Vaksin China dan Game Theory Erick Thohir | Cek&Ricek
Foto: Ashar/Ceknricek.com

Vaksin China dan Game Theory Erick Thohir

Ceknricek.com -- Vaksin anti Covid-19 buatan China sekarang sedang diujicobakan kepada "manusia percobaan" di Indonesia.

Dibutuhkan 1.620 manusia yang rela untuk jadi percobaan. Sampai sejauh ini belum separuh dari jumlah itu yang didapat.

Tentu tidak mudah mencari manusia yang rela jadi ajang ujicoba vaksin, karena tidak semua orang boleh menjadi ajang ujicoba, dan memang ada risiko-risiko yang harus ditanggung bagi yang mau jadi ajang ujicoba.

Menteri BUMN Erick Thohir, yang notabene sekarang menjadi panglima di palagan perang lawan pandemi ini, terang-terangan menolak untuk jadi ajang ujicoba. Erick mempersilakan rakyat dulu yang jadi ajang ujicoba.

Untunglah ada Ridwan Kamil, gubernur Jawa Barat yang menyatakan siap jadi manusia percobaan dalam ujicoba yang dipusatkan di Bandung itu. Sebagai tuan rumah yang baik Emil harus memberi contoh kepada rakyatnya.

Akan halnya Erick yang menolak jadi manusia percobaan tentu hal yang wajar juga, karena sebagai manusia VVIP di Indonesia keselamatan dan keamanan Erick harus diutamakan. Karena itulah dia mempersilakan rakyat duluan yang disuntik vaksin.

Erick cerdas dan pintar. Itu dibuktikannya saat menjadi nakhoda konglomerasi bisnis Mahaka Group yang merambah berbagai bidang mulai dari tambang, media, sampai bisnis olahraga. Dari Jakarta sampai ke Milan, Italia. Imperium bisnis mengglobal ke seluruh dunia.

Erick juga manusia multi-talenta. Sebagai ketua KOI (Komite Olimpiade Indonesia) ia sukses menjadi penaja perhelatan Asian Games 2018. Pesta pembukaan dan penutupannya meriah, gegap gempita. Indonesia juga sukses menjadi empat besar pengumpul medali emas tertinggi dengan 31 emas di bawah China, Jepang, dan Korea Selatan.

Erick juga membuktikan punya keterampilan politik level dewa ketika sukses menjadi ketua tim pemenangan nasional Joko Widodo-Makruf Amien dalam pemilihan presiden 2019. Menghadapi pasangan Prabowo-Sandi Uno yang populer, Erick bisa mengorkestrasikan kiat-kiat politik canggih hingga bisa memenangkan pertempuran politik besar itu.

Baca juga: WHO: Vaksin Korona Harus Jadi Barang Publik Global

Sukses di Pilpres dan sukses di Asian Games membuat Erick diganjar jabatan strategis sebagai menteri BUMN (Badan Usaha Milik Negara) yang total asetnya mencapai 3.500 triliun hampir dua kali lipat APBN. Konco Erick, Wishnutama Kusubandio, yang menjadi ujung tombak perhelatan Asian Games, juga ketiban pulung diangkat menjadi menteri pariwisata.

Erick makin meroket dan menjadi orang kepercayaan Presiden Jokowi. Ketika Indonesia babak belur dihantam pandemi dan ekonomi nasional mengalami resesi, Jokowi berpaling kepada Erick untuk sekali lagi memainkan jurus-jurus dewa untuk sekaligus melibas pandemi dan resesi ekonomi.

Ini bukan manusia sembarangan. Ini manusia langka, super aset nasional yang harus dilindungi. Belum lagi nanti di pengujung masa bhakti Jokowi pada 2024. Erick bisa muncul sebagai salah satu calon presiden atau wakil presiden. Siapa tahu? Tidak pernah ada kata mustahil dalam politik.

Orang sehebat ini tidak boleh diekspos oleh risiko-risiko yang tidak perlu. Dia harus mendapat full protection, perlindungan menyeluruh. Karena itu orang sejenis ini tidak boleh menjadi manusia percobaan untuk disuntik vaksin anti Covid-19 buatan perusahaan Sinovac dari China itu.

Rakyat boleh dijadikan ajang uji coba. Kalau nanti ada bahaya apapun risiko bisa diantisipasi.

Manusia percobaan ini akan menjadi ''Canary in a Coalmine", burung kenari di dalam tambang batubara, yang tugasnya mendeteksi gas berbahaya. Kalau gas itu muncul, sistem pernapasan burung kenari yang unik akan cepat mendeteksi dan burung kenari itu akan pingsan dan mati.

Ketika kenari mulai pingsan, para penambang punya kesempatan untuk menyelamatkan diri. Kenari pingsan dan mati, para penambang akan selamat.

Karena itu ujicoba vaksin ini tidak boleh gegabah. Risikonya terlalu berbahaya. Erick yang cerdas tahu hal itu. Sebagai pengusaha berpengalaman Erick menguasai "game theory", teori permainan.

Dalam teori permainan itu masing-masing pemain menghitung dengan cermat langkah-langkah yang diambil oleh pemain lainnya sebelum memutuskan mengambil langkah strategis.

“Game theory” awalnya adalah teori matematika. Tapi kemudian populer dan dipakai di semua bidang, termasuk bisnis. Pengusaha seperti Erick pasti menguasai dan hafal di luar kepala teori ini. Untung dan rugi, risiko dan manfaat, semua bisa dikalkulasi dengan teori permainan.

Baca juga: Erick Tohir: Chloroquine dan Avigan Siap Disuplai Jika Dibutuhkan

Dalam dunia vaksinasi, teori permainan ini juga diterapkan. Di negara-negara maju seperti Inggris, proyek vaksinasi dihitung dengan cermat memakai model teori permainan.

Kalau seseorang mengetahui bahwa ia akan memperoleh kekebalan secara cuma-cuma tanpa harus menjalani vaksinasi karena semua teman di lingkungannya sudah divaksinasi, maka tentu ia akan menolak divaksinasi.

Orang-orang lain di dalam kelompok itu juga berpikiran yang sama, karena itu masing-masing orang akan mempertahankan diri untuk tidak divaksin dengan harapan agar orang lain saja yang menjalaninya.

Manusia super VVIP seperti Erick tentu pegang kartu turf. Dia tidak perlu ikut terlibat dalam “game theory”. Karena itu Erick mengatakan biar rakyat saja yang bertarung dalam teori permainan.

Dalam penerapan vaksinasi massal “game theory” ini memainkan peran penting. Pemerintah harus memahami teori ini supaya vaksinasi bisa efektif menjangkau jumlah yang dibutuhkan.

Dalam teori herd immunity atau kekebalan kelompok, setidaknya 60 persen populasi harus mendapatkan kekebalan supaya seluruh kelompok menjadi kebal. Kalau kekebalan itu akan dicapai melalui vaksinasi massal di Indonesia maka setidaknya 150 juta orang harus divaksinasi.

Ini proyek raksasa yang masif dan lukratif. Kalau ujicoba vaksin ini sukses, maka vaksin akan diproduksi massal. Bisa kita bayangkan berapa banyak yang akan diproduksi, dan berapa banyak uang yang akan dihasilkan.

Erick Thohir pasti menjilat bibir melihat prospek ini. (*)

BACA JUGA: Cek POLITIK, Persepektif Ceknricek.com, Klik di Sini


Editor: Prasetyo Agung G


Berita Terkait