Trem Baterai Wireless Charging INKA Selesai Diproduksi

Ceknricek.com - PT Industri Kereta Api (Persero) Tbk atau INKA telah berhasil membuat sebuah trem terbaru. Tak sembarang trem, hasil produksi pabrik Madiun, Jawa Timur ini ditenagai dengan baterai, tidak menggunakan Listrik Aliran Atas (LAA) seperti pada umumnya.

Dilansir dari Kumparan, Direktur Utama INKA Budi Noviantoro menyampaikan produk trem terbaru ini sangat ramah lingkungan. Selain itu, trem juga sangat fleksibel karena dapat melewati jalur lengkung hingga 20 meter.

"Jadi saya harapkan nanti kira-kira awal Desember sudah bisa dicoba ya," ucap Budi, di Stasiun Madiun, Jawa Timur, Rabu malam (7/11).

Budi juga menyatakan bahwa trem terbaru INKA ini lebih murah untuk pembangunan prasarana.

“Ini (trem baterai) jadi murah karena kalau trem itu (trem listrik) kana da yang harus bangun listrik di atas, mahal. Kalau ini engga ada apa-apanya,” tambahnya. 

Trem produksi INKA juga dinilai Budi lebih ramah kepada penumpang. Faktor kemudahan akses naik dan turun untuk penumpang telah diperhitungkan dengan baik.

Selain itu, trem juga menjadi alat transportasi yang tidak bising dan hemat biaya operasional.

“Ini nanti kalau udah jadi, enggak akan ada suaranya, mirip golf car. Ngecasnya hanya 15 menit. Perbandingan biaya operasional jauh lebih murah karena kita enggak pakai listrik, kabel-kabel di atas,” pungkas Budi.

 

Menggunakan Wireless Charger 

Beberapa bulan sebelumnya, Budi mengungkapkan bahwa produksi trem terbaru ini menggandeng pabrik Bombardier untuk teknologi wireless charger.

“Ini nanti hanya pakai charger, nanti kita pakai wireless charger. Kita searching dengan teman-teman, Bombardier punya teknologi dan kita akan kerja sama," kata Budi, Senin (27/8).

Budi menyampaikan bahwa teknologi kelistrikan third rail tidak digunakan pada trem terbarunya. Sebelumnya, LRT Palembang yang diproduksi INKA menggunakan third rail untuk menyalurkan energi listrik di bawah rel. 

"Saya enggak perlu masang third rail. Jadi nanti pakai quick charger, wireless charger untuk bisa nyetrum. Berhenti, nyetrum, 2 menit jalan lagi," imbuhnya.

INKA menjamin tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) untuk memproduksi trem ini lebih tinggi dari komponen impor. Ia menargetkan TKDN hingga 90 persen.

"Hanya baterai dan roda saja (impor), inverter dan segala macam sudah pakai lokal. Ini kalau jalan, ini trem merah-putih," jelas Budi.


Pengembangan Kereta Cepat 

Tak hanya pengembangan trem, INKA juga tengah mengembangkan kereta cepat. Bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan perguruan tinggi nasional, INKA membuat blue print produksi kereta cepat. INKA memberi nama ‘kereta cepat merah-putih’. 

“Target kita di 2025 ini,” ucapnya.

BPPT membantu menyediakan fasilitas uji coba kereta cepat untuk mendukung proses pengembangan. Untuk melakukan uji coba, diperlukan test track sepanjang 50 km.

"Kami dibantu pemerintah diberi fasilitas testing uji yang diletakkan di BPPT, kemudian nanti juga harus ada test track sepanjang 50 km untuk bisa menguji kereta yang kita buat," paparnya. 

Budi meyakinkan tidak ada kendala dalam pembuatan teknologi kereta cepat. Ia menilai teknologi High Speed Railway masih di bawah teknologi kereta LRT Jabodebek yang dibangun INKA.