Pementasan Kursi-Kursi Teater Satu Lampung Buka FTJ 2019 | Cek&Ricek
Foto: Gigih Ibnur/DKJ

Pementasan Kursi-Kursi Teater Satu Lampung Buka FTJ 2019

Ceknricek.com -- Festival Teater Jakarta 2019 dengan tema “Drama Penonton” resmi dibuka, Selasa (12/11), lewat pertunjukan lakon Kursi-Kursi karya Eugene Ionesco oleh Teater Satu Lampung di Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pada malam pembukaan FTJ itu, Teater Satu Lampung berhasil membius penonton dalam pertunjukan berdurasi dua jam lewat kepiawaian mereka dalam menjaga intensitas di panggung dengan permainan yang apik dan mumpuni.

Kursi-Kursi mengisahkan tentang dua pasutri  berumur 80 tahun, Carel, seorang bekas ilmuwan dan Semiramis, sang istri yang hidup terpencil di sebuah rumah di bukit karang yang dikelilingi oleh lautan.

Pementasan Kursi-Kursi Teater Satu Lampung Buka FTJ 2019
Foto: Gigih Ibnur/DKJ

Rasa kesepian dan bosan membuat mereka mengenang banyak hal, baik yang sudah terjadi maupun yang pernah mereka bayangkan terjadi dalam hidup mereka.

Mereka kemudian membayangkan hal-hal yang akan terjadi apabila tamu-tamunya telah datang untuk mendengarkan sang Juru Kisah yang disewa oleh Carel untuk mendengarkan pesan-pesan penting darinya.

Namun, di tengah rasa kebosanan itu mereka memutuskan untuk mengakhiri hidup yang bertepatan dengan datangnya si Juru Kisah, meskipun ia ternyata hanya seorang tuli dan bisu.

Berbeda dari Versi Sebelumnya

Diadaptasi dan disutradarai Iswadi Pratama, lakon asli berjudul Les Chaises ini digarap dengan penekanan ke dalam bentuk dan perspektif yang sama sekali berbeda dari pementasan naskah serupa sebelumnya.

Memang, dalam sejarah di perteateran di Indonesia, naskah klasik penulis asal Rumania ini pernah juga dipentaskan oleh  Bengkel Teaater Rendra dan diadaptasi menjadi lakon Kereta Kencana, serta beberapa grup lain, seperti Studi Club Teater Bandung.

Sementara itu lakon yang dimainkan oleh Teater Satu Lampung ini dimainkan oleh 4 pasang suami istri yang masing-masing memainkan adegan berupa empat masa dalam hidup Carel dan Semiramis sebelum akhirnya keduanya bunuh diri.

Latar gagasan dalam mengadaptasi lakon ini menurut Iswadi adalah dengan menyingkirnya metafisika dari ranah filsafat, dan hanya dianggap sebagai filsafat spekulatif.

Pementasan Kursi-Kursi Teater Satu Lampung Buka FTJ 2019
Foto: Gigih Ibnur/DKJ

Baca Juga: Festival Teater Jakarta 2019 Digelar di Taman Ismail Marzuki

Sejak saat itulah ilmu pengetahuan (Barat) berkembang ke arah yang melulu positivis. Semua hal yang bersifat metafisik dianggap tak memadai lagi untuk menopang hasrat manusia akan kemajuan dan kebermaknaan hidup.

Namun di ujung perkembangannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang dibangun di atas pemikiran positivis itu terbukti gagal menjelaskan makna hidup manusia.

“Lalu absurditas bermula. Manusia hidup dalam kekeringan nilai dan terasing dari dirinya sendiri,” ujar Iswadi, seperti dikutip dari Portal Teater.

Iswadi memandang bahwa ilmu pengetahuan (juga bahasa) adalah alat yang serba-kurang dalam menuntun akal budi manusia mencapai hakikat kebenaran.

Dan di sisi lain, peradaban yang dihuni oleh manusia sudah tak lagi memiliki orbit nilai, di mana segalanya serba melayang, mengambang.

BACA JUGA: Cek SENI & BUDAYA, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.


Editor: Farid R Iskandar


Berita Terkait