Foto: Bisnis.com

Awas, Indonesia Makin Tua

Ceknricek.com -- Indonesia secara bertahap menjadi lebih tua. Jangan kaget, tahun 2019 berjalan penduduk lansia Indonesia sudah mencapai 25,9 juta (9,66 persen dari jumlah penduduk). Tahun depan warga lansia diperkirakan akan bertambah menjadi 27,09 juta (9,99 persen). Membaiknya pelayanan kesehatan dan gizi telah memperpanjang usia harapan hidup warga. Namun bertambahnya warga lansia, jika tidak ditangani secara sistematis dalam pendidikan dan kesehatannya sejak dini (muda) bisa memberatkan anggaran belanja negara kelak.

Maklum, seiring dengan menurunnya kekuatan pisik dan aktivitas sosial, warga lansia akan digerogoti penyakit degeneratif: hipertensi, kencing manis, alzhemeir, serangan jantung koroner, atau penyakit paru abstruktif kronis (PPOK). Penanggulangan penyakit ini, setelah sebagian besar warga dilindungi melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), memakan biaya APBN cukup besar. Indonesia kini jadi negara dengan pertumbuhan lansia tertinggi, dan berada pada urutan ke 10 sebagai negara yang memiliki banyak lansia.

Sumber: Indonesia Inside

Menjadi tua sebenarnya hal lumrah mengikuti kodrat ilahi. Menurut Peraturan Pemerintah No. 43 tahun 2004, seseorang disebut lansia jika umurnya sudah melampaui 60 tahun. Sebuah bangsa dikatakan menua jika populasi warga lansianya berada di atas angka 7 persen dari total penduduknya. Tahun ini dengan populasi warga lansia sudah mencapai 9,66 persen, maka tepat dikatakan bangsa Indonesia kini sudah menua.

BPS yang setiap tahun membuat survai Statistik Penduduk Lanjut Usia, memperkirakan pada tahun 2045 populasi lansia Indonesia akan mencapai 63,31 juta (hampir 20 persen dari jumlah penduduk); bahkan pada 2050, PBB memproyeksikan populasi lansia Indonesia akan mencapai 25 persen atau sekitar 74 juta orang. Kenaikan lansia yang demikian cepat merupakan hasil dari perbaikan pelayanan kesehatan, kehidupan yang lebih baik terutama dari generasi milenial yang lahir tahun 1980-99--sebagai bagian dari bonus demografi.

Sumber: Kemenkes

Jika sejak dini, negara tidak menyiapkan sistem sosial dan pendidikan lebih baik, terutama bagi generasi milenial, maka penduduk lansia yang sebelumnya akan mencapai 48,2 juta (15,8 persen dari penduduk) pada 2035, justru akan menjadi beban berat negara, terutama dalam masalah pelayanan kesehatan dan kesejahteraan. Usaha menyiapkan sistem sosial dan pendidikan lebih baik itu sudah digaungkan pada peringatan Hari Lansia Nasional 29 Mei tahun lalu, namun hingga kini pemerintah tampaknya belum tergugah.

Padahal dari hasil Survei Statistik Penduduk Lanjut Usia sejak 2014 hingga 2018, BPS sudah menyalakan lampu kuning mengingat profil lansia yang tercatat hingga tahun 2017 sungguh memprihatinkan. Hampir separuh (48,91 persen) dari populasi lansia pada 2017 memiliki keluhan mengenai kesehatannya. Sekitar 26,72 persen di antaranya menderita sakit. Tahun 2015, saat Survai Sosial Ekononomi Nasional (Susenas) 2015, lansia yang dirawat di rumah sakit lebih dari tiga minggu, jumlahnya 14,5 persen. Kementrian Kesehatan menyebut, angka itu cukup besar.

Selain masalah kesehatan, lansia juga menghadapi problem kelangsungan hidup. Pada Susenas BPS 2014 itu ditemukan rasio ketergantungan lansia 12,71 yang menunjukkan setiap 100 warga produktif harus menanggung hajat hidup hampir 13 warga lansia. Tahun 2018 lalu, setiap 100 warga produktif harus menanggung 15 warga lansia. Di perdesaan rasio ketergantungannya lebih tinggi dibandingkan di perkotaan; sementara lansia perempuan ketergantungannya lebih tinggi dibandingkan lansia lelaki.

Menurut BPS, selama kurun waktu hampir 50 tahun (1971-2018), penduduk lansia Indonesia meningkat hampir dua kali lipat. Tahun 2018 lalu, penduduk lansia tercatat 24,49 juta (9,27 persen). Mayoritas (63,39 persen) dari mereka dikategorikan sebagai lansia muda (60-69 tahun)--dengan dominasi generasi baby boomers (lahir awal 1950-58). Selebihnya lansia kelompok madya (70-79 tahun) dan lansia tua (80+ tahun).

Jika dilihat populasi lansia pada setiap provinsi maka pada tahun 2017, Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada urutan pertama: 13,81 persen penduduknya adalah lansia. Urutan kedua dan ketiga masing-masing: Jawa Tengah (12,59 persen) kemudian Jawa Timur (12,25 persen). Secara berseloroh Jogja sering digelari sebagai kota pensiunan di samping kota pelajar. Sementara itu, tiga provinsi berikut populasi lansianya cukup rendah: Papua (3,2 persen), Papua Barat (4,33 persen), dan Riau (4,35 persen).

Sumber: Republika

Menurut penelitian, sekitar 56 persen lansia berpendidikan hanya sampai Sekolah Dasar--bahkan, menurut survai BPS 2017, sekitar 19,4 persen tidak pernah bersekolah. Pada Susenas 2014, ditemukan 21,03 persen lansia tidak bisa membaca dan menulis. BPS menemukan, angka melek huruf (AMH) cenderung stagnan 78 persen pada lima tahun terakhir. Mayoritas lansia buta huruf itu tinggal di perdesaan (dengan lansia perempuan lebih besar).

Beruntung untuk mereka yang tidak mampu, tetap bisa mengakses jaminan kesehatan yang disediakan BPJS Kesehatan (ke Puskesmas, atau rumah sakit rujukan berikutnya), berkat pemerintah pusat bersedia menanggung iuran bulanan mereka. Toh, menurut survei BPS, lansia yang memiliki perlindungan jaminan kesehatan hanya 63,24 persen; sedang yang memiliki jaminan sosial baru 12,63 persen.

Sumber: Liputan 6

Yang memprihatinkan dan perlu penanganan serius, pada Susenas 2015, BPS menemukan sekitar 2,1 juta lansia hidup terlantar, dan hampir 5,2 juta lansia hampir terlantar akibat tidak bisa memenuhi kebutuhan sendiri. Mereka hidup sebatang kara (tidak punya sanak saudara) atau ada kerabat, namun mereka tak mau mengurusnya. Dalam angka Susenas 2014, sejumlah 9,66 persen lansia ditemukan tinggal sendirian di rumah milik sendiri, dan harus memenuhi semua kebutuhan makan, kesehatan, dan aktivitas sosialnya secara mandiri.

Potret suram itu perlu menjadi pelajaran bagi generasi milenial untuk menyiapkan bekal menyongsong masa tua dengan hidup berimbang secara sehat, dan memiliki sumber pendapatan tetap (passive income) sekalipun kelak sudah pensiun. Mereka inilah yang akan menopang maju mundurnya Indonesia, dan diharapkan bisa mandiri, tidak tergantung pada warga yang lebih muda mengingat pendidikan mereka lebih baik. Karenanya menjadi lansia tidak harus sengsara, dan sebatang kara.

*Penulis wartawan senior, pernah bekerja di Majalah Tempo dan Editor di Jakarta



Berita Terkait