Foto: Antaranews.com

Lima Tahun ke Depan, Pariwisata Siap Jadi Penyumbang Devisa Terbesar

Ceknricek.com -- Sektor pariwisata masih diproyeksikan menjadi salah satu penyumbang devisi terbesar di Indonesia untuk lima tahun ke depan. Sebagai negara yang kaya akan beragam destinasi wisata, sektor ini memiliki modal besar sebagai tumpuan utama Indonesia dalam meraup devisa.

“Saya optimistis tahun ini dan lima tahun ke depan, industri pariwisata menjadi salah satu yang menyumbangkan devisa terbesar, mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar US$20 miliar,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya saat membuka Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia (Masata) di Aruba Room The Kasablanka, Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (15/10), seperti dikutip Antara.

Sumbangan devisa dari sektor pariwisata sendiri terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Angka ini meningkat dari US$12,2 miliar pada 2015, menjadi US$13,6 miliar di 2016. Lalu, naik lagi menjadi US$15 miliar pada 2017.

Angka ini kembali meningkat menjadi US$17 miliar atau sekitar Rp2,3 triliun pada 2018. Di tahun tersebut, Indonesia sendiri menyelenggarakan dua ajang internasional besar, yakni Asian Games dan Asian Para Games 2018, serta Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali.

Untuk tahun 2019 ini, pemerintah menargetkan devisa pariwisata kembali meningkat menjadi US$20 miliar atau sekitar Rp2,8 triliun. Kedepannya, Arief meyakini pariwisata Indonesia dapat menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar.

Apalagi dengan ribuan destinasi yang tersebar di seluruh tanah air, baik yang sudah populer maupun yang masih belum digarap optimal. Untuk itu pembangunan infrastruktur perlu terus digalakkan, maka menurutnya bukan tidak mungkin dunia pariwisata akan menjadi andalan baru bagi pemasukan negara.

Sumber: Antara

“Persaingan sekarang ini bukan soal yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi siapa yang tercepat. Kita bisa melampaui negara-negara pesaing kita di Asia Tenggara,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menjelaskan infrastruktur pariwisata daerah memegang peran penting agar wisatawan yang datang merasa nyaman dan tidak kecewa saat berkunjung.

Baca Juga: Sebulan Terakhir, Cadangan Devisa Indonesia Tergerus US$2,1 Miliar

“Jateng sendiri tengah mempersiapkan jalan tol Solo-Jogja, sehingga tidak macet lagi. Kita sedang siapkan dan tahun ini sudah berjalan,” katanya.

Kuliner menurutnya menjadi bagian dari pariwisata merupakan daya tarik setiap daerah. Kata dia, dirinya tak jarang setiap kali berkunjung ke daerah yang ada di Indonesia kerap mengabadikan kunjungannya melalui video blog miliknya.

“Makanya ayo piknik. Bikinlah keluargamu, temanmu, bahagia. Dan sambil kulineran juga, bagikan kesenanganmu lewat sosial media. Statement Pak Menteri Pariwisata Arief Yahya itu benar 100 persen, kalau kekuatan untuk menjual Indonesia keluar secara powerful itu pariwisata” katanya.

Jumlah Wisman

Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Oktober lalu menyampaikan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara atau wisman ke Indonesia Agustus 2019 mengalami kenaikan 2,94 persen dibanding jumlah kunjungan pada Agustus 2018. Begitu pula, jika dibandingkan dengan Juli 2019, jumlah kunjungan wisman pada Agustus 2019 mengalami kenaikan sebesar 4,83 persen.

Secara kumulatif (Januari–Agustus 2019), jumlah kunjungan wisman ke Indonesia mencapai 10,87 juta kunjungan atau naik 2,67 persen dibandingkan dengan jumlah kunjungan wisman pada periode yang sama tahun 2018 yang berjumlah 10,58 juta kunjungan.

Sumber: Bps.go.id

Arief mengatakan, berdasarkan data World Travel & Tourism Council, pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat tumbuh dengan menempati peringkat ke-9 di dunia, nomor tiga di Asia, dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara. Capaian di sektor pariwisata itu juga diakui perusahaan media di Inggris, The Telegraph yang mencatat Indonesia sebagai “The Top 20 Fastest Growing Travel Destinations”.

Indeks daya saing pariwisata Indonesia menurut World Economy Forum (WEF) juga menunjukkan perkembangan membanggakan, di mana peringkat Indonesia naik 8 poin dari 50 pada 2015, ke peringkat 42 pada 2017.

“Persaingan sekarang ini bukan soal yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi siapa yang tercepat. Kita bisa melampaui negara-negara pesaing kita di Asia Tenggara,” ujarnya.

Pada 2017, kata Menpar, pertumbuhan sektor pariwisata melaju pesat sebesar 22 persen, menempati peringkat kedua setelah Vietnam (29 persen). Sementara Malaysia tumbuh 4 persen, Singapura 5,7 persen, dan Thailand 8,7 persen. Pada tahun yang sama, rata-rata pertumbuhan sektor pariwisata di dunia 6,4 persen dan 7 persen di ASEAN.

“Vietnam lebih tinggi karena mereka melakukan deregulasi besar-besaran. Jadi, Vietnam saat ini adalah tourist and investor darling,” katanya.

BACA JUGA: Cek INTERNASIONAL, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait