Napas Baru Industri Keramik | Cek&Ricek wardah-colorink-your-day
Foto: Wartaekonomi

Napas Baru Industri Keramik

Ceknricek.com -- Bukan lantaran April Mop, jika kalangan industri pengguna gas menanti 1 April 2020. Pada Rabu nanti, pemerintah berjanji akan menyesuaikan harga gas untuk industri dengan Peraturan Presiden No. 40 Tahun 2016 atau sebesar US$6 per Million British Thermal Unit (MMBTU). 

Ada tujuh industri yang bakal mendapat keistimewaan. Yakni industri pupuk, industri petrokimia, industri oleochemical, industri baja, industri keramik, industri kaca dan industri sarung tangan karet.

Penurunan harga gas menjadi istimewa karena sejak Perpres itu terbit, empat dari tujuh industri tersebut belum menikmati harga gas sebagaimana diatur dalam Perpres. Industri keramik masih membayar harga US$7,7, lalu industri kaca US$7,5, industri sarung tangan karet US$9,9 dan oleokimia US$8 sampai US$10 per MMBTU. 

Angka tersebut merupakan data pemerintah. Sedangkan Pembina Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), Elisa Sinaga, mengungkapkan harga yang dibayar industri domestik jauh lebih tinggi dari itu. “Masih berada di atas 9 dollar AS per MMBTU,” ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (7/1). 

Napas Baru Industri Keramik
Sumber: Kontan

Kalangan industri keramik sudah menyampaikan keluhan, dalam berbagai kesempatan. Baru ini kali didengar. Bagi industri keramik, harga gas berkontribusi 30-35% dari total biaya produksi. Harga gas sangat mempengaruhi daya saing industri ini. 

Baca Juga: Gas Bumi dan Perpres Angin Surga

Pada saat harga gas naik sangat tinggi, kurang lebih 55% pada tahun 2013, daya saing industri keramik Indonesia langsung letoy. Sebelumnya, industri keramik nasional mampu menggenjot ekspor di atas 15% dari total produksi, dan saat ini besaran ekspor itu diperkirakan melorot di bawah 5%. Utilitas pabrik pun turun drastis dari 90% menjadi di bawah 70%.

Meski harga keramik ditentukan banyak faktor, ongkos energi untuk di pabrik keramik tetap jadi yang dominan. China, misalnya, bisa memproduksi keramik dengan sangat murah lantaran menggunakan gas dari batu bara yang harganya US$5 per MMBTU. Industri keramik China juga menikmati banyak insentif pemerintah.

Ganti Mesin 

Nah, karena itu April Mop itu benar-benar dinanti. Industri keramik pun sudah berancang-ancang untuk melakukan ekspansi jika harga gas lebih bersahabat. Asaki memprediksi penurunan harga gas pada medio semester I/2020 akan memberikan kesempatan pabrikan mengganti mesin dan mengembangkan desain. Dengan demikian, asosiasi meramalkan keramik lokal akan mampu bersaing di pasar global pada 2021-2022. 

Di dalam negeri pun industri keramik akan lebih perkasa menghadapi keramik impor. Utilitas industri keramik pun diharapkan pulih kembali. Pada 2019, utilitas industri ini berada di level 67,74% dengan total produksi sekitar 340 juta-350 juta meter persegi (square meter/sqm).

Napas Baru Industri Keramik
Sumber: Gatra

Asaki berharap tingkat utilisasi keramik nasional dapat naik secara bertahap. "Kembali dalam waktu yang tidak lama ke-90% seperti di tahun 2012-2013, pemulihan tingkat utilisasi secara tidak langsung akan menyerap jumlah tenaga kerja baru," terang Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto.

Baca Juga: Memperin Identifikasi Tujuh Masalah Industri di Indonesia

Jika utilitas pabrik keramik naik ke sekitar 85%-90%, dalam 2 tahun, pertumbuhan majemuk tahunan produksi keramik selama 2019-2021 adalah 13,73% menjadi sekitar 446,25 juta sqm.

Elisa mengatakan, penurunan harga gas dapat membuat pabrikan bernapas. Pasalnya, selisih antara biaya produksi dan harga jual hampir tidak ada. "Selama ini agak berat sekali, bertahan saja susah. Beberapa 

(pabrikan utilitasnya) turun,” ujarnya kepada Bisnis.com, Jumat (31/1).

Menurut Elisa, peningkatan efisiensi yang dihasilkan dapat mengimbangi daya saing keramik produksi India, Vietnam dan China. Jika harga gas benar-benar turun maka produksi keramik pada tahun ini diprediksi dapat tumbuh 5-8%. Angka tersebut lebih tinggi dari proyeksi akhir 2019 yang di kisaran 4%-5%.

Napas Baru Industri Keramik
Sumber: Kompas

Lebih jauh lagi, harga gas yang kompetitif juga bakal menjadi peluang industri untuk meningkatkan ekspor terutama ke Filipina, Taiwan, Korsel, Australia dan negara tetangga ASEAN lainnya.

Menurut Edy, pertumbuhan produksi keramik akan ditopang oleh permintaan keramik segmen menengah ke bawah. Pasalnya, pasar tersebut tidak tersentuh oleh keramik impor yang menyasar pasar menengah ke atas.

Kini, sejumlah pabrik keramik juga membidik sejumlah program pengembangan infrastruktur pemerintah. Pasalnya, sepanjang 2020 pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp419,2 triliun untuk membangun sejumlah proyek di antaranya rumah susun, perumahan dan bandara. 

Safeguard

Selama ini untuk menekan impor keramik China, Indonesia telah menerapkan safeguard sejak Oktober 2018. Safeguard ini berlaku selama tiga tahun dengan besaran 23% di tahun pertama, 21% di tahun kedua, dan tahun ketiga sebesar 19%. Namun tetap saja, harga keramik China masih bisa lebih murah dibanding produksi dalam negeri.

Itu sebabnya, Edy berharap, setelah harga gas turun perlu penerapan bea masuk safeguard kembali untuk mengantisipasi keramik impor. Menurut Asaki, angka impor keramik tahun 2019 diestimasikan hanya turun sekitar 20% dibanding tahun 2018. Artinya, safeguard yang mulai berlaku di bulan Oktober tahun 2018 lalu tidak terlalu signifikan menekan angka impor keramik dari China, India dan Vietnam. 

Napas Baru Industri Keramik
Sumber: Antara

Menurut  Asaki, impor keramik meningkat rata-rata 16,23% per tahun sejak lima tahun terakhir. Sebagai contoh, di tahun 2016, impor keramik tercatat sebesar 57,37 juta meter persegi. Volume impor ini naik sebesar 24,9% dibandingkan tahun 2015. Tren impor terus mengalami kenaikan. Pada tahun 2017, impor keramik naik lagi 18%. Angka itu kembali naik 18,6% pada 2018. Volume impor keramik Indonesia 80,32 juta meter persegi.

Dengan iklim usaha yang kondusif, industri keramik diharapkan bangkit kembali.  Lebih jauh lagi, investasi di industri keramik juga diharapkan juga meningkat. Asaki mencatat investasi pada industri keramik pada tahun lalu melambat, yakni Rp1 triliun. Investasi sebesar itu datang dari pabrikan tableware. Sedangkan pada tahun ini belum ada investasi baru.

BACA JUGA: Cek JURNALISTIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait