Livi Zheng, Bikin Proyek Film di Indonesia Lebih Banyak Sukarela | Cek&Ricek
Fotografer : Ashar/Ceknricek.com

Livi Zheng, Bikin Proyek Film di Indonesia Lebih Banyak Sukarela

Ceknricek.com -- Tak ada yang berubah pada Livi Zheng. Ia tetap tampak enerjik, gesit dan penuh semangat. Seperti itulah dia saat berkunjung ke kantor ceknricek.com, di kawasan Meruya Selatan, Jakarta Barat, Sabtu (24/8) petang.

Livi Zheng Bikin Proyek Film di Indonesia
Fotografer: Ashar/Ceknricek.com

Kedatangannya disambut Ilham Bintang, CEO ceknricek.com Fikar Rizky Muhammad, Pemimpin Redaksi ceknricek.com Farid R Iskandar dan wartawan ceknricek.com, Ronald Ricardo.

Livi tak sendirian. Ia ditemani Sinta dari Negara Agung Film, mitra kerjanya di Jakarta.

Penghargaan Pancasila

Livi tiba di Jakarta, Jumat (23/8), setelah hampir sepekan berada di Jawa Tengah dan Bali. Banyak agenda kerja yang mesti ia selesaikan di dua provinsi itu. Senin (19/8), misalnya, Livi hadir di Auditorium De Tjolomadoe, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, untuk menerima penghargaan 74 Ikon Apresiasi Prestasi Pancasila 2019. Ia terpilih menjadi ikon untuk Katagori Seni Budaya dan Bidang Kreatif karena dinilai konsisten memperkenalkan budaya Indonesia ke tingkat dunia.

Sineas muda asal Jawa Timur yang menyelesaikan S2 jurusan produksi  film di University of Southern California itu mengaku sangat mencintai Indonesia. Meski tinggal di Amerika Serikat, mayoritas furniture studionya dibawa dari Indonesia. Bahkan properti untuk pembuatan filmnya sebagian juga dibawa dari tanah air. “Sesibuk apapun pekerjaan saya di luar negeri, saya tetap cinta Indonesia. Karya-karya saya selalu menampilkan sisi ke-Indonesia-an," papar Livi.

Selain menerima penghargaan, Livi juga menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Pancasila di Universitas Sebelas Maret UNS Surakarta. Sosialisasi Pancasila di kampus itu dibutuhkan karena ada kesan di ruang publik bangsa Indonesia kurang menampilkan teladan. Padahal secara de facto, banyak perguruan tinggi sampai di masyarakat biasa yang telah menjalankan laku Pancasila dengan inovasi dan berbagai terobosan. Ke-74 Ikon Pancasila itu, termasuk Livi Zheng, diharapkan menjadi contoh positif bagi masyarakat luas. "Tentu bangga dan senang menjadi 1 dari 74 Ikon Pancasila dan bisa berbagi pengalaman penerapan Pancasila dalam kehidupan bersama adik-adik mahasiswa", kata Livi.

Livi Zheng Bikin Proyek Film di Indonesia
Foto: Istimewa

Baca Juga: Livi Zheng, Dari Blitar Tembus Hollywood

Dari Karanganyar, Livi berangkat ke Bali untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan sebelum kemudian terbang ke Jakarta, Jumat (23/8). Kedatangannya di ibu kota, sehari setelah  film terbarunya "Bali: Beats of Paradise" diputar serentak di bioskop-bioskop Indonesia mulai Kamis (22/8).

Menurut laporan wartawan ceknricek.com, sampai Minggu sore — tiga hari setelah pemutaran film itu — perolehan jumlah penontonnya tidak begitu menggembirakan. Livi yang ditanya, tidak tahu persis soal jumlah penonton filmnya. Belum terima laporan, katanya.  Demikian juga Sinta, mitra kerja Livi di Indonesia.

Memang ada banyak faktor yang harus mendukung sukses pertunjukan sebuah film di bioskop. Tidak cukup cuma promosi, tetapi juga terutama cerita yang bagus, pemain, dan penyutradaraannya. Hal yang tidak bisa disepelekan juga, jumlah layar yang menayangkan. Menurut laporan wartawan, jumlah layar yang menayangkan film Livi, memang kurang banyak. Tidak cukup memadai untuk mengcover penonton di banyak wilayah.

Ketika ditanya, Livi dan Sinta pun tak tahu berapa layar yang disediakan oleh pihak bioskop 21. Aneh! Tapi mungkin bagi Livi yang biasa bergulat dengan gagasan, itu bukanlah urusan penting baginya.

Livi Zheng Bikin Proyek Film di Indonesia
Foto: Istimewa

Yang penting, film yang memuat gagasannya untuk mempromosikan Indonesia sudah berhasil diwujudkan. Sudah dipertunjukkan untuk publik di Indonesia. Sebelum di sini sudah pernah juga diputar di bioskop di Amerika selama dua bulan, juga di Korea, Thailand, dan beberapa tempat lagi di luar negeri, yang menjadi sasaran utama promosi Indonesia.

Soal jumlah penonton yang diharapkan menutupi cost produksi tampak tidak begitu dirisaukan Livi, sebagaimana kebanyakan pembuat film.

“Saya bersyukur semua biaya untuk produksi film itu dibiayai oleh seorang bankir di Amerika. Tidak ada uang dari Tanah Air yang dipakai. Sudah begitu, film juga sudah dibeli banyak pihak,” ungkap Livi.

Wow! Baik sekali orang itu. Pacar Livi, kah?

Livi seketika terbahak-bahak. “Lha, bankir itu perempuan kok, hahaha,” ungkap Livi dalam derai tawa yang belum selesai.

“Dari film itu juga saya dapat job dari Disney sebagai konsultan untuk kawasan Asia Tenggara,” tambahnya.

Lebih Banyak Sukarela

Jauh sebelum diputar, film “Bali: Beats of Paradise“ mendapat publikasi yang cukup luas. Hampir semua media massa di Indonesia memberitakan film itu. Apalagi ditambahkan informasi  film itu pernah disaksikan 500 penonton ketika premier di Amerika, dan diputar di bioskop terbesar di dunia saat premier di Korea, dibeli oleh Baidu, unicorn China yang memiliki platform online dengan 90 juta pelanggan, dan Singapore Airlines.

Livi Zheng Bikin Proyek Film di Indonesia
Foto: Istimewa

Baca Juga: Layar Terbesar di Dunia untuk “Bali: Beats of Paradise"

Keberhasilannya di luar negeri tampaknya yang membuat Livi dipercaya beberapa kementerian dan pemerintah provinisi di Tanah Air untuk membuat film-film promosi. Tetapi juga direspons sebaliknya dari sebagian kalangan. Portofolionya di bidang perfilman internasional dinilai lebih banyak bumbu kecapnya. Membuat silau sebagian orang di Tanah Air, termasuk pejabat pemerintah sehingga dia mudah mendapat order pembuatan film promosi. 

Bayarannya besar, ya?

"Oo jangan salah. Saya bikin proyek film di Indonesia lebih banyak bayaran sukarela," jawab Livi sambil tergelak. Seolah tahu, ia belakangan ini disorot sedikit banyak lantaran urusan proyek-proyek film itu. Kesannya, dengan portofolio sukses di Amerika itu Livi mudah meraup order di Indonesia.

Makanya, dalam perbincangan ringan sore itu, Livi  meluruskan juga berbagai cerita sumbang tentang dirinya yang merebak dalam sepekan terakhir ini. Dia sendiri pun heran dengan pelbagai tuduhan terhadap dirinya.

Menurut Livi, ada penulis menuduh portofolionya banyak bumbu kecap alias banyak bohong. Misalnya, soal umur dia waktu pertama kali main dalam film “Laksamana Cheng Ho” tahun 2008.  Padahal, di media itu ditulis begini: Livi lahir 1989. Tahun 2004 adalah ketika dia berusia 15 tahun. Livi menjadi pemeran film Laksanana Cheng Ho tahun 2008.

“Coba baca, time line penulislah tidak akurat yang menyimpulkan saya berusia  15 tahun waktu terjun main film,“ tanggapnya  ringan.

Livi juga menjelaskan soal film Santri produksi NU. “Saya bilang saya sudah selesai membuat trailer film itu dan siap tayang 22 Oktober. Tapi ditulis di media saya sudah selesai membuat film Santri. Saya tidak pernah mengatakan itu film seperti anggapan wartawan. Itu trailer. Lalu, si penulis sendiri meragukan itu bisa kelar (film). Ya, memang, siapa yang bilang itu film? Siapa yang sanggup bikin film dalam waktu cuma tiga bulan? Itu trailer kok. Saya omong begitu,“ tegasnya.

Mengenai  beberapa media yang menjadikannya sebagai media darling,  apa saja tentang Livi diberitakan, itu juga ditanggapi ringan. 

“Itu kan bukan urusan saya. Urusan media itu sendiri. Mereka pasti punya kriteria redaksional dan SOPnya. Tapi, saya mau bersyukur bahwa berita itu sangat mendukung semangat saya. Mendukung kecintaan  saya pada Indonesia. Mendukung mimpi saya lebih mengenalkan Indonesia di luar negeri. Terima kasih,” sambutnya.

“Goal saya memang mau mengenalkan Indonesia. Ketika saya pertama pindah ke Amerika, ternyata banyak yang belum tahu Indonesia. Hal ini membuat saya sedih. Maka dari itu saya selalu ingin mengangkat Indonesia di karya-karya saya. Sudah sering  saya membantu instansi pemerintahan dengan sukarela. Demo mempromosikan Indonesia,” cerita Livi.

“Saya juga  kecewa banyak informasi bertumpang tindih satu dengan yang lain tentang saya. Padahal, penulisnya sendiri kurang periksa. Ada yang menulis tidak masuk akal Livi memberi kuliah di 300-an perguruan tinggi. Siapa yang pernah mengatakan itu? Please cek deh. Yang ada,  saya sudah menjadi pembicara di lebih dari 30 kampus. Tidak penah menyebut 300,“ bantahnya.

Baca Juga: Film Karya Livi Zheng Berlatar Bali yang Sukses di AS Segera Tayang di Indonesia

Livi Zheng Bikin Proyek Film di Indonesia
Foto: Istimewa

30 kampus itu di antaranya di Yale University, UCLA, Communication University of China, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Telkom dan Universitas Islam Indonesia.

Livi lulus sarjana Ekonomi dari University of Washington-Seattle, almamater Bruce Lee.

“Ketika lulus saya diundang menjadi anggota International Economics Honors Society karena prestasi di bidang akademik. Lalu melanjutkan S2, di universitas jurusan produksi film terbaik di Amerika, University of Southern California, yang alumninya George Lucas sutradara Star Wars, Brian Grazer produser A Beautiful Mind, dan Robert Zameckis Forest Gump. Untuk produksi film di Amerika S2 adalah pendidikan terakhir/ terminal degree. Yale University alumninya diantaranya 3 Presiden Amerika, George H. W. Bush (Presiden AS periode 1993-2001), Bill Clinton (President AS periode 1993-2001), dan George W. Bush (President AS period 2001-2009). UCLA alumninya diantaranya Ben Stiller dan Jack Black,” cerita Livi.

Soal koleksi pialanya juga disoal. Livi bilang itu fakta adanya.

“Saya telah menjuarai 26 medali dan piala di bidang bela diri diantaranya US Open dan Washington State Karate Federation Invitational Tournament and USA National Karate Federation Qualifier,” jelasnya.

Livi Zheng Bikin Proyek Film di Indonesia
Foto: Istimewa

Keterlibatannya pertama kali di film Laksamana Cheng Ho juga jadi sorotan.

“Faktanya saya menjadi stunt woman dan aktris di serial Laksamana Cheng Ho, garapan sutradara Thailand, Nirattisai Kaljareuk, yang pernah bekerja sama dengan Nicolas Cage. Laksamana Cheng Ho ini mengangkat kerajaan Jawa. Maka  itu saya ingin menyebarkannya lebih luas. Dari berbasiskan serial TV ini, lahirlah 2 film The Empire’s Throne dan Legend of the East. Ide ini dilahirkan hasil diskusi sutradara Thailand, Nirattisai Kaljareuk, dan saya ketika mulai kuliah S2 produksi film di Los Angeles." 

Mengenai keikutsertaannya di berbagai festival film, cerita Livi begini.

“Semua festival film internasional itu terbuka dan harus bayar kalau mau ikut. Hampir semua festival film internasional menarik biaya untuk mendaftar, termasuk festival film seperti The Cannes Film Festival, Toronto International Film Festival dan Sundance Film Festival.

Laksamana Cheng Ho ini mengangkat kerajaan Jawa. Maka dari itu saya  ingin menyebarkannya lebih luas. Laksamana Cheng Ho bukan disutradarai Livi. Livi membuat 2 buat film karena ingin menyebarkan kerajaan Jawa. Karena lebih mudah untuk mempromosikan sebuah film dengan menyertakan di festival supaya makin banyak orang yang menonton. Dan, tidak sekalipun Livi  pernah menyebut masuk nominasi Oscar. Saya selalu menyebut masuk seleksi nominasi Oscar. Apa yang salah jika faktanya demikian," katanya.