Mengenal Pemilik Rumah Tempat Lahirnya Proklamasi Kemerdekaan  | Cek&Ricek
Sumber: Bombastis x

Mengenal Pemilik Rumah Tempat Lahirnya Proklamasi Kemerdekaan 

Ceknricek.com -- Proklamasi kemerdekaan RI, seperti diketahui, diucapkan Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Selebihnya nyaris tak diketahui siapa gerangan pemilik rumah yang sangat bersejarah itu. 

Rumah yang kini sudah tidak ada--digantikan oleh Tugu Proklamasi atau Tugu Petir itu--adalah hibah dari seorang warga sipil bernama Faradj bin Said bin Awad Martak. Ia seorang pedagang keturunan Arab yang memiliki kepedulian besar pada perjuangan bangsa Indonesia.

Sekilas Tentang Faradj

Faradj bin Said Awad Martak adalah pria kelahiran Hadramaut, Yaman Selatan. Putranya bernama Ali bin Fardj Martak dikenal sangat dekat dengan Bung Karno. Ali lalu jadi penerus usaha ayahnya.

Sebagai pedagang, Faradj adalah seorang yang sukses pada masa itu. Ia juga dikenal sebagai dermawan yang seringkali menghibahkan kekayaannya untuk kepentingan perjuangan Indonesia.

Narasi tentang Faradj juga didukung oleh surat yang mengatasnamakan Menteri Pekerjaan Umum serta Perhubungan Republik Indonesia Ir. H.M. Sitompul tertanggal 14 Agustus 1950. 

Baca Juga: Sejarah Hari Ini: Peristiwa Penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok

Dalam surat itu Pemerintah Indonesia menyampaikan terima kasih serta penghargaan pada Faradj bin Said Awad Martak. 

Sumber: antiliberalnews.net

Penghargaan diberikan karena ia sudah menolong Indonesia, menyerahkan rumah di Jalan Pegangsaan Timur 56, Cikini Jakarta, menjadi tempat tinggal sekaligus lokasi tempat diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia setelah peristiwa Rengasdengklok.

Rumah Faradj dipilih karena saat itu menjadi tempat yang lolos dari pengamatan pemerintah pendudukan Jepang, sehingga para tokoh pejuang Indonesia bisa merencanakan proklamasi kemerdekaan tanpa hambatan. 

Sumber: Situs Budaya

Di kemudian hari, rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Bung Karno itu, sejak 1962 telah diratakan untuk dibuat Gedung Alur. Sejak itulah Jalan Pegangsaan Timur beralih jadi Jalan Proklamasi.

Sempat Mengobati Bung Besar

Pagi hari sebelum pembacaan teks proklamasi, demam Bung Karno tiba-tiba kambuh. Suhu badannya naik. Dalam perkiraan, semula sakitnya akibat terlalu lelah dan tegang setelah begadang bersama teman-temannya untuk mempersiapkan kemerdekaan.

Baca Juga: Napak Tilas Tempat Pembuangan Sang Proklamator

Namun, ketika Dokter Soeharto, datang dan memeriksa, Bung Karno ternyata menderita malaria--lebih tepat malarianya kambuh karena penyakit itu sudah dideritanya sejak di pengasingan.  

Melihat kondisi Bung Karno yang cukup mengkhawatirkan, Faradj kemudian memberikannya sebuah madu yang sangat berkhasiat bernama sidr bahiyah.

Dengan madu itu, kesehatan dari Bung Karno lambat laun membaik. Ia mampu bertahan meski harus banyak tidur untuk memulihkan stamina. Bung Karno bahkan dengan lantang mengumandangkan Proklamasi Republik Indonesia. 

BACA JUGA: Cek OPINI Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini



Berita Terkait