Mengenang Sutradara Teguh Karya (4) | Cek&Ricek astra-satu-untuk-indonesia
Sumber: Istimewa

Mengenang Sutradara Teguh Karya (4)

Ceknricek.com--Sutradara kondang ini lahir 22 September 1937 di Padeglang, Banten. Ia meninggal 11 Desember 2001, karena gangguan pernafasan. Untuk memperingati kelahirannya, berikut tulisan berseri tentang Teguh Karya, termasuk pandangan-padangannya terhadap seni film yang intens digelutinya sampai akhir hidupnya.

Kita Harus Maraton Mengejar Nilai Baru

Dunia film kita memang sedang babak belur. Tetapi, jika ditarik ke ‘garis personal’ Teguh Karya tentulah seorang ‘maestro’ film. Ia adalah salah seorang sutradara film terbaik yang dimiliki Indonesia. Sejak kiprahnya dalam dunia film, pada awal tahun 1970-an, ia telah mendapat 54 piala Citra dan 1 Best Award, Asia Pacific Film Festival (Melalui Doea Tanda Mata) dari 13 film yang dibuatnya. Rekor ini jelas tidak tertandingi oleh siapa pun.

Ia memang seniman film yang dikenal sangat teliti, ‘perfect’, dalam menggarap karya-karyanya. Maka, film-film Teguh pada umumnya menjadi monumental. Dan, setiap kali berbicara tentang dunia perfilman – yang babak belur – Teguh tak pernah mencari kambing hitam. Ia selalu berbicara bahwa orang film-lah yang harus membangunkannya kembali:

Masalah perfilman kita telah masuk GBHN, bagaimana pendapat Anda dan sikap apa yang diperlukan?

Yang jelas insan-insan film kita tidak bisa berdiri sendiri-sendiri, tetapi harus saling berkaitan. Sebab, ini akan menjadi pekerjaan raksasa, yang memerlukan sikap mental yang berbeda, atau sebut saja perubahan attitude. Dan sudah pasti film harus disesuaikan dengan berbagai kepentingan pembangunan dalam arti umum.

Teguh Karya

Tetapi, satu hal yang rasa-rasanya harus jelas, bahwa film adalah sebuah bahasa yang mempunyai kekuatan sendiri untuk merasakan berbagai fungsi. Kalau yang namanya fungsi pendidikan dalam film, tentu tidak sama dengan guru yang mengajar di muka kelas. Dia bisa menjadi penerangan, tetapi bukan juru penerang. Bahasanya sudah pasti berbeda.

Bagaimana dengan sebuah pendapat bahwa film kita sudah tercerabut dari akar budayanya?

Saya beri contoh, apakah menjemput pacar dengan menggunakan helikopter itu cara berfikir orang Indonesia? Jelas bukan. Jalan pikiran macam apa yang bisa sampai ke situ? Barangkali jalan pikiran membuat hiburan semata-mata di mana para pemain lebih merupakan alat dagang daripada dia seorang aktor-aktris.

Karena itu, rasanya kita nggak bisa terus begini. Tapi sebaliknya, kita kok nggak bisa hanya terus ngomong. Kita perlu bukti sebagai kenyataan bahwa ada perubahan yang terjadi. Dan ini memerlukan suatu perubahan nilai dan mental yang dikaitkan dengan UU dan GBHN. Nah, ini mengacu kepada kebebasan yang bertanggung-jawab.

Berkaitan dengan masuknya film dalam GBHN merupakan kerja raksasa, lalu menurut Anda awalnya harus dibangun dari mana atau action-nya bagaimana?

Memerlukan garda-garda terdepan. Sebab kalau cuma digerakkan satu orang saja, jelas tidak akan terangkat. Anda ketahui, bahwa meskipun bahasa film ini sama karena keterikatannya pada sinematografi, tapi coraknya ‘kan berbeda-beda. Bisa tragedi, melodrama, komedi, hiburan dan juga falsafah atau sesuatu yang serius.

Kalau kita bedah sedikit yang namanya film itu di dalamnya ada cerita, pasti sangat berkaitan dengan kesusastraan. Film itu ada gambar dan bentuknya, pasti ada kaitannya dengan seni rupa. Di samping itu film ada konfliknya, pasti ada kaitannya dengan seni drama. Geraknya berkaitan dengan tari, iramanya pasti berkaitan dengan seni musik. 

Nah, di samping keterkaitan dengan berbagai bidang itu, ada juga keterkaitan cultural, etnis dan antropologi, historis dan budaya setempat, sebagai ilmu pelengkap lainnya. Tetapi ada raksasa lain di sampingnya, yaitu tehnologi canggih. Namun demikian, kita tidak bisa hanya mengkaitkan film dengan tehnik canggih saja, kesenian saja.

Jadi, masing-masingnya harus bergabung sama besar. Masalahnya, seberapa jauh kita punya keinginan memiliki keseluruhan ini sebagai film. Ada gambar bagus, tetapi filmnya tidak menyentuh. Ini sebetulnya yang harus digarap. 

Lalu, siapa sebenarnya yang harus memulai menggarap menjadi garda-garda ini? Pasti adalah organisasi perfilman itu sendiri. Kita punya KFT, PPFI, Parfi dan sebagainya. ini yang harus mulai, sebab itu adalah garda terdepannya.

Melihat faktor sumber daya manusia yang memimpin organisasi-organisasi perfilman sekarang ini, apakah mereka punya potensi untuk menjadi garda terdepan itu?

Kenapa nggak. Sekarang ini persoalannya yang punya batu mulia tinggal mengasah, yang sudah punya sepatu pas disemir lagi, yang punya sepatu kekecilan atau kebesaran di paskan lagi. Kita isi bakat dengan ilmu dan wawasan … ya, wawasan nusantaralah muluknya.

Dalam membuat film, kita sudah tidak bisa lagi menggambarkan orang kaya dengan rumah bagus dan mobil bagus, atau pakaian putih dengan stateskop adalah dokter. Kita sudah tidak bisa seperti itu lagi dalam memandang manusia secara keseluruhan. Sebab, manusia tidak semudah itu. Artinya, perlu wawasan dalam menata manusia dalam film Indonesia.

Ada yang menyatakan bahwa kondisi krisis sekarang ini bisa menjadi awal kebangkitan dunia film kita. Dan agaknya kebangkitan itu harus ditempuh dengan konsep pembinaan film yang menuju ke industrialisasi film…

Saya menganggapnya memang yang paling ‘haram jadah’ dari dunia film adalah bisa industri dan bisa juga karya seni. Yang mau ke arah industri, diperlukan berbagai ketrampilan.

Contoh, MacGyver, itu cuma ketrampilan, tetapi laku keras. Bisa saja ‘kan. Tetapi jangan dilupakan sisi lainnya. Saya juga tidak setuju kalau film yang kita tonton ‘nyureng’ terus. Saya juga tidak setuju kalau film-film yang lahir cuma bikin bodoh orang.

Jadi, sebenarnya apa yang paling diperlukan sekarang ini?

Pertama adalah kesadaran akan hal yang saya sebutkan tadi. Sebab dengan kesadaran kita untuk lebih banyak tahu. Kalau kita sudah tahu, kita akan menghargai, kita akan mencintai. Dan kalau kita sudah mencintai maka kita akan merasa memiliki. Sebab, film adalah bagian dari kerja tehnik dan kesenian sebagai daya ungkap budaya. Kalau budaya itu sudah kita kuasai, maka sebenarnya budaya itu sudah tidak ada lagi, sudah menjadi milik kita. Contoh, seni itu bagi orang Bali tidak ada lagi, karena hal itu sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Bagaimana meletakkan peran pemerintah sebagai Pembina perfilman Indonesia. Posisi yang bagaimana yang diharapkan?

Saya pernah bertanya pada orang-orang di bidang garmen dan kayu lapis, walau pun ini bidang lain, tetapi sangat berkaitan erat. Yang saya tanyakan, yang mereka garap mutu tekstilnya dulu atau proteksi dulu dari pemerintah.

Mereka katakan dari sisi mutu tekstilnya dulu. Demikian pula dengan kayu lapis. Menurut saya, karena tugas pemerintah terlalu banyak, tidak semua hal harus dikerjakan pemerintah, tetapi kesadaran dari masyarakatnya memegang peranan penting. Contoh paling sederhana, mau disubsidi kek, nggak kek, wayang orang toh jalan terus. Begitu juga sanggar saya.

Artinya dalam kondisi seperti ini pemerintah tidak bisa dipersalahkan?

Menurut saya, kalau ini kebudayaan Cina, maka Im dan Yang-nya tidak seimbang, atau plus-minusnya tidak ketemu, sehingga tidak bisa menghasilkan daya baru. Maka Im dan Yang-nya perlu diseimbangkan dulu. Pemerintah inginnya begini, respon orang film maunya lain. atau sebaliknya. Nah, ini mesti didudukkan dulu.

Banyak orang bilang film kita jadi begini lantaran banyak larangan bikin ini, bikin itu. Apa betul itu ada dalam UU? Nggak ada tuh. Itu cuma ketakutan sendiri saja. Persoalannya adalah mengapa kamu takut kalau menyampaikan di atas budaya bangsa ini? Kalau kaki kita terinjak, bangsa kita akan bilang, “Bagaimana, mas, kalau kakinya dipindahkan?”

Jadi, persoalannya tinggal bagaimana kita menguasai di atas budaya mana kita tinggal, kalau ada film yang menggambarkan di tengah jalan orang berpacaran lalu cium-ciuman terus mereka bilang, “Aku cinta padamu,” menurut saya sudah tidak Indonesia sama sekali. Sebab, di Indonesia tidak begitu. Film-film pertama saya dulu ada gitu-gituan, kalau sekarang saya lihat, saya malu sendiri, kenapa saya dulu ikut-ikutan. Ha … ha … ha ….

Kalau mendengar penjelasan Anda, bisa dibilang film kita sekarang kembali ke zaman sebelum Usmar Ismail, yang sarat dengan tiru-meniru?

Pada zaman Pak Usmar, jiplak-menjiplak pun masih ada, bahkan sampai sekarang. Itu sebabnya saya tidak mau bicara banyak soal ini, karena saya mengerti sejarah film. Saya tidak menanggapilah, sebab ada orang yang lebih maju dari jamannya, ada yang pas dengan jamannya, tetapi banyak pula yang ketinggalan zamannya.

Dari yang terakhir Anda sebutkan itukah kondisi film kita menjadi seperti ini?

Rasa-rasanya kita memang harus maraton untuk mengejar berbagai berbagai nilai baru dalam film, atau harus mencari jalan pintas yang rasional, dan bukan emosional. (Selesai).


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait