In Memoriam Didi Kempot | Cek&Ricek
Foto: Istimewa

In Memoriam Didi Kempot

Ceknricek.com -- Belum ada penyanyi berbahasa Jawa yang penggemarnya lintas etnis,seperti Didi Kempot. Memang, konsentrasi penggemar Didi Kempot mayoritas Suku Jawa. Hal ini lantaran lagu-lagunya, yang memakai Bahasa Jawa. Maka ketika lagu Stasiun Balapan jadi hits, nama Didi baru melekat di hati penggemarnya yang ngerti Bahasa Jawa.

Sekitar tiga tahun lalu, bahkan banyak TV yang menolak memberi panggung khusus. Apalagi promotor pertunjukan. Alasannya sederhana, penggemar Didi terlalu segmented. Belakangan stasiun TV dan promotor musik, berbondong-bondong mengantre tanda tangannya, untuk mementaskan Didi. Ia pun melejit sebagai penyanyi berbahasa Jawa papan atas, dengan penggemarnya yang merata, dan, seperti disebut di awal tulisan, lintas etnis dan daerah. 

Tentu saja Didi Kempot memperjuangkan kemasyhuran itu lewat jalan berdarah-darah. Meski kakaknya, Mamiek Prakoso, sudah lebih dulu eksis sebagai pelawak kondang, Didi rupanya tak mau ndompleng nama. Terbukti, ia sempat ngamen di jalanan kota Solo. Nama Kempot bahkan merujuk pada kependekan dari Kelompok Penyanyi Trotoar, yang membawanya ke Jakarta untuk mengadu untung. 

In Memorium Didi Kempot
Sumber: Istimewa

Selain ayahnya, almarhum Ranto Edi Gudel, semua saudara Didi Kempot juga mewarnai blantika seni di bidang masing-masing.Di antaranya (alm) Sentot Selino (penyanyi) dan Eko Gudel (penari). Didi sendiri nekad merantau ke Jakarta, karena di ibukotalah tantangan untuk mengembangkan karir dan sukses terbuka lebar, meski harus dilalui dengan tidak mudah. 

Garis tangan Didi Kempot memang menarik. Ia seperti Mbah Surip. Terkenal dan dielu-elukan, setelah sekian lama berkiprah tanpa ada yang melirik. Seperti Mbah Surip pula, Didi 'pergi' saat popularitas dan kekayaan sedang berada di genggaman tangan. Didi kena serangan jantung, yang diduga karena kelelahan dengan banyaknya agenda 

Baca juga: Lagu 'Ojo Mudik' Jadi Karya Terakhir Musisi Didi Kempot

Konser terakhir mungkin bisa jadi parameter, betapa magnet Didi Kempot memang begitu luar biasa. Pada Sabtu (11/4/2020), ia menggelar konser bertajuk "Konser Amal dari Rumah" disiarkan langsung oleh KompasTV. Dari konser itu pula, Didi Kempot berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 7,6 miliar. Sebuah hasil yang tidak memalukan. Uang dari donasi tersebut kemudian disumbangkan ke beberapa wilayah yang terdampak Covid-19.

In Memorium Didi Kempot
Sumber: Kompas

Ironisnya, akibat pandemi Covid-19 pula, keinginan terakhir Didi tidak terwujud. Pada guru ngajinya, Didi ingin menunaikan ibadah umrah ke tanah suci dan menciptakan lagu religi berbahasa Jawa. Namun cita-cita itu tertunda, karena Pemerintah Arab Saudi menutup kedatangan jamaah umroh. Tak disangka, niat baik itu akhirnya hanya sekedar niat, lantaran Didi Kempot akhirnya dipanggil ke haribaan Tuhan Yang Maha Kuasa. 

Baca juga: Daftar Lima lagu Didi Kempot yang Tersohor di Suriname dan Belanda

Didi meninggal Selasa (5/5/2020) pagi di RS Kasih Ibu Solo, di usia 53 tahun. Menurut pihak rumah sakit, saat datang Didi sudah dalam keadaan koma. Prosedur pertolongan hanya sekitar 20 menit. Di duga, Didi sudah meninggal saat tiba di rumah sakit, karena henti jantung mendadak. Padahal selama ini, menurut penuturan keluarganya, Didi tidak memiliki riwayat penyakit berat apapun.

Rencananya, jenasah Didi akan di makamkan di Ngawi, Jawa Timur. Penyanyi berjuluk The Godfather of Broken Heart, Bapak Loro Ati Nasional, dan Bapak Patah Hati Indonesia ini meninggalkan karya-karya yang banyak dinikmati oleh kalangan muda dari berbagai daerah yang menyebut diri mereka sebagai Sadboys dan Sadgirls yang tergabung dalam "Sobat Ambyar". Berkat karya-karyanya, Didi Kempot berhasil mendapatkan banyak penghargaan. Selamat jalan Didi Kempot... 

BACA JUGA: Cek SOSOK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait