Mengenang Sutradara Teguh Karya (3) | Cek&Ricek astra-satu-untuk-indonesia
Sumber: Istimewa

Mengenang Sutradara Teguh Karya (3)

Ceknricek.com--Sutradara kondang ini lahir 22 September 1937 di Padeglang, Banten. Ia meninggal 11 Desember 2001, karena gangguan pernafasan. Untuk memperingati kelahirannya, berikut tulisan berseri tentang Teguh Karya, termasuk pandangan-padangannya terhadap seni film yang intens digelutinya sampai akhir hidupnya.

Film Kita, Media yang Rapuh

Ini adalah percakapan wartawan Variasi dengan Teguh Karya di rumahnya:

Menurut Anda apa yang paling penting untuk menjadi sineas yang baik?

Saya kira yang paling penting ia harus mencintai negerinya. Sehingga kebudayaan bangsanya bukan saja diketahui, tapi juga dimilikinya. Itulah, saya kira, modal terbesar yang harus dimiliki seorang sineas sebelum ia menguasai peralatan serta tehnis sinematografi, sebelum itu dijadikan media.

Apa kritik operasional yang bisa Anda berikan kepada para sineas kita?

Media film yang saya kenal adalah media yang rapuh. Sebuah media yang kalau mau kita gunakan bisa memuliakan sesuatu, tetapi juga menghinakan sesuatu. Sebab menurut saya, tema apa pun baik untuk kita garap ke dalam film. Persoalannya tinggal lagi dengan kebudayaan apa itu mau kita dekati. Kita mau jadikan dia mulia atau mau kita jadikan barang yang hina.

Dari dunia film, karya-karya siapa yang Anda kagumi?

Tidak ada. termasuk karya saya, tidak saya kagumi. Tapi saya hormati. Saya tidak bisa mengukur diri saya pada orang lain, demikian juga sebaliknya. Saya pikir jalan keluarnya adalah menghormati dengan berbagai harapan. (Ibnu Zain/Variasi,No01/Th XII/ 1984).

Teguh Karya

Ibunda Enam Film Bercitra

Wawancara dengan majalah Matra berlangsung setelah selesai pengambilan gambar film “Pacar Ketinggalan kereta”.

“Saya ingin orang mengenang Usmar Ismail,” katanya ketika ditanya mengapa dia membuat film yang disebut komedi musical itu. “Mungkin tak banyak yang tahu, bahwa film musikal “Tiga Dara” yang pernah sukses pada tahun 1950-an sebagai box office dibintangi Indriati Iskak, Mieke Wijaya dan Chitra Dewi itu, dibuat Usmar Ismail untuk memenuhi ‘selera penonton’, yang saat itu tergila-gila pada film India”. 

Dalam banyak film Anda, seperti Di Balik Kelambu, Doea Tanda Mata, dan Ibunda, tokoh-tokoh wanita muncul dengan amat kuatnya. Bagaimana pandangan Anda sebetulnya tentang wanita?

Saya merasa dalam banyak hal perempuan lebih kuat dari laki-laki. Bukan soal fisiknya. Saya setuju sekali dengan nama perempuan. Dia memang seorang empu. Kadang-kadang dia nampak lemah lembut, tapi di balik itu dia memiliki kekuatan…

Perempuan seperti apa yang ideal bagi Anda?

Yang bisa saya respek, yang menimbulkan rasa hormat pada diri saya, sesuai dengan namanya: “Per-empu-an”. Menurut saya, perempuan saat ini belum seluruhnya mengembangkan kemampuannya. Mungkin karena banyak pantangan-pantangan, norma-norma, yang masih mengikat mereka. Menurut pandangan saya, di Indonesia gerakan emansipasi wanita itu tidak perlu. Secara berkelakar saja ya, ‘kan kita nggak pernah menyebut ‘bapak pertiwi’ tapi ‘ibu pertiwi’, ‘ibu kota’, ‘ibu jari’, ‘induk semang’… kok masih sangsi terhadap perempuannya. Cuma ke-empu-an itu belum maksimal diekspos, dan itulah tantangan bagi perempuan saat ini.

Anda ‘kan belum beristri, bagaimana cara Anda menghayati hubungan laki-laki/ perempuan, suami/ istri ke dalam film Anda?

Di samping pengalaman fisik, saya banyak sekali mengalami pengalaman batin. Saya saat ini bisa menjadi Tuti Indra Malaon, saya bisa menjadi Niniek L. Karim … barangkali itulah perlunya roman-roman besar … pengalaman orang lain…

Apa arti piala Citra buat Anda?

Saya mau memberi arti bagi Festival Film Indonesia (FFI) dulu. Buat saya perbedaan festival film di negeri ini, dan festival yang diadakan dalam berbagai forum adalah, bahwa semua film yang dibuat selama setahun itu harus ditayangkan di depan juri. Dengan begitu festival bisa menjadi barometer perkembangan film kita setiap tahun. Perkembangan dunia film bisa dicatat. Tidak penting siapa yang menang. Dengan notasi susunan dewan jurinya. Sebab nilai sebuah film festival rasanya tidak bisa dilepaskan dari komposisi dewan juri.

Tema-tema dalam film kita, kok rasanya miskin sekali. Bagaimana penjelasan Anda?

Film bukan lagi semata-mata tontonan, tetapi merupakan upacara tentang kehidupan yang kita miliki bersama. Tapi sekarang ini banyak film kita di dasarkan pada kasus, yang bukan merupakan pengalaman bersama.

Misalnya, peristiwa Arie Hanggara adalah sebuah kasus dari banyak problema kehidupan berkeluarga. Tapi, mimpi orang kecil untuk bisa mencapai kehidupan yang layak dan bisa menikmati makanan bergizi seperti yang ditayangkan televisi, perjuangan seorang ibu yang harus menyekolahkan anak-anaknya … masalah seperti itu buat saya bukan kasus, tapi merupakan pergumulan hidup kita sehari-hari.

Namun, masalah bayi tabung, buat saya adalah kasus. Tapi, bukankah untuk mengemukakan suatu masalah kita memerlukan sebuah peristiwa atau tokoh – sebuah kasus – kemudian mengangkatnya menjadi sesuatu yang lebih universal, yang lebih mempunyai makna bagi orang lain?

Saya setuju itu. Bisa saja kita menggarap Arie Hanggara, bisa menjadi peringatan buat orang tua yang lain. Saya setuju, bahwa kanker payudara sebaiknya sedini mungkin ditanggulangi. Tapi, digarap dengan selera yang bagaimana? Ada dua kemungkinan dari dunia film ini, dia bisa menjadi suatu yang mulia, dia juga bisa menjadi suatu yang vulgar. Kamasutra bisa bicara tentang seni bersenggama, kok nggak cabul?

Lho kok dulu Anda pernah sekolah teologi?

Untuk menyenangkan orang tua … he he he. Andaikata saya di teologi, saya akan menjadi pendeta yang jago. Tapi, kalau ada syarat saya mesti menjadi suri teladan, wah … nggak bisa … saya nol. Saya nggak mau orang lain hidup seperti kehidupan saya yang kurang teratur ini. Saya nggak perlu diteladani.

Ah, masak nggak ada dalam diri Anda yang bisa diteladani?

Mungkin keuletan saya, semangat saya untuk belajar terus … saya pengen banyak orang memilikinya. Juga kecintaan saya pada negeri ini, yang kadang-kadang dinilai berlebihan.

Anda sepertinya memisahkan diri dari keluarga?

Nggak, nggak, ada yang menarik dari keluarga saya. Pada ulang tahun perkawinan keluarga saya yang kelima puluh, ibu saya pidato. Dia bilang, bahwa jika Tuhan memanggil, tugasnya sudah kelar. Seringkali dia bilang begitu. Ia juga meminta maaf kepada anak-anak. Lucu. Waktu pulang kita semua berkumpul di rumah, saya tanya kenapa kalau saya nggak pulang dia nggak memidatoi saya? Ada jawabannya yang menarik. Waktu bayi, kamu milik kami. Waktu SD, kamu milik guru kamu, teman-teman kamu … waktu kamu masuk pramuka … milik teman-teman kamu di gereja, milik gereja.

Nah, pada saat kamu masuk di teater, tiba-tiba kamu milik panggung, milik teater itu sendiri, milik orang-orang yang menghargai teater. Di film lebih gila lagi. Jadi kamu ini hanya sebagian kecil saja dari hidupku. Dan saya gembira sekali, kok mereka bisa punya pikiran seperti itu. Artinya, mereka sampai pada gok, seperti kata orang Batak. Saya tumbuh dalam lingkungan yang seperti itu. Matra, Juni 1989.

Baca Juga :Mengenang Sutradara Teguh Karya (4)


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait