Sumber: Medium

Sejarah Hari Ini: Pemindahan Ibu Kota Bandung

Ceknricek.com -- Tepat pada tanggal hari ini, 209 tahun silam, 25 September 1810, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Herman Willem Daendels memindahkan Ibu kota Kabupaten Bandung di Krapyak (sekarang Dayeuhkolot) ke kota Bandung.

Pemindahan Ibu kota ini tidak lepas dari proyek pembangunan Jalan Raya De Groote Postweg, atau Jalan Raya Pos. Daendels lalu meminta Bupati Bandung, Wiranatakusumah II, memindahkan Ibu kota Kabupaten Bandung ke sisi jalan tersebut.

Hari Jadi Kota Bandung 

Daendels tiba di Batavia pada 05 Januari 1808. Ia ditetapkan sebagai Gubernur Jenderal untuk memperkuat pertahanan Belanda di Jawa dalam rangka menghadapi Inggris yang berpusat di India.

Salah satu gebrakan awalnya adalah membangun Jalan Raya Pos, yang menghubungkan bagian barat sampai timur Pulau Jawa dengan menyusuri pesisir utara. Jalur ini menjadi penghubung, dari Anyer (Banten) sampai Panarukan (Situbondo).

Ketika pembangunan, jalur ini memasuki Jawa di bagian barat, dari Mester Cornelis atau Jatinegara, jalan itu kemudian berbelok ke selatan, menembus Puncak, melewati Bandung, berbelok lagi ke arah utara lewat Sumedang, lalu tembus lagi ke Cirebon. Dari kota ini kemudian Postweg menyusuri kota-kota di utara Jawa dan berakhir di Panarukan.

Sumber: Ayo Bandung

Baca Juga: Sejarah Hari Ini: Mengenang Tragedi Semanggi II

Bersamaan dengan itu, Daendels memerintahkan kepada beberapa Bupati untuk ikut memindahkan Ibu kota kabupaten ke dekat Jalan Raya Pos. Salah satu yang dipindahkan adalah Ibu kota kabupaten Bandung yang semula di Krapyak atau Dayeuhkolot.

Dalam proses ini, ketika Daendels mengontrol pembangunan jalan raya yang melintasi Kota Bandung tempo dulu, sampailah dia di jembatan Sungai Cikapundung (Dekat Gedung Merdeka sekarang). Jembatan tersebut sedang dirampungkan oleh pasukan Zeni Militer Belanda, yang dibantu oleh penduduk Kampung Cikapundung Kolot.

Begitu selesai pembuatan Jembatan Cikapundung, Daendels menyeberanginya dan berjalan sampai ke suatu tempat. Pada tempat itu, Daendels kemudian menancapkan tongkat kayu dan berkata, "Zorg dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd" (Coba usahakan bila aku datang kembali, di tempat ini telah dibangun sebuah kota) ucap Daendels.

Sumber: Negoribandoeng

Kini di tempat Daendels mengeluarkan perintah itu terdapat patok nol kilometer, tepatnya di sisi Jalan Asia Afrika, tak jauh dari Alun-Alun Kota Bandung. Lewat perintah yang keluar dari mulut Daendels itulah, orang kemudian bergegas membangun Kota Bandung, hingga akhirnya terbentuklah kota Bandung yang seperti sekarang.

Mengutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Bandung, perintah tersebut disampaikan lewat surat yang bertitimangsa 25 Mei 1810. Empat bulan kemudian, yakni pada 25 September 1810, tepat hari ini 209 tahun lalu, Kota Bandung resmi menjadi Ibu kota Kabupaten Bandung.

Jejak Masa Lampau

Dilansir dari wawancara terhadap Prof. Dr. A. Sobana (14/10/11), tahun 1579 kerajaan Sunda Pajajaran runtuh. Kerajaan ini kemudian diteruskan oleh Sumedanglarang dan diperintah oleh Prabu Geusan Ulun, yang Ibu kotanya Kutamaya yang terletak di sebelah barat kota Sumedang.

Sumedanglarang kemudian menjadi daerah kekuasaan Mataram pada 1620. Mataram lalu menjadikannya sebagai daerah pertahanan di sebelah barat terhadap kemungkinan serangan Pasukan Banten atau Kompeni di Batavia.

Suatu ketika Sultan Agung memerintahkan Dipati Ukur untuk membantu pasukan Mataram menyerang Kompeni di Batavia. Namun, serangan itu mengalami kegagalan. Menyadari bahwa konsekuensi kegagalan tersebut akan berbuah hukuman, Dipati Ukur kemudian memberontak pada Mataram.

Sumber: Istimewa

Baca Juga: Sejarah Hari Ini: Pecahnya Peristiwa Madiun 1948

Tahun 1632, pemberontakan Dipati Ukur berhasil dipadamkan Mataram dengan bantuan dari para pembesar Priangan yang lain, seperti Ki Astamanggala, Tanubaya, dan Ngabehi Wirawangsa. Ketiga orang tersebut kemudian diberi wilayah kekuasaan dan diangkat menjadi Bupati Bandung, Bupati Parakanmuncang, dan Bupati Sukapura.

Kabupaten Bandung berada di bawah pengaruh Mataram hingga akhir tahun 1677. Wilayah tersebut jatuh ke tangan kompeni. Di era inilah salah satu kewajiban Bupati terhadap kompeni adalah melaksanakan penanaman wajib tanaman tertentu, terutama kopi dalam sistem yang dikenal dengan nama Preangerstelsel.

Sumber: Pekab Bandung

Beberapa abad berlalu, Jalan Raya Pos kemudian dibuka pada masa pemerintahan Bupati R. A. Wiranatakusumah II. Berbarengan dengan itu pula Ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Krapyak ke Kota Bandung pada 1810. Beberapa puluh tahun kemudian, tepatnya pada 01 April 1906, status kota Bandung berubah menjadi Gemeente (pemerintah kota).

Hari itu kemudian diperingati sebagai hari Jadi Kota Bandung hingga tahun 1997. Namun, kebijakan ini kemudian kembali diubah penetapannya menjadi setiap tanggal 25 September, dengan mengacu pada hari diresmikannya Bandung sebagai Ibu kota kabupaten.

BACA JUGA: Cek OPINI, Opini Terkini Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini. 



Berita Terkait