Foto: Istimewa

Modal Ikhlas Konglomerat Muhammadiyah

Ceknricek.com -- Pada 18 November kemarin adalah milad Muhammadiyah ke-107.  Ya, ormas Islam ini sudah berusia 107 tahun. Bahkan sudah 111 tahun menurut kalender Hijriyah, sejak 8 Dzulhijjah 1330 H. Muhammadiyah didirikan Kiai Haji Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta pada 18 November 1912. 

Saat didirikan, Muhammadiyah adalah ormas yang kere, miskin. Kadang untuk membayar guru yang mengajar di sekolah Muhammadiyah pun tak mampu. Hanya saja, karena keikhlasan dan daya juang yang gigih para anggotanya, Muhammadiyah sering melewati masa sulit.

Pada suatu hari di tahun 1921, Kiai Dahlan mengumpulkan warga Kauman. Sudah menjadi kebiasaan Kiai, ia memukul kentongan jika ingin mengumpulkan warga. Tong tong tong

Warga berduyun-duyun mendatangi rumah Kiai. Warga sudah paham, jika Kiai memukul kentongan berarti ada penggalangan dana. ”Kas Muhammadiyah kosong. Sementara guru-guru Muhammadiyah belum digaji. Muhammadiyah memerlukan uang kira-kira 500 gulden untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolah Muhammadiyah,” begitu isi pidato Kiai, begitu warga sudah kumpul. 

Kiai menyatakan melelang seluruh barang-barang yang ada di rumahnya. Pakaian, almari, meja kursi, tempat-tempat tidur, jam dinding, jam berdiri, lampu-lampu dan lain-lain. Ringkasnya, Kiai Dahlan melelang semua barang miliknya dan uang hasil lelang itu seluruhnya akan digunakan untuk membiayai sekolah Muhammadiyah, khususnya untuk menggaji guru dan karyawan.

Modal Ikhlas Konglomerat Muhammadiyah
Sumber: Kemendikbud

Hadirin terbengong-bengong, mendengar penjelasan Kiai Dahlan. Murid-murid Kiai yang ikut pada pengajian Thaharatul Qulub terharu menyaksikan semangat pengorbanan Kiai Dahlan. 

Singkat cerita, penduduk Kauman itu khususnya para juragan yang menjadi anggota kelompok pengajian, kemudian berebut membeli barang-barang Kiai Dahlan.

Ada yang membeli jasnya. Ada yang membeli sarungnya. Ada yang membeli jamnya. Almari, meja kursi dan lainnya. Dalam waktu singkat, semua barang milik Kiai itu habis terlelang dan terkumpul uang lebih dari 4.000 gulden. Anehnya setelah selesai lelangan itu tidak ada seorang pun yang membawa barang-barang Kiai. Mereka langsung pamit pulang.

Tentu saja KHA Dahlan heran, mengapa mereka tidak mau membawa barang-barang yang sudah dilelang. ”Saudara-saudara, silakan barang-barang yang sudah sampeyan lelang itu saudara bawa pulang. Atau nanti saya antar?,” serunya.

“Tidak usah Kiai. Barang-barang itu biar di sini saja, semua kami kembalikan pada Kiai,” jawab warga.

“Lalu uang yang terkumpul ini bagaimana?,“ tanya Kiai.

Kata salah seorang dari mereka, “ya untuk Muhammadiyah. Kan, Kiai tadi mengatakan Muhammadiyah perlu dana untuk menggaji guru, karyawan dan membiayai sekolahnya?”.