Bikini dan Burkini: Sama Fungsi Beda Tampilan | Cek&Ricek wardah-colorink-your-day
Foto: Istimewa

Bikini dan Burkini: Sama Fungsi Beda Tampilan

Ceknricek.com--Awalnya "bikini" bukanlah pakaian renang yang menampakkan tubuh pemakainya (biasanya perempuan) semaksimal mungkin, melainkan nama pulau di Pasifik. Sedangkan "burkini" bukanlah pakaian yang menutupi seluruh muka perempuan (Muslim) yang memakainya (yakni burka/burqa), melainkan pakaian renang yang menampakkan seminimal mungkin tubuh pemakainya - biasanya hanya wajah, kedua belah tangan dan kaki - hanya itu.

Dan yang namanya "burkini" ini ternyata dapat menggeramkan bahkan pengadilan di Prancis yang melarang perempuan Muslim atau siapa pun mengenakannya ketika akan berkecimpung di kolam renang umum. Prancis memang selama ini ditengarai sangat geram terhadap bukan saja Muslim melainkan juga Islam, meski kenyataannya di negara Napoleon itulah terdapat terbanyak Umat Islam dibanding dengan negara-negara Eropa lainnya.

Prancis pernah mengusulkan agar Islam "direformasi" seperti halnya Gereja Katolik yang "direformasi" oleh Martin Luther (dari Jerman) di abad ke-16. Seorang peneliti senior dari Brookings Institute di Amerika, Shadi Hamid dalam bukunya "Islamic Exceptionalism", bertanya: "Apanya (dari Islam) yang harus direformasi?"

Kembali ke soal kegeraman Prancis terhadap Muslim dan Islam (?) di Australia keadaannya berbeda karena Muslimah (perempuan Muslim) bebas mengenakan burkini untuk bukan saja berenang di laut melainkan juga di kolam renang umum. Bagi seorang Muslimah di Australia yang risau dengan kian marak dan meradangnya Islamofobia di banyak negara di dunia, bahkan sampai batas-batas tertentu juga di sebagian negara Muslim sendiri, maka keberadaan burkini dan kebebasan mengenakannya dapat barangkali menghiburnya untuk menyejukkan diri di dalam air asin laut yang dipercaya berkhasiat atau di air kolam renang yang terjamin kebersihannya karena bahan kimia klorin (kimia yang menghambat pertumbuhan serta membasmi bakteri dan berbagai jenis mikroba).

Para Muslimah Australia di Sydney yang menamakan diri mereka sebagai "Si Mungil Burkini" sudah sejak lama melakukan latihan renang, meski mereka harus bangun di pagi buta (tentu alasan utamanya bangun begitu dini adalah untuk salat subuh) lalu langsung terjun ke laut. Salah satu alasan kelompok ini terbentuk adalah sebagai lambang ketersengatan mereka oleh Islamofobia yang kian menjadi-jadi hingga terkesan seolah mencari-cari celah untuk menghantam apa saja yang Islami.

Muslimah yang memprakarsai "Si Mungil Burkini" Yusra Metwally, kepada media di Australia mengaku tidak pernah terlintas di pikirannya untuk membentuk suatu kelompok seperti "Si Mungil Burkini": kalaulah bukan karena kian gencarnya Islamofobia di banyak tempat. "Sebenarnya kami ini hanyalah sekelompok perempuan muda yang ingin berenang, dan semakin banyak yang diketahui oleh masyarakat tentang kami (sebagai Muslimah) maka semakin sadarlah mereka tentang keanekaan dalam masyarakat Australia yang semoga akan mengubah pandangan mereka, hingga akhirnya menyimpulkan bahwa kami ini hanyalah sekadar salah satu bagian dari masyarakat ini," katanya menjelaskan.

Para Muslimah ini tidak segan-segan menyebut kegiatan mereka di pantai kota Sydney itu sebagai suatu revolusi. Kehadiran para Muslimah itu di pantai kota Sydney, lengkap dengan burkini masing-masing ternyata mendapat sambutan hangat dari para pengunjung pantai lainnya.

Burkini adalah hasil karya perancang pakaian wanita Aheda Zanetti dan selama ini telah berhasil menjual sampai 700-ribu helai kepada pembeli di berbagai penjuru dunia. Ternyata bukan semua pembelinya adalah Muslimah. Di sini terlihat hikmah dari burkini yang dimaksudkan untuk menutupi tubuh pemakainya semaksimal mungkin.

"Kami," kata Aheda kepada media di Australia, "Mendapat banyak pertanyaam dari perempuan-perempuan non-Muslim yang baru sembuh dari penyakit kanker."

Ternyata banyak masalah kesehatan yang membuat seorang perempuan non-Muslim tidak dapat atau segan dan enggan menjalani gaya hidup semaksimal mungkin. Banyak perempuan non Muslim yang girang karena akhirnya ada yang menjual pakaian renang yang dapat membuat mereka kembali berkecimpung dalam air di tempat umum, seperti laut dan kolam renang.

"Ada rasa bebas merdeka yang dialami baik non-Muslim maupun Muslimah. Kenapa seseorang (perempuan) harus dinilai berdasarkan keyakinannya, kalau ia memilih untuk 'menjaga kehormatannya' ketika menikmati rekreasi seperti berenang di tempat umum?" Begitu kira-kira pertanyaan mereka.

Tidak sedikit perempuan, non-Muslim mau pun Muslimah, yang enggan menampakkan, misalnya lengan mereka, atau paha mereka di depan umum, karena penyakit atau kecelakaan telah merusak kulit mereka hingga mereka enggan atau malu untuk menampakkannya kepada orang lain. Namun berkat burkini, mereka bebas berkecimpung di tepi pantai atau di kolam renang umum. Di Australia banyak kolam renang umum yang menyediakan waktu khusus bukan saja untuk perempuan (termasuk Muslimah) melainkan juga untuk kaum lelaki yang merasa lebih nyaman berenang tanpa kehadiran perempuan di sekitar mereka.

Burkini dan hijab sempat menjadi perhatian (dan keterpesonaan) banyak orang ketika seorang peragawati Muslimah asal Afrika, Halima Aden, ditampilkan majalah olahraga Amerika, "Sports Illustrated". Kata banyak pengamat penampilan Halima itu telah mengubah banyak pandangan dan mengikis banyak prasangka tentang Islam, Muslim, Muslimah dan hijab. Kebetulan dalam TimNas sepakbola Australia, The Socceroos, yang baru-baru ini, di luar dugaan dan perkiraan banyak pakar, berhasil kembali maju untuk ke-5 kalinya ke babak final 32 besar Piala Dunia di Qatar November dan Desember mendatang, terdapat sejumlah pemain Muslim.

Bukan itu saja, melainkan juga dalam Pesta Olahraga Negara-Negara Persemakmuran Inggris di Birmingham, Inggris, kelak tahun ini, Australia, dalam cabang olahraga tinju, akan diwakili, antara lain oleh Tina Rahimi, yang akan tampil lengkap dengan hijabnya di gelanggang pertarungan. Atas kemauannya sendiri! Tanpa paksaan! Semoga Tina berhasil menggondol medali. Allahu a'lam.


Editor: Ariful Hakim


Berita Terkait