesawat-pesawat pemburu sekutu.

Pada 9 Agustus, rombongan sempat menginap semalam di Singapura untuk menghindari penerbangan malam di bawah bayang-bayang sergapan peswat musuh. Keputusan tersebut ternyata pilihan yang tepat. Karena di hari yang sama kota Hiroshima dijatuhi bom atom oleh sekutu.

Lain dari itu, sekutu juga beranggapan bahwa Soekarno adalah kolaborator Jepang dan dianggap berbahaya. Maka, keberadaan tiga tokoh tersebut dirahasiakan oleh tentara Jepang.

Pada 11 Agustus, setelah sehari sebelumnya mengalami penerbangan yang mengguncangkan hingga pesawat yang ditumpangi barang-barangnya berserakan, ketiga tokoh iyu diinapkan di Istana Saigon dengan penjagaaan yang ketat.

Keesokan harinya, tepat pada tanggal hari ini (12 Agustus), mereka bertemu dengan Marsekal Hisaichi Terauchi yang akhirnya membeberkan janji-janjinya untuk segera memberikan kemerdekaan pada Republik Indonesia.

Jenderal Terauchi. Sumber: history1978.wordpress.com

 "Kapan pun bangsa Indonesia siap, kemerdekaan boleh dinyatakan," itulah yang diucapkan Jenderal Terauchi pada pertemuan tersebut.

Di akhir acara, Jenderal Terauchi pun mengucapkan selamat kepada mereka bertiga. Pertemuan itu kemudian diakhiri oleh jamuan minum teh dan makan kue-kue.

Namun, janji tinggalah janji, sebagaimana sebelumnya janji tersebut pernah juga diberikan pada Burma dan Filipina karena semakin meredupnya pamor Jepang akibat kekalahan dalam perang Pasifik.

Bung Hatta yang sempat mengungkapkan perasaannya atas janji Terauchi, karena bertepatan dengan hari kelahirannya, tidak akan mengira bahwa sepulangnya mereka kembali ke Indonesia akan terjadi drama-drama lain yang akhirnya membuat Indonesia memerdekakan dirinya sendiri beberapa hari kemudian.

Baca Juga: Kisah-kisah Menarik Seputar Bung Hatta

Kemerdekaan yang bukanlah seperti janji Terauchi atau pemerintah Jepang. Melainkan lewat sikap sukcita rakyat Indonesia yang dilantangkan dengan pelantang suara dari jalan Pegangsaan Timur nomor 56.

BACA JUGA: Cek SENI & BUDAYA, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait