Foto: Instagram @leonardodicaprio

Leonardo DiCaprio Kecewa Sudah 16 Hari Hutan Amazon Terbakar

Ceknricek.com -- Aktor Hollywood dan juga Duta Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Leonardo DiCaprio, sangat kecewa dan menyayangkan kebakaran hutan Amazon, di Brasil yang sudah berjalan 16 hari.

Dilansir laman Instagramnya @leonardodicaprio, Kamis (22/8), Leonardo mempertanyakan mengapa sudah 16 hari namun tidak ada perhatian dunia, termasuk media.

"Mengerikan berpikir bahwa Amazon adalah hutan hujan terbesar di planet ini, menciptakan 20% oksigen bumi, pada dasarnya paru-paru dunia, telah terbakar dan terbakar selama 16 hari terakhir, tanpa ada liputan media apa pun! Mengapa?," tulis DiCaprio.

Kebakaran lahan yang melanda hutan hujan Amazon di Brasil disebut telah mencapai rekor terparah tahun ini. Pusat penelitian luar angkasa Brasil, INPE, mendeteksi sedikitnya 72.843 titik api di Amazon hingga asap kebakaran bisa terlihat dari luar angkasa.

Sejak pekan lalu, INPE menuturkan citra satelitnya menemukan 9.507 titik kebakaran baru di Brasil. Sebagian besar berada di lembah Amazon, hutan tropis terbesar di dunia.

Gambar satelit menunjukkan negara bagian paling utara Brasil, Roraima, tertutup asap gelap. Otoritas Amazon menetapkan status darurat di selatan Roraima dan Manaus sejak 9 Agustus lalu.

Sumber: Istimewa

Baca Juga: Kebakaran Hutan di Jalan Tol Kwinana Australia

Dilansir Reuters, otoritas berwenang menuturkan kebakaran hutan meningkat di Mato Grosso dan Para, dua negara bagian Brasil. Meski kebakaran hutan dan lahan adalah hal yang lumrah selama musim kemarau, tapi tak jarang para petani lokal pun nakal membakar hutan demi membuka lahan.

Kebakaran hutan yang mencapai rekor terparah ini terjadi sejak Presiden Jair Bolsonaro berniat untuk mengembangkan wilayah Amazon untuk pertanian dan pertambangan. Langkah itu menuai kekhawatiran internasional akan potensi meningkatnya deforestasi.

Ketika ditanya terkait penyebaran karhutla yang tak terkendali, Bolsonaro hanya menganggap tahun ini merupakan "queimada" atau pembakaran, ketika petani menggunakan api untuk membersihkan lahan.

"Saya dulu disebut Kapten Chainsaw. Sekarang saya nero, membakar Amazon. Tetapi ini adalah musim queimada," katanya kepada wartawan.

Meskipun begitu, INPE menuturkan kebakaran hutan tidak dapat dikaitkan begitu saja dengan musim kemarau atau fenomena alam. "Tidak ada yang abnormal tentang iklim tahun ini atau curah hujan di wilayah Amazon yang hanya sedikit di bawah rata-rata," kata peneliti INPE Alberto Setzer.

Setzer menuturkan orang kerap menyalahkan musim kemarau terkait kebakaran hutan di Amazon. Tapi menurut dia, itu tidak cukup akurat.

"Musim kemarau menciptakan kondisi yang mempermudah titik api muncul dan menyebar, tapi memantik api adalah pekerjaan manusia baik disengaja maupun tidak disengaja," katanya.

BACA JUGA: Cek POLITIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini. 



Berita Terkait