Sumber: Merdeka

Target Mundur Proyek 35.000 MW

Ceknricek.com -- Masa jabatan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla sudah memasuki masa akhir. Target dan janji keduanya masih banyak yang menggantung. Untunglah Jokowi kembali terpilih sehingga rakyat masih memberi kesempatan baginya untuk merealisasikan janji-janji itu.

Target pemerintahan Jokowi-JK yang sudah pasti tak bakal terealisasi adalah proyek listrik 35.000 Megawatt (MW) atau 35 Gigawatt (GW). Melesetnya target listrik ini tak menjadikan suplai setrum secara nasional terganggu karena target pertumbuhan ekonomi yang 7% hanya terealisasi 5%. Ekspansi industri dan investasi juga di bawah target. Akibatnya, konsumsi listrik juga tidak terlalu besar.

Terbuktilah bahwa target 35.000 MW itu memang terlalu besar. Kemampuan pemerintah hanya 3.768 MW atau 11% dari target.

Sumber: Listrik.org

Baca Juga: 24 Juta Pelanggan Terancam Tak Dapat Subsidi Listrik 2020

Nah inilah yang menjadi bahasan serius dalam rapat Komisi VII DPR RI dengan Dirjen Ketenagalistrikan (Gatrik) Kementerian ESDM dan Plt. Dirut PLN, Selasa (10/9) lalu. Pada kesempatan itu Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Rida Mulyana, mengungkap secara rinci angka-angka tersebut. Rupanya, pihak swasta yang lelet. Sedangkan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) masih terbilang lumayan.

PLN mendominasi jumlah pembangkit yang telah beroperasi. Padahal dari total kapasitas megaproyek yang sebesar 35.463 MW itu, PLN hanya kebagian sekitar 8.800 MW, sedangkan sisanya atau sekitar 26.600 MW pembangkit milik produsen listrik swasta atau Independent Power Producer (IPP).

Jatah besar, realisasi kurang terjadi pada IPP. Dari 26.600 MW pembangkit milik IPP itu, baru sebanyak 1.392,6 MW atau 5% yang beroperasi komersial (commercial operation date/COD). Sementara itu, PLN jauh lebih tinggi yakni sebanyak 2.375,8 MW yang sudah COD.

Nah, inilah yang membuat anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi NasDem, Kurtubi, melempar kritiknya. Ia menyayangkan besarnya porsi IPP dibanding PLN. “Coba usahakan deh, PLN itu punya kemampuan lebih besar lagi membangun pembangkit listrik. IPP pasti untung besar, mestinya yang punya prospek untung prioritas pertamanya PLN dulu,” ujarnya.

Sementara itu, Tifatul Sembiring menekankan pentingnya road map dalam realisasi proyek pembangkit listrik tersebut. Legislator asal Partai Keadilan Sejahtera atau PKS yang pernah berkarier di PLN ini juga mempertanyakan berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk menyukseskan proyek Kementerian ESDM bersama PLN tersebut.

Sumber: parlementaria

Secara khusus, Tifatul menyorot pembangkit listrik geothermal atau Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) yang menjadi andalan proyek 35 GW. “Jangan terlalu ini dulu lah, yang penting ada road map-nya atau peta jalan menuju ke sana,” pesannya.

Menurut dia, potensi geothermal memang besar, masalahnya membangun geothermal itu lama. “Saya mengalami sendiri itu dulu, 5-6 tahun dibangun itu cuma mendapat 25 MW, sementara kita bicara 35.000 lho, jadi ini akan pakai apa dibangunnya,” katanya.

Mundur Lagi

Rida Mulyana menjelaskan, Kementerian ESDM memperkirakan sebagian besar megaproyek 35.000 MW akan COD pada rentang waktu 2025 hingga 2028.

Target ini dipasang dengan pertimbangan bahwa pada saat ini, sudah sebanyak 21.992,1 MW atau 62% pembangkit melakukan konstruksi. Sedangkan sebesar 7.515,1 MW atau 21% pembangkit menyelesaikan pembiayaan atau financial close. Lalu, sekitar 1.453 MW atau 4% yang melakukan perencanaan. Sisanya, yakni 734 MW atau 2% pembangkit yang melakukan pengadaan.

Sumber: Jawapos

Menurut Rida, dengan beroperasinya seluruh megaproyek 35.000 MW tersebut, nantinya kapasitas terpasang pembangkitan pada 2028 akan mencapai 97,5 GW.

Pemerintah telah melakukan monitoring dan evaluasi setiap empat bulan melalui rapat koordinasi dengan PLN untuk menginventarisasi kendala. "Kendala yang di luar kendali PLN, Ditjen Ketenagalistrikan akan membantu fasilitasi penyelesaiannya dengan mempertemukan stakeholders terkait," kata Rida.

Baca Juga: Insiden Pemadaman Listrik, Apa Dampaknya Pada Platform Digital? 

Kabar baiknya lagi, pada Oktober 2019 akan ada dua pembangkit PLN yang akan beroperasi komersial. Dua pembangkit tersebut yakni PLTU Jawa 7 dan PLTU Cilacap. Pada pekan lalu, PLN juga menandatangani kontrak pembangunan tiga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Selain itu, penguasa setrum ini juga menandatangani satu pembangunan gardu induk.

Ada pun proyek pembangunan yang ditandatangani PLN adalah PLTU Sulut-1 kapasitas 2x50 MW, PLTU Timor-1 kapasitas 2x50 MW, dan PLTU Palu-3 kapasitas 2x50 MW serta proyek Gardu Induk 500 kV Muara Karang Baru. Ketiga pembangkit tersebut merupakan bagian dari proyek pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan 35.000 MW.

Sumber: Kontan

Kontrak pembangunan tiga PLTU dan satu gardu induk tersebut mencapai lebih dari Rp12 triliun. Pembangunan tiga pembangkit itu untuk meningkatkan rasio elektrifikasi di Indonesia, khususnya di wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara.

Sedangkan pembangunan GIS 500 kV Muara Karang Baru yang merupakan bagian dari jaringan transmisi 500 kV Jakarta Looping dilakukan untuk mendukung dan meningkatkan kehandalan sistem kelistrikan DKI Jakarta dan sekitarnya.

Konsumsi

PLN menargetkan konsumsi listrik pada 2019 sebesar 248,8 TWh dengan pertumbuhan tahunan sebesar 7,06%. Sedangkan untuk target penambahan pelanggan berada di angka 3.832.878 pelanggan.

Sumber: pjbbisnis

Baca Juga: Mati Lampu Lagi, Main Lobi, dan Monopoli

Bertambahnya jumlah pelanggan ini mendorong kenaikan rasio elektrifikasi nasional menjadi 98,3%, lebih tinggi dari target sebesar 97,5%. Selain naiknya pendapatan dari penjualan tenaga listrik, tahun lalu pendapatan dari penyambungan pelanggan dan lain-lain juga ikut meningkat.

Menurut PLN, konsumsi listrik sepanjang kuartal I 2019 mencapai 78,18 TeraWatthour (TWh). Dari jumlah tersebut, sektor rumah tangga menjadi konsumen setrum terbesar yakni 48,85%. Sedangkan sektor industri sebanyak 32,44%. Lalu sektor bisnis sebesar 18,23% dan 7,48% tersebar di pelanggan sosial dan publik.

Hingga akhir tahun 2018, jumlah pelanggan PLN mencapai 71.597.310 pelanggan. Sementara konsumsi listrik pada tahun 2018 tercatat sebesar 232,43 TWh.

Hingga Kuartal-I 2019, PLN berhasil meraup tambahan 1.161.043 pelanggan. Sehingga, jumlah pengguna setrum PLN yang tercatat sampai April 2019 adalah sebanyak 72.758.353 pelanggan.

Pada tahun ini, PLN akan menggenjot jumlah penambahan pelanggan dan konsumsi listrik dengan mengoptimalkan serapan setrum pada tiga lini konsumsi. Yakni dari kendaraan listrik, kompor listrik induksi dan juga dari pemakaian listrik di pabrik pemurnian dan pengolahan mineral (smelter).

BACA JUGA: Cek Berita SELEBRITI, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini.



Berita Terkait